Misi Penaklukan Rendi

1197 Kata
Sepeda motorku sampai di sebuah rumah dengan pagar orange. Seseorang di dalam sana mengintip-ngintip dari sela-sela gerbang pintu pagar. Pintu gerbang itu pun dibuka olehnya. Shela pun turun dari sepeda motor. "Udah pake motor sport keren masih aja lama, huuu," seru Eby yang keluar dari dalam gerbang. "Yang penting kan bidadari cantikku ini sampai dengan selamat," "Cii elahhh, bidadari? bidadari dari hongkong? hahahaha," ledek Eby sambil mendorong bahu Shela. "Ehh ayo malah diem di sini. Motor lu parkir aja di dalam," Eby mengajak kami masuk. "Sory Bi, gue langsung pergi kok," Eby berhenti membuka lebar gerbang pintu. "Serius gak mampir dulu? Gue habis masak enak loh. Si Rendy juga udah di dalam tuh," Eby mengedipkan mata genitnya berkali-kali. "Sore ini Rian ada jadwal latihan Karate," ujar Shela. "Widih, keren juga pacar lu Shel. Ntar ajarin gue Karate juga ya Rian, buat ngehajar cowok-cowok yang sering PHP. Hahahaha," "Lah, tanpa karate pun semua cowok kan emang takut ama lu," ledek Shela. Eby kembali mendorong Shela. "Ohh. Mentang-mentang udah punya pacar? Gak inget, lu kan lebih galak dari gue kalo lagi dideketin cowok," Shela mendorong Eby dengan bahunya. Bakal makin lama aku di sini mendengar ocehan Eby. "Gue jalan dulu ya Bi. Jagain bidadari gue yaa?," aku pun menyalakan mesin motor. Eby mengangkat tangan kanannya di atas kepala. "Siaap pak komandan. Bidadarinya akan kami jaga dengan baik," Wajah Shela memerah merona. "Apaan sih kalian," "Aku pergi dulu yaa. Ntar aku jemput lagi," aku menatap wajah Shela. "Iya, hati-hati. Jangan kemaleman jemputnya," *** Sepeda motorku melaju meninggalkan rumah Eby. Aku menuju ke sebuah Dojo untuk latihan Karate. Setiap Kamis sore aku latihan di sini. Sejak kelas satu SD aku sudah diperkenalkan seni olahraga bela diri satu ini oleh papa. Dan sejak saat itu hingga sekarang aku rutin latihan di Dojo dan telah mencapai sabuk hitam, tingkatan tertinggi pada bela diri Karate. Aku juga telah menorehkan sejumlah prestasi pada bidang ini dengan memenangi turnamen Karate mewakili Dojo. Seperti biasa aku disambut hangat oleh anak-anak Dojo. Selain latihan untuk persiapan Turnamen, aku dan beberapa anak yang setingkat denganku juga sudah diberi tanggung jawab oleh Sensei untuk melatih anak-anak yang masih pada tingkatan sabuk putih sampai sabuk coklat. Dan untuk hari ini aku ditugaskan untuk melatih anak-anak sabuk putih. Terdiri dari anak-anak usia 7-12 tahun. "Selamat datang Senpai," mereka menyambutku dengan posisi berdiri tegap sambil mempertemukan tangan kanan yang dikepal dengan telapak tangan kiri, sebuah gerakan penghormatan pada Karate. Mereka juga telah berbaris rapi, bersiap untuk aku latih. Hampir 2 jam lamanya aku mengajarkan beberapa gerakan dan teknik-teknik dasar pada para bocah itu. Dan diakhiri dengan latihan sparring sesuai dengan usia mereka. Usai melatih para junior, aku pun lanjut latihan bersama Sensei dan para Senpai yang setingkat denganku. Kami bersiap mengikuti turnamen yang tidak sampai sebulan lagi akan digelar di Istora Senayan. Turnamen yang akan mempertemukan seluruh Dojo se-Asia Tenggara. *** Hari sudah memasuki waktu senja. Aku meninggalkan Dojo dan bergegas menuju rumah Eby untuk menjemput sang pujaan hati. Semoga saja belajar kelompoknya sudah selesai. Karena aku malas melihat wajah si Kaca Mata Tebal lama-lama, tatapannya benar-benar bikin emosi. Aku menekan bel di pintu gerbang rumah Eby. Tak lama berselang pintu gerbang itu pun dibuka. Wajah Eby, Shela dan si Kaca Mata Tebal muncul dari balik pintu gerbang yang bergeser itu. "Si pangeran akhirnya tiba. Nih bidadarinya saya kembalikan dengan utuh, sehat dan kenyang yaa," suara cempreng menusuk Eby menyambut kedatanganku. "Aku pulang yaa teman-teman," Shela melambaikan tangannya ke Eby dan Rendy. "Iya hati-hati," kata Eby. "Oke Shel. Eh gue juga mau langsung balik ya By," si Kaca Mata Tebal ini kok kayak ramah banget yaa kalau sama Eby dan Shela. Aku pikir dia orangnya memang gak bisa senyum seperti saat melihatku. Seperti dugaanku. Ketika matanya menoleh ke arahku, senyumnya seketika hilang berubah menjadi tatapan sinis. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Shela naik ke motorku. "Kita jalan yaa," ucapku yang hanya direspon oleh Eby. *** "Si Rendy itu kayaknya gak suka dengan aku. Apa dia menyimpan perasaan sama kamu yaa sampai sikapnya begitu?," ucapku pada Shela di atas motor saat perjalanan pulang. "Kamu ngomong apa sih? Mana ada si Rendy kayak gitu. Kan udah Eby bilang kemarin ke kamu si Rendy itu orangnya pendiam. Dia memang agak susah berkomunikasi dengan orang baru, tapi aslinya dia baik kok," Shela malah seakan membela sahabatnya itu. Aku juga sebenarnya introvert kayak si Rendy tapi nggak gitu-gitu amat kali. "Dari kemarin sampai tadi aku berusaha ramah tapi tatapannya ke aku kok masih kayak gitu? Kamu sadar gak sih?," Tangan Shela memeluk tubuhku erat dari belakang. "Maafin teman aku yaa. Aku yakin kok lama-lama kalian bakal berteman juga. Kamu yang sabar yaa," Emosiku perlahan reda. Aku berusaha mengikuti keinginan Shela. Berpacaran dengan Shela berarti aku harus masuk dalam kehidupannya. Berteman dengan sahabatnya, termasuk si Kaca Mata Tebal yang menyebalkan itu. *** Sejak saat itu aku mulai berusaha agar bisa akrab dengan si Rendy. Setiap kali Shela, Eby, dan Rendy belajar kelompok aku sering mengantar mereka beragam cemilan hingga dessert. Aku bahkan tak ragu mengajak Rendy main ketika mereka selesai belajar kelompok. "Aku balik duluan yaa," Shela berpamitan pada Eby dan Rendy. "Hey Ren, kalo kamu ada waktu ikut ke rumahku yuk. Kita main PS bareng," wajah Rendy terlihat tegang, dia sepertinya kaget mendengar ajakanku. "Pergi aja sono. Dari pada lu bengong di rumah," seru Eby. "Emmm, anu, gue masih mau selesaiin bacaan kemaren," jawab Rendy terbata-bata. "Yaelah baca buku mulu, skali-skali main lah. Gak bosan apa tiap hari baca buku mulu," Eby terus menekan Rendy. Aku menatap Shela yang sudah dari tadi duduk bersandar di belakangku. Shela tersenyum padaku dan aku pun membalas senyumannya. "Ayo dong Rendy, kasian si Rian di rumah gak ada temen main," kali ini Shela pun berusaha membujuk Rendy. Rendy berpikir sejenak sambil memperbaiki kacamatanya yang mulai menurun. "I..iya deh. Tapi aku gak bisa lama-lama ya," jawaban Rendy sontak membuat kami tersenyum sumringah. "Nah gitu dong," Eby mendorong bahu Rendy. Dari gelagatnya, sepertinya si Eby tau tentang kejengkelanku pada Rendy. Mungkin Shela sudah curhat ke Eby soal ini. Rendy pun ikut bersamaku dengan motor bebeknya. Aku mengantar Shela ke rumahnya dan lanjut pulang ke rumah, dan Rendy terus mengikut dari belakang. Mata mama menyipit saat melihatku dan Rendy tiba di rumah. Rendy terlihat canggung saat wajahnya diperhatikan dengan teliti oleh mama yang duduk di teras rumah. "Ini teman baru aku ma. Ayo Ren santai aja, mamaku orangnya asik kok," aku melepas sepatu dan langsung mencium tangan mama. Rendy juga ikut mencium tangan mamaku. "Rendy tante," baru kali ini aku lihat Rendy seramah itu. "Ajak masuk Rian, suruh si mbok buatin minum," tutur mama. "Gak usah ma. Minuman kaleng aja. Soalnya kita mau main PS bareng di kamar," aku mengambil dua minuman kaleng dari dalam kulkas dan beberapa Snack. "Ayo Ren kita langsung main aja," aku mengajak Rendy ke kamarku yang ada di lantai dua. Aku menyalakan PS 2 dan memasukan kaset game Conflict : Desert Storm yang baru saja kubeli. Kami pun memainkan game perang itu dengan menjalankan misi bersama-sama hingga tamat. Bermain bersama, membuat hubunganku dengan Rendy mulai mencair. Rendy yang awalnya jaim dan bahkan sering menatapku sinis itu pun akhirnya bisa tertawa lepas denganku. Misi penaklukan Rendy berhasil. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN