"Seneng amat makan rotinya," mama mengagetkanku saat sarapan pagi.
"Rotinya enak banget ma sumpah,"
Sebenarnya bukan rotinya yang enak. Tapi aku makan tadi sambil memikirkan Shela. Tak kusangka akhirnya bisa jadian dengan cewek itu.
"Perasaan rotinya masih sama dengan yang kemarin," mama mengerutkan dahi sambil mengoles selai nanas di rotinya.
"Oh iya ya? Kok aku rasa beda ya?," aku menghabiskan rotinya dan mulai menenggak s**u.
"Ibu liat akhir-akhir ini kamu pergi ke sekolahnya lebih cepat dari biasanya. Padahal biasanya kamu sering terlambat. Kok bisa gitu yaa," tanya mama kepo.
Kuhabiskan segelas s**u dengan sekali teguk. "Yaa namanya hidup ma harus bisa berubah lebih baik. Nggak gitu-gitu terus,"
"Sejak kapan kamu berpikir begitu?,"
Pertanyaan mama tak ada habisnya, aku mulai tidak nyaman, seperti tersangka sedang diinterogasi saja. "Sejak akhir-akhir ini lah ma. Udah aku pergi sekolah dulu ya ma,"
Aku beranjak dari kursi. Ku cium dahi mama, dan bergegas pergi. Kusambar kunci motor di atas meja dan jaket di sandaran kursi. Mama hanya bisa geleng-geleng kepala.
***
Aku sampai di depan rumah Shela. Sepertinya kali ini aku tiba lebih cepat. Karena biasanya Shela sudah menunggu di depan sambil memegang helm dan bersiap ngomel-ngomel karena aku telat menjemputnya.
Tuan putri yang ditunggu akhirnya keluar juga. Ini hari pertama aku menjemputnya dengan status pacaran.
"Cantik banget pacarnya Rian," Shela hanya bisa tersenyum mendengar rayuan pertamaku di pagi ini.
"Masih pagi udah gombal aja pacarnya Shela," ternyata bisa ngegombal juga cewek manis ini.
"Tumben kamu cepet?," Shela memakai helm dan bersiap naik ke motorku.
"Telat salah, datang cepet juga salah. Maunya kamu gimana sih?," ujarku.
Shela menopang dagunya dengan jari telunjuk seperti memikir sesuatu. "Kira-kira gimana yaa bagusnya. Liat aku yang sekarang atau aku yang tiap hari ngomel-ngomel karena telat mulu,"
"Mending yang sekarang deh. Masa tiap pagi aku harus ngadepin macan," seketika Shela yang sudah diatas motor mencubit perutku dengan kencang.
"Ngomong apa kamu? Coba diulang," Shela membengkokan bibirnya melihat aku merengek kesakitan.
"Aduh-aduh, iya maaf, aduh Shel sakit,"
Shela tertawa puas. "Hahaha, gitu aja sakit,"
"Ayo buruan jalan," seru Shela.
"Perutnya masih sakit tau," aku masih memegang bagian perut yang habis dicubit Shela
"Masa sih, aku tadi nyubitnya terlalu kencang yaa? Maaf yaa,"
Sebenarnya rasa sakitnya sudah hilang. Tapi... "Peluk dong biar sakitnya ilang," hehehe aku pintar juga kan nyari kesempatan.
"Halah modus modus," kali ini Shela memukul pundakku. Baru sehari jadian udah dua kali dia main fisik loh, waduh.
"Jadi kamu gak mau peluk nih? Kan kita udah jad...," seketika dua tangan mulus itu menyelinap dari samping kiri dan kanan perutku. Shela memelukku sangat erat.
"Gimana? Masih sakit?," tanya Shela dengan nada pelan.
"Udah gak sakit sayang," jawabku.
"Kalo gitu jalanin dong motornya," Shela benar-benar membuat semangat ku pagi ini meningkat seribu persen.
Aku menyalakan motor dan memegang jari jemari mulus saling mengunci di atas perutku. "Pegangan yang kuat yaa,"
Tak hanya memelukku erat, Shela juga menyandarkan dagunya di bahu kananku. "Iya sayang,"
***
Motorku tiba di depan sebuah sekolah. Shela turun, kemudian melepas helem dan merapikan rambutnya.
Aku kembali mengacak rambutnya itu. "Iiihhh, sebal deh," Shela merengek, ia sangat lucu kalau lagi begitu.
"Yang bener ya sekolahnya," ujarku.
Shela mengangkat kening sebelah. "Yang harusnya ngomong gitu tuh aku. Kamu ke sekolah, jangan malah ke tempat lain, awas," kata Shela mengancam.
"Emang aku mau kemana selain ke sekolah?,"
"Yaa kemana kek, namanya juga anak cowok biasanya sukanya bolos. Apalagi kalo punya kendaraan sendiri kayak kamu," ucap Shela seakan tahu kebiasaanku dulu sebelum mengenalnya.
"Gak lah, kalo dulu sih iya, tapi semenjak ketemu kamu udah gak kok," kataku meyakinkan Shela.
"Tuh kan,"
"Tapi bener udah gak lagi kok, janji," aku mengacungkan jari kelingking di depan Shela. Dan ia pun menyambutnya dengan kelingkingnya juga.
"Udah janji yaa," Shela menatapku penuh harapan.
Aku kembali mengacak rambutnya di bagian depan. "Iya pacar. Udah sana masuk,"
"Iiihhh, kamu tuh yaa, rambut aku kan jadi jelek,"
"Kamu tuh mau diapain juga tetap cantik kok," aku senyumin Shela yang sedang mengatur kembali rambutnya.
Aku mendekatkan tangan kananku di depan Shela. "Aku pergi yaa,"
Shela menatap bergantian tangan dan mataku.
"Yeh malah bengong, anak baik itu kudu cium tangan dulu,"
"Ihh malu diliatin orang ahh," Shela melihat di sekitar ia kelihatan canggung.
"Kok malu, emang gak boleh cium tangan pacar sendiri," Shela pun meraih tanganku dan menciumnya.
"CIIIEEEEEEE, pagi-pagi udah romantis aia nih pasangan baru," seorang cewek berambut sebahu tiba-tiba menghampiri, mengagetkan kami. Entah siapa dia. Suaranya cempreng amat.
Cewek itu tak sendiri. Ia datang bersama seorang cowok berkacamata tebal dan berpenampilan sangat rapi. Tangan kirinya memegang buku di dadanya.
Shela menghembuskan nafas panjang. "Ganggu aja lo,"
Aku menatap Shela dan cewek itu bergantian. Sepertinya mereka bersahabat.
Shela kembali menatapku. "Ehh iya sayang kenalin ini sahabat aku, namanya Eby. Harap maklum yaa, orangnya rada miring dikit," Shela menaruh tangan di samping bibirnya seperti orang berbisik tapi tetap saja suaranya terdengar jelas.
"Sembarangan lu kalo ngomong Shel," cewek bernama Eby itu mendorong bahu Shela.
Eby menatapku ramah. "Ohh jadi ini pacar barunya Shela. Kenalin gue Eby, sahabat lamanya Shela,"
Kami pun bersalaman. "Rian,"
Aku pun menatap cowok berkacamata yang dari tadi masih berdiri diam tanpa kata di belakang Eby.
Shela mengikuti arah tatapanku. "Ehh iya dan ini Rendy sahabat aku juga,"
Hah? Sahabat? Gak salah tuh? Masa iya mereka sahabatan. Entah kenapa aku agak risih dengan tatapan cowok dengan kacamata yang tebalnya sudah seperti p****t botol itu. Ia seperti menatapku sinis.
Shela memberi isyarat agar aku juga berkenalan dengannya. Aku pun berusaha ramah dengan senyum padanya dan menyodorkan tangan kananku. "Rian,"
Dia meraih tanganku. Tangannya sangat dingin sedingin tatapannya. "Re-Rendy," akhirnya aku bisa mendengar suaranya.
"Dia memang agak pendiam. Eh bukan agak, tapi emang sangat pendiem. Hehehe. Kami bertiga sudah lama sahabatan, sejak SD, iya sejak SD. Iya kan," Eby bicaranya seperti sedang dikejar singa. Dia menatap wajah Shela dan Rendy bergantian, namun tak ada yang merespon penjelasannya.
"Ehh iya, kamu buruan ke sekolah, nanti terlambat loh sayang," Shela mengisyaratkanku untuk segera pergi.
"Hey, gue lagi ngomong, woy, kebiasaan dicuekin mulu," Eby kesal tidak ada yang menggubrisnya.
Aku pun menyalakan motor. "Aku pergi dulu yaa semuanya,"
"Iya pacar Shela, hati-hati yaa," Eby menatapku genit sambil melambaikan tangan.
Sampai aku pergi meninggalkan tiga bersahabat itu, kuperhatikan wajah Rendy masih sama seperti pertama kali dia datang. Tapi biarlah, mungkin saja orangnya memang seperti itu.
***
"Ehh, gue denger lu pacaran sama anak sekolah sebelah," Upik menaruh tas sekolahnya di atas meja dan duduk di bangkunya. Bangku kami bersebelahan.
"Lu denger dari siapa?," tanyaku penasaran.
"Sekolah itu kan bekas jajahan gue. Mata-mata gue di sana banyak," aku hampir lupa, si playboy satu ini punya banyak mantan hampir di semua sekolah yang ada di Jakarta.
"Atau jangan-jangan pacar baru lo itu udah bekas gue," aku memukul kepala Upik.
"Sembarangan lu. Ini bukan cewek sembarang kayak korban-korban lu itu,"
"Halah semua sama aja," Upik menganggap semua cewek itu sama. Sama-sama bisa ia kadalin.
"Coba mana fotonya?," Upik berusaha mengambil handphone ku.
"Jangan nanti lu pelet lagi," aku menjauhkan handphone ku dari jangkauan Upik.
"Gue cuma mau mastiin aja. Sebagai sahabat lu gue gak pengen lu salah milih cewek," Upik menatapku serius, berusaha meyakinkanku.
Aku membuka galeri di Handphone. Kuperlihatkan foto Shela saat di Rooftop kantor papaku. "Nih orangnya, pasti lu gak kenal kan?,"
Bola mata Upik melebar. Dia langsung merampas handphoneku di dekatkan ke wajahnya, melihat lebih jelas foto Shela.
"Gak mungkin, ini gak mungkin. Kok bisa lu pacaran sama cewek ini," dahiku mengerut, dadaku mulai panas. Tidak mungkin Shela mantannya Upik.
"Jangan bilang dia mantanlu pik,"
"Boro-boro mantan. Nih cewek malah pernah membuatku malu di depan banyak orang. Gua udah bersumpah gak bakal ketemu sama macan betina ini," aku terheran. Seperti ada trauma di wajahnya Upik.
"Maksud lo?,"
Upik menyerahkan kembali handphoneku. "Gue pernah mencoba mendekati cewek ini. Dia sering kali gue lihat menunggu bis di halte depan sekolahnya. Berkali-kali tiap pulang sekolah gue sering nawarin tumpangan tapi dia sering menolak. Hingga suatu hari saat gue kembali menawarkan tumpangan ehh malah gue kena omelan pedasnya. Gara-gara dia tahu kalo gue adalah pacar temen sekelasnya. Buset parah, gue disembur habis-habisan, sampai orang sehalte menertawai gue,"
Gue tertawa terbahak-bahak membayangkan Shela mempermalukan Upik yang dikenal playboy kelas kakap ini.
"Hahahahaha, rasain lu. Lu pikir semua cewek sama apa,"
Upik kembali memasang wajah serius. "Ehh tapi kok bisa sih lu naklukin cewek buas itu,"
Aku terkekeh kecil. "Jangan pikir lu lebih hebat dari gue. Ilmu lu itu belum seberapa,"
"Heeeh, emang mantan lu berapa? paling bisa dihitung pakai jari," Upik memasang wajah sombong.
"Bukan seberapa banyak bro, tapi seberapa berkelas cewek yang lu dapat," aku menepuk-nepuk pundak Upik.
"Widih sok keren lu,"
"Emang gue keren," aku mengangkat kerah kemeja dengan kedua tangan.
"Tapi gue yakin lu gak bakal bertahan lama sama tuh cewek. Apalagi kalau sampai dia tahu penyakit aneh lu,"
Aku tersenyum kecil. "Kita liat aja nanti,"
"Shela berbeda dari yang lain. Gue bakal terus mempertahaninnya sampai kapan pun. Lu pegang kata-kata gue,"
Kali ini Upik merangkul bahuku. "Gue ingatin ke lu. Jangan terlalu serius pacarannya, jangan terlalu pakai hati. Karena di apotik gak ada obat buat sakit hati bro,"
***
Aku dan Shela duduk di bangku taman sambil menyeruput es krim.
"Yang, sebentar sore aku belajar kelompok ya di rumahnya Eby. Boleh gak?"
Sebelum memberi izin, aku berpikir sejenak. "Si kaca mata tebal itu ikut juga?," tanyaku sedikit menekan.
Shela mengerutkan dahi. "Maksud kamu si Rendy?,"
Aku diam, tak menatap Shela, sambil terus menyeruput es krim. "Kamu kok gitu? Dia itu kan sahabatku. Dia juga loh yang dulu nolong aku bawain motor kamu ke rumah," tutur Shela.
Aku berusaha menghilangkan pikiran burukku soal si kaca mata tebal itu. "Iya maaf. Kamu nanti aku yang antar jemput yaa,"
Shela mengangkat kedua alisnya. "Emang gak ngerepotin?,"
Aku menghabiskan es krim. "Gak lah. Kenapa? gak suka yaa aku antar jemput. Ya udah kalo gitu kamu gak bisa pergi,"
Shela menatapku manja. "Suka kok suka. Malah aku seneng kamu yang antar jemput,"
Aku mencubit manja hidung kecilnya Shela. Tatapan manjanya membuatku gemas. Di liat dari dekat, wajahnya mirip artis korea, udah cantik, mulus, imut. Pantas saja si Upik juga naksir sama dia. Sebagai laki-laki, aku bangga bisa dapatin Shela.
"Iya dong, pokoknya kemana-mana kamu harus sama aku,"
Shela mengangkat tangannya di kepala, melakukan sikap hormat. "Siaap komandan!!,"
***