Jadian

1667 Kata
"Lu tau nomorku dari mana?," tanyaku ke Shela, menjawab SMSnya "Ada deh..hehe," jawab Shela. Aku baru teringat waktu itu handphoneku pernah ku titip ke dia seharian. Apa mungkin dia sempat menyalin nomorku? Itu tak penting lagi. Aku hanya masih tak percaya melihat isi SMS Shela seperti itu. Ini seperti mimpi saja. Cewek yang kukenal jutek itu berubah 180 derajat. "Lagi ngapain lu?," tanyaku. "Lagi ngerjain tugas. Kalo lu?," balas Shela. "Lagi rebahan," "Ohw," jawab Shela singkat. "Besok ke sekolah gue jemput lu yaa," "Gak mau," "Pliss lah," "Emang lu udah baikan?," tanya Shela. "Udah dong. Pokoknya gue jemput lu besok titik," "Hmmm," jawab Shela. "Lanjutin dulu ngerjain tugasnya," "Iya," *** "Ombrophobia," Seketika aku berhenti menikmati es krim mendengar Shela mengatakan itu. "Entah sejak kapan gue mengalaminya. Setiap kali hujan turun gue seperti itu, bahkan bisa lebih parah kalo hujannya gede disertai angin kencang," ucapku menatap kosong ke arah depan bangku taman. "Nih buat lu. Semoga bisa membantu," Shela menyodorkan sebuah kotak dus. "Ini apa?," tanyaku penasaran. "Buka aja," jawab Shela. Aku pun membukanya. Ku ambil sesuatu dari dalam kotak dus itu. Ternyata sebuah MP3 Player Mini beserta Headphone Bluetooth berwarna hitam dengan corak merah. "Nanti kalau turun hujan lu pake itu aja. Di situ udah ada musik relaksasi untuk ngilangin phobia," Aku hanya bisa bengong. Tak ku sangka Shela sebegitu perhatiannya. "Hey, kok malah bengong?," seru Shela mengagetkanku. "Ehh, iya anu," tiba-tiba aku malah blank. "Hahaha, lucu amat lu kayak gitu sumpah," Shela tertawa puas melihatku. "Gue gak nyangka aja. Ternyata lu perhatian juga orangnya," ucapku. "Heh, jangan ge'er dulu. Itu nyokap gue yang nyuruh tau," tukas Shela dengan wajah sebal. Dari wajahnya aku tahu Shela pasti berbohong. Ku yakin ini memang inisiatifnya sendiri. "Halah jujur aja. Lu udah mulai suka kan ama gue," "Apaan sih," Seketika pipi Shela berubah merah muda. "Hahaha," "Ehh ngomong-ngomong makasih yaa Shel," "Makasihnya ke nyokap gue aja," "Okeh, ntar gue bilang langsung ke nyokap lu," "Gak usah. Biar aku aja yang nyampeinnya," kata Shela panik. "Tuh kan. Bener kata gue, ini memang dari lu kan," "Kalo iya kenapa? Gak suka? Ya udah sini gue ambil lagi aja," ketus Shela dengan wajah kesal. "Udah dikasih kok diambil lagi," "Kan lu gak suka," "Siapa bilang? Aku suka kok," jawabku lembut. Aku menatap Shela sambil senyum. Ia pun hanya bisa tersipu malu-malu sambil tetap berusaha mempertahankan wajahnya yang kesal itu. Makin ke sini aku semakin nyaman sama-sama dengan Shela. Ingin rasanya kuhabiskan waktuku dengan cewek berwajah manis ini. "Dah ayo pulang. Nanti keburu hujan lagi, bisa repot urusannya," ajak Shela. "Ayuk," Aku menyimpan MP3 Player Mini dan Headphone pemberian Shela ke dalam ranselku. Kami pun beranjak pergi meninggalkan kursi taman itu. *** Shela turun dari motorku. Dia melepas helm dan memberikannya padaku. "Loh kok dikasih ke gue lagi? Helm itu kan udah milik lu Shel," "Ntar kalo kamu bonceng orang gimana? Masa gak pake helm. Udah bawa aja," kata Shela. "Emang gue mau bonceng siapa? Tempat duduk belakang ini cuman khusus buat lu doang," "Hiiih, basi tau," "Gue pulang yaa," "Iya," "Lu masuk sana," "Yaa lu pulang dulu lah baru gue masuk," "Okey okey. Besok aku jemput lagi yaa," "Jangan lama-lama kayak tadi yaa. Kalo gak beneran gue tinggal," "Siaap bos," aku mengangkat tangan kanan memberi hormat. "Buruan ayo, kehujanan tau rasa lu," Aku nyalakan motor dan berbalik pulang. Hatiku benar-benar sangat senang. Pertama kali dalam hidup, aku merasakan sebahagia dan sesemangat ini. *** "Shel?," Sabtu sore itu ku SMS Shela. "Yaa," jawab Shela. "Lagi ngapain?," "Habis ngerjain tugas," "Berarti udah nggak sibuk dong," "Kenapa emang?," "Gue mau ngajak lu ke suatu tempat," "Kemana?," tanya Shela. "Ada deh, ayuk," "Gak ahh," "Ayo lah plisss," "Mau kemana sih?," "Ikut aja dulu, ntar lu juga tau," "Gue takut," "Takut apa?," "Takut ama lu," "Emang gue orang jahat?," "Bilang dulu mau kemana, baru gue pertimbangin," "Ribet amat sih lu. Ayo dong plisss. Gak lama kok," "Bener gak lama kan?," "Iya, pokoknya sebelum jam 8 malam lu udah di rumah," "Yah lama dong," "Ya udah jam 7 deh," "Masih lama," "Ampun dah," "Wkwkwk.. Tapi lu jangan aneh-aneh yaa. Awas lu," "Gak kok. Sumpah," "Gue izin dulu ke nyokap," "Yup," Beberapa menit kemudian Shela kembali mengirim SMS. "Jemput aja cepet," "Udah di depan kelees," balasku. "Loh kok cepet amat," "Kan lu nya gak mau lama," "Dasar lu," Pintu rumah Shela pun terbuka. Dari dalam rumah Shela, membuatku terperangah di atas motorku yang diparkir tepat di depan rumahnya. Sore itu Shela terlihat sangat cantik. "Sejak kapan lu di sini?," tanya Shela. "Sejak gue SMS lu," "Hah? Kok lu gak ngomong?," "Gue gak enak Shel. Ntar bikin repot nyokap lu lagi. Gue kan cuma pengen ajak lu," "Emang kita mau kemana sih ini?," tanya Shela. "Udah ayok, dari tadi nanya mulu," "Awas ya lama-lama. Dan awas lu kalo sampe macem-macem," "Masih gak percaya banget ama gue. Ayo buruan," "Shela pun naik ke motorku dan kita pergi," *** Aku menghentikan motorku di depan sebuah minimarket. "Tunggu sebentar yaa, gue mau beli sesuatu dulu," "Hmmm," Shela memasang wajah cemberut. "Jangan cemberut gitu dong. Bentar lagi lu bakal tau kok kita mau kemana," Aku masuk ke dalam minimarket. Aku ambil beberapa snack, minuman dingin, dan juga es krim. Setelah membayar di kasir, kulanjutkan perjalanan bersama Shela. "Ayo kita lanjut," Hanya sekitar 15 menit perjalanan kami pun tiba di sebuah gedung tinggi. Gedung 40 lantai ini adalah kantor perusahaan milik papaku. Sepeda motorku memasuki halaman gedung tersebut. Kubawa terus hingga memasuki basement kantor dan ku parkir di sana. "Ayo," "Ini gedung apa?," "Ini kantor bokap gue," "Mau ngapain kita di sini?," tanya Shela penasaran. "Mau kerja. Hahaha," "Serius ahh, kita mau ngapain. Gue takut," "Kok takut? Udah santai aja, hari ini mereka libur. Gue sering ke sini kok. Ayo gue tunjukin sesuatu ke lu," aku tarik tangannya Shela. Kami menuju ke lift. Aku mengeluarkan sebuah kartu dan ku tempelkan pada alat Scanner di depan pintu lift dan terbuka. "Ayok," aku tarik Shela ke dalam lift. Gerbong lifnya pun berjalan melewati lantai demi lantai. "Lu masih waras kan?," tanya Shela. "Hahaha...kok lu nyanya gitu. Udah gak usah takut, nih makan es krim dulu biar gak tegang," aku mengambil es krim yang ku beli di minimarket tadi dari dalam kantong plastik. Aku dan Shela pun menikmati es krim di dalam gerbong lift yang terus bergerak naik semakin tinggi, sampai akhirnya melewati lantai 40. Sekian lama menunggu, akhirnya pintu liftnya terbuka. Aku dan Shela sampai di sebuah Rooftop kantor. Rooftop kantor papaku didesain menjadi ruang outdoor yang sangat cocok untuk bersantai. Ada beberapa tempat duduk dan meja santai yang disediakan. Dikelilingi dengan tanaman hias, membuat suasana Rooftop semakin menyejukkan mata. Apalagi ditambah pemandangan suasana kota Jakarta dari ketinggian. Namun untuk ke Rooftop ini hanya bisa diakses dengan kartu yang saat ini aku pakai. Hampir setiap akhir pekan aku menghabiskan waktu di tempat ini bersama papa. Namun sekarang sudah hampir sebulan lamanya papa pergi ke luar negeri. Biasalah urusan kerjaan. Aku pun meminjam kartu akses ke Rooftop ini ke papa dan beruntung dia memberikannya, setelah aku terus berupaya membujuknya. Semenjak papa pergi ke luar negeri. Aku masih sering kali ke sini. Meski aku orangnya suka bergaul, tapi ada saat dimana aku butuh waktu sendiri, dan ditempat ini lah aku menghabiskan waktu sendiri. Kali ini aku tak sendiri lagi. Karena aku sekarang ditemani seorang wanita cantik. Wanita yang belum lama ku kenal namun aku sudah begitu nyaman dengannya. Wanita yang saat ini masih terperangah melihat keindahan Rooftop di kantor papaku. Wajah cemas Shela seakan sirna melihat keindahan kota Jakarta dari tempat kami saat ini. Ia berjalan melihat ke kiri dan ke kanan. "Wah keren. Bokap lu hebat ya, bisa bikin tempat kayak gini di kantornya," "Setiap sore kalau lagi suntuk gue pasti ke sini. Biasanya sih bareng bokap, tapi bokap sekarang lagi gak ada," "Bokap lu dimana?," "Lagi ke luar negeri, biasa, ngurusin kerjaan," jawabku. "Ayo kita duduk di sebelah sana. Di situ viewnya keren," aku ajak Shela ke sebuah tempat duduk yang langsung menghadap ke arah matahari terbenam. Kami pun duduk berdampingan di sana. Sambil menikmati snack dan minuman dingin. "Haaaahhh," Shela menghela nafas panjang. "Teriak aja gak apa-apa," "Bener gak apa-apa?," tanya Shela memastikan. "Iya teriak aja," "Haaaaaaaaaaaaaaaa," Shela langsung teriak seakan menghilangkan beban di pikirannya. "Enak banget sumpah. Mana PR Fisikanya susah banget lagi tadi. Bener-bener ngerefresh otak gue sekarang," Aku tersenyum lega melihat Shela bahagia setelah ku ajak ke sini. "Ngomong-ngomong makasih yaa udah ajak gue ke sini," "Sama-sama. Makasih juga lu udah mau nemenin gue di sini. Biasanya gue sendiri, sekarang udah ada lu," aku dan Shela pun saling bertatapan. "Shel?," "Kenapa?," "Mmm. Gue mau ngomong sesuatu. Boleh kan?," tanganku mulai dingin. "Yaa, ngomong aja, emang mau ngomong apa sih lu? Tumben amat serius gini," Shela mengerutkan dahi. Jantungku tiba-tiba berdebar kencang. Aku benar-benar tak bisa lagi mengendalikan keadaan. "Gue, gue, ehh anu, Shel gue," "Lu kenapa? Pliss deh," Shela menatapku serius. Aku semakin gugup di hadapannya. Tak ku sangka bisa sesulit ini mengungkapkannya. Aku menghirup udara dalam-dalam. "Gue sayang banget ama lu Shel. Lu mau gak jadi pacar gue," akhirnya kalimat itu pun keluar dari mulutku. Mata Shela melebar, mulutnya sedikit terbuka. Nampaknya ia kaget mendengar kalimat sakral itu. Pipi Shela kembali berubah merah muda. Matanya menghindari tatapanku. "Lu nembak gue? Kenapa secepat ini?," tanya Shela dengan nada pelan. "Gue udah terlanjur sayang sama lu Shel. Dan gue pikir ini waktu yang tepat buat gue ngomong ke lu," Shela hanya diam. Ia memalingkan wajahnya. Aku benar-benar tak tahu apakah ini sudah waktu yang tepat atau aku yang terlalu cepat mengatakannya. Ada sedikit rasa menyesal dalam hatiku. "Kalau lu belum siap menjaw....," "Aku mau," Shela memotong ucapanku. Aku tersentak mendengarnya. "Aku mau jadi pacar kamu," ucap Shela melanjutkan kalimatnya dengan masih memalingkan wajahnya. Mendengar jelas kalimat itu aku begitu bahagia. Berkali-kali aku ayunkan kedua kepalan tangan saking senangnya cintaku diterima Shela. Shela yang awalnya memalingkan wajah tiba-tiba langsung menatapku, memergokiku yang sedang selebrasi di sebelahnya. Aku kaget dan langsung menghentikan selebrasi karena malu ketahuan. Shela pun menertawaiku, terlihat jelas kebahagiaan bersinar di mata indahnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN