Persalinan Hanjie berjalan sangat lambat dan sangat menegangkan. Erwin tidak mengira bahwa perasaan takut, gelisah, gamang benar-benar bersatu padu menjadi sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan benar. Sesungguhnya Erwin teramat ingin menemani Hanjie dalam prosesnya. Namun, dia tidak memiliki wewengan terlebih Tuan Mark yang sepertinya memiliki dendam kesumat dengannya nampak mati-matian untuk tidak membiarkan Erwin mendekat pada putrinya. Kepanikan kian menjadi, kedua pria dilorong rumah sakit nampak kalang kabut, sementara Nyonya Mark nampak sangat tenang. Wanita itu terlihat sangat confident meskipun dia mendengar didalam sana putriny menjerit-jerit kesakitan bahkan berdarah banyak. “Bagaimana putriku, kita harus bagaimana, oh Tuhan…” Tuan Mark mendominasi kepanikan. Pria itu berj

