“Okay cukup!” kataku yang membuat mereka berdua melirik kearahku. Mereka mungkin terkejut sebab beberapa saat lalu aku memang hanya berpura-pura tidur. Tapi mendengar perdebatan mereka yang semakin sengit. Bibirku tak kuasa untuk tetap berkata. Aku tidak peduli yang lainnya. “Sudahlah, kalian berdua sepertinya harus berhenti dengan kontes memperebutkan putriku. Cukup baginya untuk mendengar hal-hal itu apalagi putriku sendiri sudah mengalaminya.” Mom bergerak dari tempatnya. Dia membantu proses untuk mewakilkanku melerai mereka berdua. Dia juga mengatakan apa yang memang ingin aku ungkapkan. Sekarang mereka terlihat lebih lembut. Sepertinya sedang mencoba menetralisir keadaan. Aku juga melihat ekspresi Erwin yang melembut. Pria itu menatapku dengan cara yang sama seperti dahulu. Sorot ma

