Bab 22. Tentang Suci (2)

1434 Kata

"Sudah pulang, Mas? Pasti cape. Mau aku buatkan kopi?" Suci menyambut kepulanganku dengan senyum penuh kehangatan. "Enggak usah," tolakku segera. Memberikan tas kerja dan meninggalkannya di ambang pintu. Lain waktu, dia pernah melihatku yang sedang kesakitan merasakan pening di kepala. "Kenapa, Mas? Kamu sakit? Kamu mau aku ambilkan obat? Atau kita langsung ke dokter?" Suci terus bertanya dengan nada cemas. "Sana! Aku cuma butuh tidur. Jangan ganggu aku," usirku. Pernah juga waktu itu dia sengaja masuk ke ruang kerjaku hanya untuk mengantarkan segelas teh jahe, tapi apa yang aku lakukan? "Apa aku memintanya?" tanyaku datar. "Tidak. Aku buat ini biar kamu--" "Pergi!" perintahku. "Baik." Suci tersenyum kelu, lalu menyimpan cangkir di atas meja. "Bawa lagi!" ujarku kesal. "Ah, ya.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN