Bab 23. Kemenangan Suci

1583 Kata

"Kita pernah bertemu, 'kan?" tukas Suci, seperti sedang mengingat sesuatu. Aku bergeming, menunggu kelanjutan ceritanya. "Di restoran. Aku menabrak kamu, lalu minuman di gelasku tumpah mengenai kemeja kamu. Kamu marah-marah, padahal aku sudah minta maaf berkali-kali. Itulah alasan Satria selalu membencimu," ujarnya lagi. Kali ini aku mengerjapkan kedua mata, lalu tersenyum samar. Setidaknya perempuan di depanku ini ingat pertemuan pertama kami. "Malam itu ... aku mengejar Malik. Dia marah padaku karena ... aku ... ah." Lagi-lagi Suci meringis, memegang kedua sisi kepalanya. Hingga detik kemudian tubuh itu terkulai lemas ke dalam pelukanku. . "Kenapa bisa pingsan begini, Adam?" tanya Ami dengan raut cemas setelah berdiri di samping ranjang pesakitan. Ya, tentu saja aku membawa Suci k

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN