Bab 24. Pengorbanan Dan Imbalan

1675 Kata

Ponsel di atas meja berdering. Kusimpan cungkil, lalu mematikan kompor. Meninggalkan nasi goreng yang sudah matang. "Siapa, Yah?" tanya Salwa yang baru datang lalu duduk di kursi meja makan. "Temen Ayah," jawabku setelah meraih ponsel, lalu menekan tombol gagang telepon warna merah. "Kenapa enggak dijawab teleponnya?" Salwa bertanya lagi, seperti menyimpan rasa curiga. "Kita sarapan dulu aja," dalihku. Kumasukkan ponsel ke dalam saku celana setelah mengaktifkan mode silent. Mengambil dua piring lalu mengisinya dengan nasi goreng kecap, menambahkan telur ceplok yang sudah lebih dulu matang. "Beneran Bunda belum telepon?" ucapnya kemudian, dengan kepala agak merunduk. Entah kecewa atau ragu menatap mataku. "Belum ada," sahutku pendek. Entah jawabanku yang ke berapa puluh kali atas rat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN