"Ayah, ada telepon." "Siapa?" tanyaku masih dengan tangan sibuk mengoles selai coklat ke atas roti tawar. "Sat ... ria. Apa itu Om Satia?" Aku menoleh. "Coba angkat. Tanyain ada apa?" pintaku, lalu berjalan ke arah kulkas untuk mengambil s**u. "Assalamualaikum, Om Satia. Iya, ini Sawa. Mm, iya. Sawa udah enggak marah, tapi jangan pukul Ayah lagi, kasihan 'kan. Nanti kalau dipukul lagi, Sawa marah lagi. Ayah ada, lagi siapin sarapan. Iya. Ayah, Om Satia mau bicara sama Ayah?" Aku menyimpan kotak s**u kembali ke dalam kulkas, lalu menghampiri Salwa. "Sini hapenya. Habiskan sarapannya, ya." "Iya, Ayah." Salwa pun menyahut setelah benda persegi itu berpindah tangan padaku. "Halo," sapaku segera. "Kalau sempet, lo ke rumah sakit hari ini." "Rumah sakit?" Aku bertanya tak mengerti. "

