"Sebentar!" sahutku setelah mendengar suara bel berdentang berkali-kali. Siapa yang bertamu sepagi ini, hah? Apa dia tidak tahu adab berkunjung ke rumah orang? Kuputar anak kunci, lalu menarik pintu. "Ada ap--" "Sialan!" Aku terjungkal ke belakang. Duduk di atas lantai dengan bagian bawah tubuh yang terhempas tanpa bisa aku tahan. Kuusap pipi kiriku, lalu menoleh ke arah itu. Satria? "Jadi sekarang lo udah bisa berbangga diri? Berbesar kepala? Karena berhasil mendapat kepercayaan Abi, hah?" cercanya. Aku tersenyum, kemudian berdiri. "Kamu iri sama aku?" "Apa? Iri lo bilang?" Satria melangkah menghampiri. Satu tangannya siap melayang kembali, tapi segera aku tahan. "Gue putra kandung Abi. Gue pewaris Winner Group yang sesungguhnya!" teriaknya penuh emosi. Aku masih menahan kepalan

