"Ingat, kita menikah karena dijodohkan. Bisa saja selama menjadi istrimu, aku hanya berpura-pura baik dan bersikap lembut. Mungkin aku terpaksa melakukannya agar bisa membuat Abi dan Ami senang atas pernikahan kita. Masuk akal, 'kan?" tukas Suci. Deg. Pura-pura? Terpaksa? Bukankah, memang itu yang aku dan Suci lakukan di depan orang-orang, termasuk orang tuanya? Akan tetapi, aku tidak pernah berpikir sejauh itu. Aku selalu menyangka jika Suci melakukannya dengan sukarela, karena aku bisa melihat dari pancaran sorot matanya, jika dia begitu menikmati sandiwara yang aku lakukan. Seolah bersedia menerima semua kemesraan palsu yang kuberikan padanya, bahkan terkesan dia berharap aku selalu melakukan itu di hadapan semua orang. "Yang aku heran, kenapa sekarang kamu tetap bertahan seperti

