"Bagaimana? Suci angkat teleponnya?" Ibu menghampiriku. "Enggak diangkat juga, Bu," sahutku, masih dengan mata mengarah pada layar ponsel. "Acaranya sudah hampir dimulai, lho," ucap Ibu lagi. "Ya, Adam tau. Tapi mau gimana lagi, dari kemarin memang Suci enggak angkat telepon Adam, Bu." Aku kembali menempelkan ponsel di daun telinga setelah menekan nomornya lagi. Akan tetapi, hasilnya masih sama. Suci sama sekali tidak menjawab teleponku. Bahkan pesan yang aku kirimkan empat hari lalu pun tak kunjung dia balas. "Coba telepon ke rumah Pak Prawira, lalu minta Ibu Syarifah untuk membujuk Suci," saran Ibu. Aku terdiam sesaat. "Apa ... harus seperti itu?" ucapku ragu. "Ya, mau bagaimana lagi, tidak ada cara lain. Salwa pasti sedih kalau hari ini Suci tidak datang." Aku mengembuskan napas.

