27. Hikmah?

1828 Kata

"Mas Adam." "Ah, itu Ibu Suci keluar." Andini menunjuk dengan hormat ke arah pintu ruanganku. Aku pun memutar tubuh, tanpa disangka Suci berjalan ke arahku dan memelukku secara tiba-tiba. Selama tiga detik dia melingkarkan kedua lengannya di tubuhku, lalu melepasnya seraya mendongkakkan wajah demi menatapku. Dia tersenyum, lalu mengusap dadaku dengan kedua telapak tangannya. Terdengar suara ricuh dari belakang. Ah, mereka pasti menertawakanku. Aku bahkan sempat melihat Andini menahan senyumnya sembari merundukkan wajah. "Kita masuk saja ke dalam," ajakku. "Ya." Suci menganggukkan kepala. Kemudian dia melingkarkan lengannya, memeluk lengan kananku. "Ayo," ucapnya. Aku pun melangkah bersamanya, memasuki ruanganku. Satu detik setelah pintu tertutup, Suci melepas tangannya. Sudah kuduga.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN