Siapapun rasanya bisa melihat dengan jelas bagaimana Azka dan adik-adiknya lebih nyaman ketika berada di rumah kakek-nenek dari pihak ibunya. Mereka serasa seperti berada di rumah sendiri. Rebahan di depan televisi dengan begitu nyaman. Membuka lemari pendingin untuk mengambil makanan dan minuman tanpa sungkan. Atau sekedar ke dapur mengecek eyangnya masak apa. “Yangti masih lama, Ma, masaknya?” tanya Rayhan pada ibunya yang baru dari kamar menidurkan Tegar. “Sudah lapar?” “Lumayan.” “Naufal saja masih tahan lho, perasaan kamu dari tadi gak berhenti ngunyah Papa lihat,” komentar Ali. “Ah, Papa, kalau di sini tuh nafsu makanku jadi meningkat.” Ali mencibir, sementara Ayu tertawa. “Sini lho, Rayhan, main catur kayak Azka,” ucap kakeknya. “Ah enggak. Nanti aku tambah lebih cepat lapar

