Om Yoga

1836 Kata
Hari ini aku bagi rapot. Ibu bilang kali ini aku tidak akan dinilai dengan huruf dan juga bintang lagi seperti di TK dulu. Bu Guru akan memberikanku nilai berupa angka. Kata Om Randi, nilai yang bagus itu di atas tujuh, dan syukurlah nilaiku selalu di atas itu. Om Randi, Tante Aul, Tante Winda, Paman Zito, Paman Aksa dan Bu Rasti sering membantuku dalam mengerjakan tugas, mereka memiliki keahlian masing-masing yang membuatku lebih mudah dalam belajar. Seperti Bu Rasti yang mengajarkanku soal Matematika, Om Randi yang mengajariku tugas menggambar di pelajaran kesenian dan Paman Aksa yang mengajariku mengaji. Mereka membuat aku meraih nilai tertinggi di kelas. Pagi ini Ibu berangkat lebih awal ke toko karena harus mencatat barang yang masuk, agar nanti bisa menemaniku untuk mengambil rapot. Aku berangkat bersama Bu Rasti yang mengajar TK, dan kini sedang menunggu Ibu bersama dengan Dirga dan Omnya yang sedang membeli kue. "Dirga kok bukan Bunda yang ambil rapot?" tanyaku ke Dirga. "Bunda masuk rumah sakit, diinfus, disuntik gitu deh," jawab Dirga. "Bunda Dirga sakit?" tanyaku memastikan. Sementara Dirga mengangguk di sela-sela kegiatannya mengunyah risol. "Temen Dirga, namanya siapa?" tanya Omnya Dirga sambil memberikanku sebuah risol. Aku menggeleng pelan karena Ibu tidak memperbolehkanku menerima makanan dari orang yang tidak kukenal. Dirga pun mengambil risol yang berada di tangan Omnya dan memberikannya kepadaku. Aku pun mengambilnya dengan senyuman. "Namanya Ute Om, dan Ute nggak mau makan makanan dari orang yang nggak dia kenal," jawab Dirga dengan mulut penuh. "Heh! Makan tuh jangan sambil ngomong! Keselek nanti kamu Dirga!" tegur Omnya Dirga yang membuatku tertawa. Sementara Dirga hanya berdecak kesal karena Omnya memarahinya. "Namanya Ute?" ulang Om itu yang membuatku menganggukkan kepala. "Iya Om, namaku Ute." "Namanya bagus ya, cantik kayak kamu." "Om Yoga bohong, nanti Ute geer loh," timpal Dirga. Karena Dirga berbicara di saat makanan di mulutnya belum habis, ia pun tersedak yang membuat Omnya berdecak dan segera mengambil botol minum berbentuk pinguin di dalam tasnya dan membantu Dirga untuk minum. "Kalau dibilangin jangan ngeyel makanya, telen dulu makanannya sampai habis," tegur Om Yoga ke Dirga. "Jadi, Bunda Dirga nggak ke sini tapi Om yang ngambilin rapot buat Dirga?" tanyaku yang dijawab anggukkan oleh Om Yoga. "Ibu Ute kapan mau dateng? Tadi Bu Guru yang nitipin ke Om bilangnya Ibu kamu mau nyusul." "Ibu kerja dulu Om, baru nanti nyusul Ute." "Om, Ute ranking satu loh Om," kata Dirga sambil mengacungkan jari telunjuknya dengan antusias. "Noh, makanya belajar yang bener biar kayak Ute. Kamu mah setiap nelepon Om malah malak kaset PS, kapan belajarnya?" sindir Om Yoga yang membuat Dirga mencebikkan bibirnya kesal. "Udah ah! Om nggak usah nginep di rumah Dirga lagi!" sungut Dirga kesal yang membuat aku tertawa. "Udah pada selesai belum makannya? Nanti keburu pembagian rapotnya mulai loh," tanya Om Yoga yang kujawab dengan gelengan. "Dirga mau nambah ah!" "Dasar rakus!" ledek Om Yoga yang membuat Dirga memeletkan lidah dan mengambil satu risol lainnya. Setelah Dirga selesai menghabiskan risol ketiganya, kami akhirnya masuk ke dalam kelas. Om Yoga bersalaman dengan beberapa orangtua lainnya yang sudah datang dan memperkenalkan diri sebagai Omnya Dirga, Bundanya Dirga tidak datang karena penyakit yang disebut sebagai DBD oleh Om Yoga. Aku memilih untuk duduk bersama Dirga dan Omnya selama menunggu Ibu datang. Dirga menolak dipangku oleh Omnya sehingga Om Yoga memilih untuk memangkuku. Dirga sempat merengek karena pembagian rapot yang belum mulai. Ia bahkan sempat ingin keluar untuk bermain bersama Alen dan anak laki-laki lainnya yang Om Yoga larang pada awalnya, sampai akhirnya Om Yoga mengalah dan membiarkan Dirga berlarian di lorong kelas bersama dengan anak laki-laki lainnya. "Ute bosen?" tanya Om Yoga. Aku mengangguk pelan, lalu Om Yoga mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah permainan dengan gambar buah, aku hanya perlu memencet buah yang warnanya sama dan letaknya berdekatan, minimal tiga buah. "Kasian ya, masa bagi rapot aja Ibunya nggak dateng sih? Pake nitip sama Omnya Dirga segala." "Eh, bener nggak sih Bu, katanya dia itu anak haram?" "Nggak tau sih Bu, tapi bapaknya nggak pernah keliatan." "Jangankan bapaknya, Ibunya aja jarang kelihatan." Aku menoleh saat merasakan pergerakan yang tidak enak dari Om Yoga yang sedang memangkuku. Wajahnya kini terlihat gelisah sambil memandang ke arahku dengan penuh tanda tanya. "Om kenapa?" Om Yoga menggeleng pelan sebelum lebih mendekap tubuhku sehingga punggungku kini bersandar di dadanya. "Om tau nggak anak haram itu apa?" tanyaku pelan yang membuat pelukan Om Yoga di tubuhku mengendur. "Ute tau dari mana istilah itu?" tanya Om Yoga pelan. "Orang-orang sering sebut Ute kayak gitu kalau nggak ada Ibu. Pas Ute tanya Ibu, Ibu nggak jawab, malah marah. Bu Rasti juga nggak jawab. Om tau nggak itu apa?" Om Yoga tidak menjawab, tetapi ia mengusap kepalaku dengan lembut. "Ute punya Ayah?" tanya Om Yoga tiba-tiba. Aku menaruh ponsel Om Yoga yang masih menampilkan permainan itu sebelum menjawab, "Ute nggak tau Ayah Ute di mana, Om. Ibu bilang Ayah kerja." Om Yoga mendekapku semakin erat dan menunjukkan kembali ponselnya yang masih menjalankan permainan sebelumnya. "Kita lanjutin mainnya ya, sekarang Ute pakai ini biar musiknya kedengeran." Paman Yoga lalu memasangkan sebuah kabel di kedua kupingku, dan kini aku bisa mendengar musik permainan dengan lebih jelas. Aku masih asik bermain sampai acara pembagian rapot pun dimulai. Tidak lama kemudian, pintu ruang kelas diketuk dan terbuka. Ibu kini sudah datang, hal itu membuatku tersenyum sangat lebar dan melambaikan tangan. Ibu tersenyum ke arahku, dan begitu ia mendekati meja tempat aku dan Om Yoga duduk, langkahnya terhenti. "Sekar..." ucap Om Yoga. "Yoga..." Suasana hening cukup lama. Ibu seperti patung yang tak dapat bergerak di tempatnya. "Lutte Wandan Putri?" Suara Ibu guru terdengar dan membuat Ibu kembali bergerak. Ibu yang belum sempat untuk duduk kemudian melepas kabel yang ada di kedua telingaku dan langsung menuntunku ke depan kelas dengan langkah terburu-buru. Bu Guru memberikan aku dan Ibu selamat karena aku mendapatkan peringkat satu di kelas. Ibu hanya mengucapkan terima kasih dan tersenyum. Padahal Ibu bilang ia akan bertanya kepada Bu Guru tentang keseharianku di sekolah, tetapi ini tidak. Ibu terkesan terburu-buru. Bu guru memberikanku nasihat untuk mempertahankan prestasi, dan meminta Ibu untuk membantuku dalam proses mempertahankan itu. Setelah selesai berbincang dengan Bu Guru, ibu langsung pamit dan menggandengku untuk keluar dari dalam kelas. "Ute udah ngambil rapotnya?" tegur Dirga. Aku mengangguk pelan sebagai jawaban karena langkah Ibu sama sekali tidak berhenti. Ia terus berjalan tanpa menghiraukan Dirga yang menyapaku. Tubuhku bahkan hampir beputar karena mencoba melihat Dirga sambil berjalan di samping Ibu. "Bu," tegurku sambil menarik baju Ibu. Ibu tidak menoleh, tapi wajahnya memerah dan terlihat ingin menangis sekarang. "Ibu nangis?" tanyaku bingung. Aku meraih nilai paling tinggi bukan? Lalu kenapa Ibu menangis? Dirga terus memanggilku, tetapi Ibu menangis. Aku bingung. Jadi aku memilih untuk menghentikan langkah yang membuat langkah Ibu ikut terhenti. "Ute, ayo pulang," titah Ibu yang kini menolehkan wajah ke arahku. Aku menengok ke belakang dan Dirga kini melambaikan tangannya seakan sudah tau kalau Ibu menyuruhku untuk pulang. Ibu akhirnya menggendongku dan kembali melanjutkan langkahnya. Wajahku yang menghadap belakang tubuh Ibu membuatku bisa melihat Dirga yang kembali melambaikan tangannya. Aku pun membalas lambaiannya. Saat yang bersamaan pintu kelasku terbuka, dan Om Yoga keluar dari dalam kelas. "Sekar!" teriak Om Yoga. Teriakan Om Yoga membuat Ibu mempercepat langkahnya. Sementara Dirga kini sedang menghadang Om Yoga dan bertanya soal rapotnya. Om Yoga terlihat berlari yang membuat Ibu langsung berbelok dari gerbang sekolah ke arah rumah kami. "Sekar!" lagi-lagi teriak Om Yoga. "Bu, yang dipanggil Om Yoga Ibu bukan?" tanyaku memastikan. Karena aku tau kalau nama ibu adalah Asri Sekar. Ibu tetap diam dan tidak menjawab, kini langkahnya terasa semakin cepat, bahkan hampir berlari. Aku pun memeluk leher Ibu lebih erat karena takut terjatuh. "Sekar!" teriak Om Yoga, kini Om Yoga sudah semakin dekat dan Dirga juga ikut berlari di belakangnya. Langkah Ibu terhenti saat Om Yoga menyentak tangan Ibu dan mengambil alihku dari gendongannya. Rapot milikku sampai jatuh ke tanah karena perbuatan Om Yoga yang tiba-tiba. "Sekar?" ulang Om Yoga. Kini Om Yoga tidak berteriak. Aku mencoba untuk memberontak dan turun untuk melihat Ibu, tapi cengkraman Om Yoga cukup kuat sehingga aku tetap bertahan dalam gendongannya. Aku pun memilih untuk menoleh ke arah Ibu. Saat aku menoleh, aku melihat Ibu sedang menangis. Air matanya menetes, hidung dan matanya memerah. "Ibu... Ibu kenapa nangis?" tanyaku bingung. "Bisa jelasin ke aku kenapa kamu tiba-tiba menghilang?" tanya Om Yoga ke Ibu. Suaranya yang tadi berteriak kini berubah seperti orang yang mau menangis. Om Yoga sempat oleng saat Dirga tiba-tiba mendorong tubuhnya dari belakang. Ternyata Dirga sudah berhasil menyusul kami. "Om! Rapot Dirga gimana?" Dirga bertanya dengan napas terengah. "Loh? Ibu Ute kenapa nangis?" tanya Dirga begitu sadar Ibuku sedang menangis. "Sekar... delapan tahun kamu menghilang, dan sekarang yang kamu lakukan cuma nangis? Kamu nggak ngasih penjelasan apa pun untuk aku?" Om Yoga mengabaikan Dirga dan malah bertanya kepada Ibu. Aku memilih untuk kembali memberontak, dan kini Om Yoga membiarkanku untuk turun. Aku mengambil rapotku yang terjatuh dan memeluk kaki Ibu. "Aku butuh penjelasan, Sekar." Ibu kini semakin terisak yang membuatku semakin bingung. "Ibu..." ucapku sambil menarik ujung baju Ibu. Om Yoga melihat ke arahku sebelum kembali menatap Ibu dan bertanya, "Ibu? Ute anak kamu?"  "Om?" tegur Dirga. Dirga juga terlihat bingung saat ini. "Sekar, tolong jawab!" bentak Om Yoga. "Iya... Ute anakku," jawab Ibu. Om Yoga kini berjongkok dan mengusak rambutnya dengan kasar. Dirga yang melihat hal itu pun menghampiri Omnya dan menarik kerah bajunya dengan pelan. "Om, rapot Dirga gimana?" Ibu menghapus air matanya dan mengambil rapot yang ada di tanganku sebelum kembali menggendongku. "Ibu..." gumamku pelan. Ibu tidak menjawab pertanyaanku, ia hanya memelukku dan mencium kepalaku dengan lembut. "Kita pulang." "Nggak ada kah niat untuk kamu menjelaskan semuanya ke aku Sekar?" tanya Om Yoga yang kini sudah menggendong Dirga di punggungnya. "Untuk apa?" jawab Ibu. "Untuk apa kata kamu?!" tanya Om Yoga tidak percaya. "Yoga!" tegur Ibu, "di sini ada anak kecil. Tolong jaga omongan kamu." "Aku perlu penjelasan Sekar!" "Bukan sekarang waktunya!" balas Ibu tegas. "Lalu kapan? Sampai kamu menghilang dari hidup aku lagi?!" "Yoga, tolong..." mohon Ibu. "Om, rapot Dirga..." cicit Dirga pelan. Om Yoga terlihat menghela napas dan mengusap wajahnya dengan kasar. "Dirga tau rumah Ute?" tanya Om Yoga ke Dirga. Dirga menganggukkan kepalanya meski wajahnya terlihat bingung. "Nanti anter Om ke sana setelah Om ambil rapot kamu," kata Om Yoga yang dijawab anggukkan lagi oleh Dirga. "Sekar," kini Om Yoga memandang Ibu. "Aku mohon jangan menghindar." Setelahnya Om Yoga membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan ke arah sekolah dengan Dirga yang masih berada di gendongannya. Ibu masih terdiam di tempat bahkan setelah Om Yoga menghilang dari pandangan kami berdua. Aku pun menegur Ibu dengan pelan, "Bu?" Ibu yang sepertinya baru tersadar kini membenarkan posisiku dalam gendongannya dan mulai berjalan pelan ke arah rumah. "Ibu kenapa?" tanyaku bingung. Sebab aku tidak pernah melihat Ibu menangis saat pertamakali bertemu dengan orang. Bukannya jawaban yang aku dapatkan, melainkan sebuah pelukan. Pelukan yang sangat erat yang sampai membuatku susah bernapas. "Ibu..." "Tolong jadi kekuatan untuk Ibu Sayang... Di dunia ini, Ibu hanya punya kamu." *** Andai saja aku bisa memaknai lebih jauh perkataan Ibu saat itu...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN