Jangan pergi, Ayah

2181 Kata
Suara ribut-ribut membuatku terbangun dari tidur. Aku melihat Ibu, Tante Winda dan Bu Rasti sedang sibuk mengobrol. Aku menggerakkan tanganku ke samping untuk meraih boneka beruang coklat pemberian Paman Aksa semalam. Paman Aksa sudah tidak ada, pasti ia sudah bekerja karena matahari sudah muncul. "Sekar, orang bilang anak kecil itu lebih peka akan ketulusan seseorang dibandingkan dengan kita orang dewasa. Kalau Ute sudah memilih Mas Aksa sebagai Ayahnya, dan Mas Aksa udah ngelamar kamu, apa alasan kamu untuk menolak?" Tante Winda terlihat kesal sekarang. Ia berbicara sambil menggerakkan tangannya seperti dirijen paduan suara. "Karena Yoga, Omnya Dirga, mantan pacar Sekar, kembali ke kehidupannya Wind," timpal Bu Rasti. "Bukan itu, Ras!" sanggah Ibu. "Kamu menolak ajakan kakak aku untuk nikahin kamu karena kamu nggak mau dikasihani dan Ute belum membuka dirinya untuk Mas Zito. Lalu untuk Mas Aksa yang sudah jelas-jelas diinginkan oleh Ute kamu masih bereaksi sama?" "Aku takut Mas Aksa hanya kasihan sama aku Winda!" "Kalau begitu kamu tanya, maksud dia itu apa dan gimana. Kalau dia mau jadi Ayah Ute, berarti kamu jadi istrinya. Hubungannya nggak hanya sama Ute, tapi sama kamu, bahkan lebih jauh lagi." "Wind, jangan terlalu keras sama Sekar, dia lagi bingung sekarang." "Mohon maaf kalau perkataanku menyinggung kamu ya, Sekar. Seorang laki-laki yang bersedia untuk menikahi seseorang yang sudah memiliki anak itu hanya dua kemungkinannya. Pertama atas dasar cinta, kedua atas dasar keuntungan. Menurutku rasa kasihan itu hanya pembelaan kamu yang belum berani untuk membuka hati kamu untuk laki-laki lain. Be realistic, Sekar. Yoga belum tentu menerima Ute seperti Mas Aksa menerimanya. Begitupun sebaliknya. Kalau prioritas kamu sekarang Ute, kamu menyia-nyiakan kesempatan emas." "Wind, kamu ngomong gini nggak karena Mas Zito ditolak waktu itu kan?" "Sorry to say, but yes. Gue masih salty soal Mas gue yang ditolak. Untuk masalah hati emang gue nggak bisa urusan, toh alasan Sekar juga bener karena Mas Zito nggak selengket Randi ataupun Mas Aksa sama Ute. Cuma kalau Mas Aksa ini Ute loh yang minta..." "Wind, Sekar masih punya trauma psikologis maupun fisik sama laki-laki. Nggak sembarangan orang bisa dia terima. Aku yakin di hati kecilnya tetap Ute lah yang dia prioritaskan. Tapi luka masa lalu itu sulit untuk disembuhkan Wind." "Sekar, menurutmu Mas Aksa gimana? Aku nggak nanya dia sebagai sosok Ayah untuk Ute. Aku nanya dia sebagai sosok laki-laki untuk kamu,” tanya Bu Rasti. "Mas Aksa ... baik." "Baik itu relatif. Baik dari segi apa, dan yang paling penting gimana perasaan kamu ke dia." "Wind, kamu terlalu menekan, Sekar." "Ras, kamu tau betapa kalutnya aku saat denger kabar Ute muntah darah? Aku seorang Ibu dan aku tau rasanya. Ngeliat Stefan disuntik aja aku gemeteran. Ini Ute sakit, bahkan sampai separah itu!" "Aku menyesal Wind, sungguh. Demi apa pun aku nggak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi sama anak aku. Tapi aku bukan kamu yang hidup berkecukupan dan mempunyai seorang sandaran seperti Yira. Kejadian malam itu benar-benar jadi puncak perubahan segalanya. Aku kehilangan kehormatan, harga diri, kepercayaan, dan juga kepercayaan diri. Semua menguap, Wind. Aku ngerasa nggak pantas untuk Mas Aksa." Aku hanya bisa melihat punggung ketiganya yang masih terus berbicara dengan menggunakan suara yang cukup kencang. "Sekar... kalau kamu terus-terusan terpuruk, kamu akan merasa tidak pantas untuk bersanding dengan siapa pun. Berhenti menghakimi diri kamu sendiri. Kamu nggak salah, Sekar." Bu Rasti terlihat memeluk Ibu, dan Tante Winda kini menangis. "Kadang kala kebahagian itu harus kamu jemput, jangan hanya diam di tempat sampai ia datang menghampiri, karena kebahagiaan pun memerlukan sedikit petunjuk untuk menemukan pemiliknya, Sekar. Kebahagiaan itu sudah sangat dekat sama kamu, tinggal bagaimana kamu meresponnya." Lalu ketiganya saling berpelukan. Mungkin kalau ditambah Tante Aul mereka akan terlihat seperti teletubies. "Ibu..." Ibu segera menghampiriku dengan wajah yang memerah dan pipi yang sedikit basah. "Kenapa Sayang?" "Ayah di mana?" "Ayah kerja, Sayang." Meskipun aku sudah mengetahui dengan pasti, aku hanya ingin mendengar jawaban dari bibir Ibu. Aku takut jika ini semua cuma mimpi, dan saat aku terbangun, aku tidak punya 'Ayah' lagi. "Tapi Ayah nanti ke sini lagi kan, Bu?" "Nanti malam Ayah ke sini lagi. Sekarang Ute makan dulu yuk, habis itu Ute minum obat." "Ute minum obatnya mau nunggu Ayah." "Ute cantik, kalau mau cepet pulang ke rumah harus minum obatnya ya Sayang," nasihat Bu Rasti kepadaku. Aku menggeleng pelan dan memilih untuk memainkan pita di leher boneka beruang. "Ih, kok keponakan Tante jadi manja gini sih? Hayooo... mana Ute yang dulu suka cerita ke Tante Winda kalau udah pinter makan sendiri sama pinter minum obat," ledek Tante Winda. Tante Winda mengambil nampan besi yang berisi makanan dan mendekatiku. "Tante Winda suapin ya Sayang?" "Dedek Stefan mana Tante?" "Stefan nggak boleh ke sini, di rumah sakit banyak kuman yang nggak kelihatan, Sayang. Nanti Stefan bisa ikut sakit. Makanya kakak Ute makan ya biar bisa ketemu Stefan lagi nanti." "Tapi Ute mau nunggu Ayah..." jawabku sambil menggeleng dan menolak suapan Tante Winda. Bu Rasti kini tiba-tiba menggeser posisi Tante Winda dan berada di sebelahku. Lalu Bu Rasti menunjukkan ponselnya yang kini terlihat wajah Paman Aksa. "Ute udah bangun?" tanya Paman Aksa di layar. "Udah Ayah." "Ute kenapa nggak mau makan sama minum obat?" "Ute nunggu Ayah," "Ayah pulang malem Sayang, sedangkan Ute harus minum obat tiga kali sehari," ucap Paman Aksa sambil memperlihatkan tiga jari di tangan kanannya. "Ute mau ke danau lagi kan? Mau ke Dufan lagi biar nanti liat boneka-boneka? Atau Ute mau Ayah ajak berenang?" tanya Paman Aksa yang membuatku sedikit antusias dan melirik ke arah makanan yang ada di tangan Tante Winda. "Dimakan makanannya sama minum obatnya ya, Sayang. Nanti Ayah ajak Ute jalan-jalan lagi. Ayah kerja dulu ya? Dadah!" Aku melambaikan tangan ke arah Paman Aksa sampai gambar di layar mati. Tante Winda tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menyuapiku. Aku pun membuka mulutku dan berharap bisa segera keluar dari rumah sakit dan bisa menghabiskan waktu bersama Ayah. Setelah selesai makan dan minum obat dibantu oleh Tante Winda dan Bu Rasti sementara Ibu hanya banyak terdiam di dekat lemari, aku melihat kartun di ponsel besar yang Tante Winda bawa. Kartun yang menayangkan cacing berwarna merah dan kuning itu sangat lucu. Tante Winda menghentikan videonya setelah dua kali diputar, karena sudah waktunya untuk tidur siang. Tante Winda pun pamit karena harus menemui Stefan. Saat aku akan tertidur, Ibu menghampiriku dan memasangkanku sebuah gelang di kaki dengan huruf 'S' yang menggantung kecil yang sangat lucu. "Sekar, itu kamu beli buat Ute?" tanya Bu Rasti. "Bukan, Ras. Gelang itu dari Mas Aksa." *** Sudah sekitar seminggu aku dirawat di Rumah Sakit, dan rasanya begitu bosan. Meskipun Tante Winda sudah meminjamkan ponsel besarnya sehingga aku bisa menonton cacing merah dan kuning itu sepuasnya, tapi aku tetap merasa bosan.  "Ute ini bunga melatinya ibu buang aja ya? Udah busuk," kata Ibu yang sedang membereskan barang-barangku untuk pulang ke rumah. "Kalau Dirga nanyain gimana, Bu?" "Nanti Ibu bilang kalau bunganya udah busuk. Lagian bunga itu seharusnya dirawat dan dijaga, bukan dipetikin." "Tapi kan bunganya wangi, Bu." Kegiatan Ibu yang sedang melipat baju terhenti dan menghampiriku yang bosan menatap dua cacing yang sedang mengeluarkan kentut berwarna kehijauan. Ibu lalu membelai rambutku dengan lembut dan kemudian duduk di hadapanku. "Ute tau nggak apa yang membuat sebuah bunga itu cantik dan wangi?" Bukannya semua bunga itu cantik dan wangi? makanya dinamakan bunga. Pertanyaan Ibu terlalu susah. Aku menggelengkan kepalaku dan menatap Ibu dengan penasaran. "Emang apa, Bu?" "Yang membuat bunga itu cantik dan wangi adalah pohonnya, tempat asalnya di mana bunga itu bisa mendapatkan nutrisi penuh, sehingga ia bisa mekar dan juga wangi. Kalau bunga itu dipetik dan dicabut begitu saja, bunga itu perlahan akan mati dan layu, Sayang. Bunga nggak akan bertahan lama tanpa tempat tinggal yang seharusnya." Suara Ibu mulai terdengar serak dan matanya berkaca. "Ibu kok nangis?" tanyaku saat melihat air mata Ibu yang mulai turun. Aku menghapus air mata Ibu dengan pelan dan mencium pipinya.  "Ute nggak akan metik bunga lagi deh, Bu. Nanti Ute juga bilang ke Dirga untuk nggak petik bunga lagi supaya Ibu nggak nangis." Ibu tidak menjawabku, ia hanya memelukku dan membawaku ke pangkuannya. Tanganku yang baru diplester karena bekas diinfus terasa sakit sehingga aku sedikit berteriak waktu Ibu memindahkanku ke pangkuannya. Setelahnya Ibu menggenggam tanganku yang sakit dan menciumnya berkali-kali sambil meminta maaf.  "Bu, Ayah beneran jemput Ute buat pulang kan?" tanyaku memastikan. Soalnya Ibu bilang Ayah akan menjemput kami saat kami akan pulang nanti. Dan aku belum boleh pulang kalau belum menghabiskan makanan dan obatku. Begitu Ibu bilang Ayah akan menjemput, aku langsung menghabiskan sarapanku. "Ayah harus izin dulu ke kantornya, jadi nanti agak siangan jemput Utenya. Ute yang sabar ya," Aku mengangguk dan menyandarkan tubuhku ke tubuh Ibu. Ibu memelukku sambil mengelus pipiku dengan lembut. "Anak Ibu udah gede ya sekarang," ucap Ibu. Aku tertawa dan memeluk Ibu. "Kata Bu Rasti, Ute harus cepet gede biar bisa ngelindungin Ibu." "Ibu yang akan lindungin kamu Sayang, sampai kapan pun itu Ibu akan tetep lindungin Ute." "Kalau gitu Ute akan lindungi Ibu dan Ibu juga akan lindungin Ute. Nanti Ayah yang lindungin kita berdua. Ya kan Bu?" tanyaku dengan antusias. "Ute beneran mau Ayah?" tanya Ibu. Aku tentu saja menganggukkan kepalaku mengiyakan. Punya Ayah seperti Paman Aksa benar-benar menyenangkan. Ia selalu membuatku senang dan mengabulkan semua keinginanku. "Ute janji ya sama Ibu jangan buat Ibu khawatir lagi? Kalau Ute sakit, bilang. Kalau ada yang jahatin Ute, bilang. Kalau Ute terluka, bilang. Mulai sekarang Ibu akan lebih sering ada di rumah untuk Ute. Ute janji ya?" "Kalau Ibu di rumah berarti Ibu nggak kerja lagi? terus Ute nggak bisa sekolah sama nggak bisa makan dong Bu?" tanyaku sedih. "Enggak Sayang, enggak gitu. Maafin Ibu yang udah salah ngasih pengertian ke kamu ya?" "Terus yang bener apa, Bu?" "Ute tetap bisa sekolah dan makan karena udah ada Ayah sekarang." Suara Paman Aksa membuatku menoleh. Aku bangun dari pelukan Ibu dan meneriakkan kata Ayah dengan begitu kencang. Paman Aksa menghampiri dan menggendongku yang merentangkan tangan lebar-lebar. "Yeay! Ayah jemput Ute." "Iya Sayang, Ayah jemput Ute. Ute udah lama nunggu Ayah?" tanya Paman Aksa sambil mencium kepalaku. Aku mengangguk dan memeluk Paman Aksa, menyandarkan badanku pada bahunya yang jauh lebih lebar dari milik Ibu. "Cacing kuning sama merahnya sampe Ute ulang-ulang buat nungguin Ayah," jawabku jujur. Paman Aksa tertawa dan berjalan menghampiri Ibu yang kini memegang ponsel besar milik Tante Winda. Paman Aksa lalu mengambil benda itu dari tangan Ibu dan memutar video yang ada di sana sementara Ibu kembali melanjutkan membereskan pakaianku. "Ute liat deh, ini apa?" tanya Paman Aksa sambil menunjuk kedua binatang berwarna kuning dan merah di dalam layar. "Cacing," jawabku. "Ini bukan cacing sayang, ini ulat. Kalau cacing tubuhnya lebih panjang, ini pendek," ujar Paman Aksa yang membuatku kaget. "Jadi Ute salah dong?" "Nggak salah, tapi belum tau," koreksi Paman Aksa. "Kamu sampai merhatiin sedetail itu, Mas?" tanya Ibu ke Paman Aksa. Paman Aksa tersenyum dan menggaruk kepalanya, lalu ia menaruh ponsel besar itu di atas kasur dan memangkuku yang kini duduk menghadap ke arahnya. "Saya sebenernya nggak merhatiin detail, tapi pas saya tanya temen saya soal boneka cacing berwarna kuning dan merah orang-orang kantor ngetawain saya dan mengoreksi kalau itu ternyata ulat." Ibu tertawa dengan kencang mendengar ucapan Paman Aksa. Wajah Paman Aksa kini berwarna kemerahan yang membuatku memegang kedua pipinya. "Ayah mukanya merah," "Itu karena kamu Ute, coba kamu nggak bilang cacing ke Ayah, Ayah nggak akan diketawain sama temen-temennya," ucap Ibu masih dengan tawa. "Ute nggak salah, saya yang nggak ngecek dan mastiin itu kartun apa. Cuma denger dari omongan Ute aja." Paman Aksa melepaskan tanganku dari pipinya dan mencium kedua tanganku secara bergantian. "Saya udah selesai beresin barang- barangnya Ute Mas, kita pulang sekarang?" "Ayo, saya bawa mobil di luar." "Sejak kapan Mas Aksa punya mobil?" tanya Ibu dengan heran. "Adik saya bilang kalau bawa anak kecil sebaiknya menggunakan mobil karena nggak akan terlalu terpapar polusi. Lagipula Ute baru sembuh, Sekar." "Itu nggak ngejawab pertanyaan saya, Mas. Mas nggak nyewa mobil hanya untuk jemput kami kan?" "Oke kalau kamu mau tau jawabannya. Sejak saya melamar kamu. Saya rasa adik saya benar, makanya saya memutuskan untuk mengirim mobil saya yang ada di Solo ke sini." "Kami sudah terlalu merepotkan Mas, jangan melakukan hal yang tidak perlu." "Saya melakukan ini semua untuk Ute, Sekar. Tolong jangan sungkan saat kamu sudah bersedia menerima saya sebagai Ayah Ute." "Tapi Mas—" "Ute butuh istirahat, dan saya rasa tempat yang tepat bukan di sini. Kita bisa membicarakan lagi hal ini nanti." Saat Paman Aksa bangun dari duduknya aku hanya mengaitkan kedua tanganku ke lehernya. Mataku sudah terasa sangat berat, mungkin karena ini sudah waktunya tidur siang dan aku baru saja selesai minum obat yang selalu membuatku mengantuk tidak lama setelah meminumnya. Paman Aksa lalu mengambil tas barbie berwarna pink milikku dan menyampirkannya di bahunya yang lain yang berlawanan dengan keberadaan tubuhku. Sementara Ibu membawa tas jinjing kecil yang berisi pakaian kotor milikku. "Ayah?" gumamku pelan saat Paman Aksa dan Ibu mulai berjalan melewati lorong Rumah Sakit yang panjang. Ibu mengikuti kami tidak jauh di belakang. "Jangan pergi sampai Ute bangun ya?" "Ayah nggak akan pergi Sayang, nggak akan."   *** Dunia terasa begitu indah pada saat itu, Dan kuharap semua akan bertahan hingga akhir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN