Penerimaan

3468 Kata
Aku tebangun dari tidur dan tidak melihat Ibu maupun Paman Aksa di sampingku. Aku segera keluar dari kamar sambil meneriakkan kata 'Ayah'.  Begitu aku keluar dari dalam kamar Ibu menghampiri dan memelukku sambil mengarahkan jari telunjuknya ke bibirku.  "Ayah mana, Bu? Ayah bilang nggak akan pergi sampe Ute bangun?" tanyaku dengan sedih. Ibu menggeser tubuhnya hingga tubuh Paman Aksa yang sedang tertidur di kursi terlihat. "Ayah lagi tidur," jawab Ibu sambil menolehkan kepalanya ke arah kursi. Aku berjalan pelan dan menghampiri Paman Aksa yang tertidur dengan salah satu bantal milikku yang bergambar winnie the pooh, pemberian dari Tante Winda. Paman Aksa terlihat begitu pulas. Aku sangat senang karena Paman Aksa menepati janjinya, tapi kenapa Paman Aksa malah tidur? Ibu mengangkat tubuhku dan memangkuku di kursi sebelah Paman Aksa. Ibu membereskan rambutku dengan tangannya dan mengikatnya menjadi kuncir kuda. "Ute ada yang dirasa nggak? Ada yang sakit?" tanya Ibu. Aku menggeleng. Aku sudah tidak merasa sakit saat ini. "Kok Ute murung, kenapa?" "Ayah bilang mau ngajak main." "Ute kan masih sakit, Sayang. Lagian Ayahnya capek, Ayah baru pulang dari kantor dan langsung jemput Ute." Aku masih menekuk bibirku karena aku masih ingin mengobrol dengan Paman Aksa. Aku masih ingin bercerita banyak tentang sekolah, tentang Kak Dina yang sering jahat kepadaku, dan juga tentang keinginanku yang masih banyak lagi.  Ibu menggendongku ke dalam kamar dan menunjukkan banyak hadiah dan boneka yang aku dapatkan selama aku sakit. Sebagian besar dibeli oleh Paman Aksa. "Lihat semua hadiah yang Ute dapet?" tanya Ibu yang membuatku mengangguk. "Siapa yang kasih?" "Ayah, Om Randi, Paman Zito, Tante Winda." "Ayah beli itu semua pakai apa?" "Pakai uang, Bu." "Ute tau kan kalau untuk dapat uang, seseorang itu harus kerja, dan itu yang Ayah lakuin." Aku mengangguk pelan dan mengeratkan pelukanku di dalam gendongan Ibu. Padahal aku hanya ingin bermain bersama Ayah saat ini, kenapa susah sekali?  Ibu masuk ke dalam kamar dan mengambil pensil warna dan buku mewarnai baru yang Tante Winda berikan. Ibu mengajakku untuk kembali ke depan. Tapi begitu kami sampai pintu kamar, Paman Aksa sudah berdiri di sana. "Ayah!" pekikku dengan senang. Aku segera melompat dan Paman Aksa menyambut tubuhku dengan tangannya yang panjang. "Ute udah bangun?" tanya Paman Aksa yang kujawab dengan anggukkan penuh semangat. "Ute sekarang mau mewarnai," ucapku sambil menunjuk ke arah Ibu. Paman Aksa melihat ke arah Ibu yang kini memegang buku mewarnai milikku dan mengambilnya dari Ibu. "Ayo mewarnai sama Ayah," ajak Paman Aksa. "Ayo!" jawabku semangat. Paman Aksa lalu menggendongku ke depan dan mulai menggelar buku gambar dan pensil warnaku di atas meja. "Kamu udah tidurnya Mas? Kalau masih mau istirahat, istirahat aja." "Udah kok, lagian saya cuma nemenin Ute mewarnai, bukan lari marathon," timpal Paman Aksa sambil tertawa. "Mau kopi atau teh Mas?" "Teh aja," jawab Paman Aksa. "Ute mau minum s**u nggak?" "Mau Bu! s**u coklat ya!" pintaku dengan senang. Aku lalu mulai mewarnai gurita dan beberapa hewan laut yang ada di buku mewarnai, sementara Paman Aksa mengawasiku dan terkadang memberitahu warna yang harus kupakai. "Yah, ikan ini bagusnya warna apa?" "Itu ikan dori yang di finding nemo. Warnanya biru," jawab Paman Aksa. "Finding nemo itu apa?" "Itu film Ute, film tentang Ayah ikan yang mencari anaknya yang diculik sama manusia dari lautan tempat dia tinggal." "Ayah ikannya sayang sama anaknya ya, Yah?" "Pastinya Ute. Buktinya Ayah ikan cari anaknya yang diculik dengan jarak yang jauh." "Ayah sayang Ute nggak?" "Ayah sayang sama Ute," "Kalau sama Ibu?" Paman Aksa terdiam. Ia terlihat kebingungan. Aku masih terus menatap Paman Aksa yang masih menatapku dengan bingung. Saat Ibu muncul membawa nampan yang berisi teh dan juga s**u milikku Paman Aksa menjawab, "Ayah juga sayang sama Ibu." Nampan yang Ibu bawa terjatuh dan gelasnya pecah. Ibu buru-buru mengambil dan membereskan gelas itu sementara Paman Aksa memindahkanku dari pangkuannya dan mendudukanku di kursi. "Ibu, Ibu berdarah!" seruku saat melihat jempol kaki Ibu mengeluarkan darah. Kaki Ibu juga berwarna kemerahan. Aku baru saja ingin menghampiri Ibu, tapi Paman Aksa melarangku. "Ute di sini banyak beling. Nanti kamu bisa kena." "Ute Sayang, duduk di kursi ya," pinta Ibu yang aku angguki. Paman Aksa membantu Ibu membereskan pecahan gelas dan membantu Ibu yang berjalan tertatih untuk duduk di kursi. "Kamu punya plester dan obat merah?" tanya Paman Aksa yang diangguki oleh Ibu. Ibu menunjuk lemari dan Paman Aksa mengambil obat dari sana. Ibu sedikit meringis perih saat Paman Aksa mengobatinya. "Lukanya cukup lebar, kaki kamu juga kayaknya kena luka bakar karena kena air panas. Mau ke dokter nggak?" tanya Paman Aksa yang dijawab gelengan oleh Ibu. “Ada salep luka bakar di lemari yang sama Mas.” Paman Aksa kembali beranjak menuju lemari dan mengambil sebuah salep warna putih dari dalamnya, kemudian ia mengoleskan salep itu ke kaki ibu yang berwarna kemerahan dengan perlahan, ia juga meniupnya. Melihat Paman Aksa yang meniup kaki ibu, aku pun turut melakukan hal yang sama yang membuat senyum di bibir Paman Aksa terkembang. “Pintar,” pujinya. “Yakin nggak mau ke dokter, Sekar?” tanya Paman Aksa memastikan. Ia terlihat khawatir memandang kaki ibu yang masih terlihat memerah. "Nanti juga sembuh Mas, saya bikinin teh nya lagi ya?" Paman Aksa menggeleng dan menolak. Ia lalu membereskan dan membawa serpihan gelas ke tempat s****h, lalu memastikan tidak ada pecahan gelas yang tersisa. Aku mengelus kaki ibu yang memerah dengan pelan, hal itu membuat ibu berjengit. "Sakit ya Bu?" "Nggak Sayang. Nggak sakit ko," ucap Ibu sambil mencium pipiku. Paman Aksa lalu menghampiri kami berdua dan berjongkok di depanku. "Ute masih mau s**u nggak? Kalau mau, bantu Ayah bikin susunya yuk," ajak Paman Aksa. Aku pun mengangguk dan Paman Aksa menggendong tubuhku di belakang dan kami menuju dapur. Aku memberitahu tempat s**u milikku dan ia mulai membuat s**u untukku. Setelah membuat dua gelas teh dan juga s**u, Paman Aksa membawanya ke depan. Paman menaruh nampannya di meja dan memangkuku. Ia lalu memberikan satu gelas teh untuk Ibu dan memangku aku. "Ayo diminum, Sekar." Tangan Ibu yang memegang gelas terlihat bergetar. Paman Aksa kemudian menggenggam tangan Ibu dan menautkan jemariku dengan jemari Ibu. "Bilang sama Ibu, ada Ute di sini," bisik Paman Aksa di telingaku. "Bu, ada Ute di sini," kataku mengulang perkataan Paman Aksa. Ibu lalu tersenyum saat melihat Paman Aksa. "Saya mau untuk ketemu keluarga Mas di Solo," ucap Ibu yang membuat pelukan Paman Aksa di tubuhku menguat. "Minggu depan kita berangkat."   *** Ibu bilang kalau kami akan pergi ke tempat yang jauh bersama Paman Aksa. Paman Aksa membelikan kami sebuah tas besar berwarna biru yang memiliki roda. Warna lain yang kusuka selain pink. Paman Aksa mengajakku untuk pergi ke tempat yang ia sebut bernama mall.  Paman Aksa juga membelikanku banyak baju dan sebuah sepatu baru. Kami juga bermain di tempat yang penuh dengan mainan. Ada mainan yang dipukul, dilempar dan juga capit untuk mengambil boneka. Sayangnya ia tidak berhasil mendapatkan boneka itu. Sebagai gantinya Paman Aksa mengajak aku dan Ibu berfoto di dalam kamar yang sangat kecil.  "Ute fotonya kok dilihatin terus?" tanya Ibu yang melihatku terus menggenggam foto pemberian Paman Aksa. "Ute kangen Ayah." "Kan Ayah baru aja pulang, kata Ayah foto itu dikasih Ute juga biar Ute nggak kangen kan?" "Ayah nggak bisa di sini aja Bu? Om Randi kayaknya selalu di rumah buat Nindy. Kok Ayah enggak?" Ibu menghampiriku dan mendudukkanku di pinggir kasur. Lalu Ibu berlutut di depanku hingga tinggi kami sama. "Akan ada saatnya Ute akan tinggal sama Ayah, tapi nggak sekarang, jadi Ute harus sabar ya?" Aku mengangguk pelan menjawab ucapan Ibu. Karena mengantuk aku memilih untuk tidur sementara Ibu kini sibuk memasukkan baju milikku ke dalam tas besar beroda itu. "Fotonya mau dibawa tidur juga?" tanya Ibu yang kujawab dengan anggukkan. "Ute mau bobok sama Ayah." Saat aku bangun tidur, Ibu tidak ada di sampingku. Karena haus, aku pun turun dari tempat tidur dan berjalan ke dapur. Tapi saat keluar kamar aku melihat Ibu yang tidur di lantai dekat kursi.  Aku menghampiri Ibu dan menggoyangkan badannya pelan. "Bu, Ibu kok tidur di lantai?" tanyaku pelan. Tapi Ibu tidak menjawab. "Bu? Ibu bilang kalau tidur di lantai bisa sakit," ucapku sambil menggoyangkan tubuh Ibu lebih kencang. Tapi Ibu tetap tidak menjawab.  "Ibu bangun!" teriakku dengan suara yang lebih kencang. Melihat Ibu yang belum bangun juga, akhirnya aku berlari ke rumah Om Randi dan berteriak memanggil Om Randi. "Om! Ibu Ute!" teriakku dengan kecang. Aku mencoba membuka gerbang rumah Tante Aul yang cukup tinggi dengan susah payah. "Om! Tante Aul! Ibu nggak mau bangun!" Adzan Maghrib yang terdengar dari Masjid membuatku semakin bingung. Ibu bilang aku tidak boleh ada di luar rumah saat pergantian siang dan juga malam. "Om! Tante! Aduh kenapa susah dibukanya sih?" sungutku kesal.  "Ute? Ute ngapain?" Suara Paman Aksa membuatku menoleh. "Ayah!" pekikku sambil menaiki motor yang dikendarai Paman Aksa. "Ute kenapa? Kok sendalnya terbalik?" tanya Paman Aksa sambil membenarkan sendal milikku. "Ibu tidur di lantai Yah, Ute bangunin nggak bangun!" laporku. Paman Aksa langsung membenarkan posisiku dan langsung mengendarai motornya untuk sampai ke rumah. Ibu masih tertidur di lantai saat kami datang. Paman Aksa langsung menaruh bungkusan yang ia bawa di meja dan menggendong Ibu ke dalam kamar. "Ute, Sayang!" panggil Paman Aksa dari dalam kamar. Aku langsung menghampiri dan melihat Paman Aksa yang sedang menyelimuti Ibu. "Ute punya minyak telon, minyak angin atau balsem di rumah?" "Yang buat digigit serangga itu, Yah?" tanyaku yang diangguki oleh Paman Aksa. Aku segera mengambilnya di lemari depan dan kembali ke kamar untuk memberikannya ke Paman Aksa. Paman Aksa mengangkat tubuhku sehingga aku bisa melihat ibu dengan lebih jelas. Paman Aksa lalu menaruh botol minyak angin di sekitar hidung Ibu dan menuangkan beberapa tetes di tangannya. Ia lalu mengusapkan tangannya yang sudah dituang minyak angin di sekitar kepala Ibu. Sementara Paman Aksa masih sibuk dengan kegiatannya, aku menggenggam tangan Ibu dan memijatnya agar Ibu bangun. Tidak lama kemudian Ibu bangun yang membuatku segera memeluk Ibu. Paman Aksa yang melihat hal itu menarik tubuhku dari Ibu dan menggendongku. "Ute Ibunya baru bangun, biarin Ibu dapet udara yang banyak dulu ya?" ucap Paman Aksa. "Sekar, aku bikinin teh dulu ya?"  Paman Aksa lalu membuatkanku s**u dan segelas teh untuk Ibu. Paman Aksa membantu Ibu untuk bangun dan menyuapi ibu dengan teh secara perlahan. "Ute mau minum s**u?" tanya Ibu. Aku mengangguk pelan, dan tangan Ibu terulur untuk mengambil gelas s**u milikku. Kalau s**u terlalu panas, Ibu pasti akan menyuapiku, tapi Paman Aksa menahannya. "Biar aku aja yang suapin Ute, kamu istirahat aja." Paman Aksa lalu membawaku ke pangkuannya dan menyuapiku s**u dengan perlahan. "Ada yang dirasa? Apa kita perlu ke dokter Sekar?" Ibu menggeleng. "Nggak perlu Mas, saya cuma kecapekan aja." "Seharusnya saya nggak bawa kamu ke mall tadi." "Nggak kok Mas, saya seneng karena Ute seneng. Selama ini saya bahkan nggak punya kesempatan untuk ngajak Ute ke mall." "Masih ada lain hari. Lain kali kalau memang kamu kurang fit, nggak usah memaksakan. Karena kamu sendirian di rumah. Untung saya ketemu Ute tadi yang lagi teriak-teriak di depan rumah Randi. Randi lagi nggak ada di rumah karena ada syukuran di rumah adiknya." Tangan Ibu bergerak untuk mengelus kepalaku. "Makasih ya Sayang," ucap Ibu. "Jangan tidur di lantai lagi ya Bu," pintaku yang membuat Ibu tersenyum. "Kita beneran nggak perlu ke dokter?" "Nggak perlu Mas, mungkin saya kurang istirahat aja karena waktu Ute dirawat kemarin saya terus-terusan begadang." Aku sudah menyelesaikan minum s**u. Ibu yang melihat hal itu kini membawaku ke pangkuannya. "Makasih ya Mas, maaf selalu ngerepotin." "Jangan sungkan, Sekar. Kalau ada apa-apa kamu bisa bilang sama saya." "Ute ikut Ayah yuk, kita cari bubur buat Ibu. Biarin Ibu istirahat," ajak Paman Aksa sambil menjulurkan lengannya. Aku menyambutnya dan Paman Aksa menggendongku. "Nggak usah Mas, saya bisa bikin bubur sendiri," larang Ibu. "Saya juga mau nyicipin bubur buatan kamu, tapi nggak sekarang. Sekarang kamu istirahat sampai benar-benar pulih. Untuk perjalanan ke Solo, kita bisa nunda sampai kamu benar-benar fit." "Tapi Mas—" "Jaga kesehatan kamu Sekar, meskipun kamu mau lihat Ute seneng, bukan berarti kamu mengabaikan kesehatan kamu. Ute masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang harus dia lakukan saat kamu sakit." "Cuma Ute satu-satunya yang saya punya, dan melihat kebahagiaan Ute tentunya menjadi kepuasan tersendiri untuk saya." "Sekarang kamu juga punya saya, Sekar."                                      *** Seperti yang Paman Aksa bilang, kami akan melakukan perjalanan jauh hari ini. Paman Aksa membawakan tas besar beroda milikku dan Ibu untuk dibawa ke dalam mobil, dan memastikan tas barbie pink milikku yang berisi jajanan sudah masuk. "Sekarang jalanannya tol terus. Saya takut Ute pengen jajan di tengah jalan, makanya saya suruh kamu bawa jajanan," ucap paman Aksa. Ibu mengangguk sambil merapatkan jaket di tubuhku. "Nggak ada yang ketinggalan kan?" tanya Paman Aksa yang dijawab gelengan Ibu. "Saya udah bawa obat anti mabuk buat Ute dan minyak angin. Saya juga bawa minuman penambah energi untuk kamu, Mas." Paman Aksa tersenyum dan mengangguk. Ia menghampiriku yang berada di gendongan Ibu. "Ute siap buat jalan-jalan jauh?" "Siap dong!" jawabku dengan riang. Paman Aksa mengusap kepalaku dan memujiku. "Anak pintar, ayo kita berangkat!' Perjalanan ini terasa lebih jauh dibandingkan dengan ke taman safari kemarin. Aku sudah berkali-kali tidur tapi kami belum sampai juga. Ibu sibuk mengobrol dengan Paman Aksa dan aku bosan. Tidak ada ponsel besar milik Tante Winda untuk menonton ulat merah dan kuning yang membuatku tidak bisa melakukan hal lain selain tidur. "Yah, masih lama ya? Utek capek bobok," ucapku yang membuat Paman Aksa mengulum senyum. "Masih lama Sayang, kalau Ute capek, bobok aja." "Tapi Ute capek bobok, Ayah..." keluhku. "Terus Ute mau ngapain?" tanya Ibu. Aku mengangkat bahu, bingung dengan pertanyaan Ibu. "Ute lihat ke depan, banyak mobil sama bis yang warna-warni. Ute katanya suka naik bis kan?" kata Paman Aksa yang membuatku melihat mobil dan juga bis yang berjalan di dekat kami. Paman Aksa lalu memberikan ponselnya dan membuka sebuah permainan. "Ute bisa main ini," ucap Paman Aksa. Aku mengambil ponsel itu dan memperhatikan gambar buah di sekitarnya. "Cara maininnya gimana Yah?" "Buahnya dipotong pakai jari Ute." Ibu mengambil ponsel paman Aksa dan membenarkan posisiku di pangkuannya. Ibu lalu menunjukan bagaimana cara bermain. Setelah bosan dengan permainan buah, aku memainkan permainan membunuh semut dengan cara memencetnya, terkadang aku salah memencet lebah hingga permainan berakhir. "Bu, Ute laper," keluhku saat perutku mulai terasa perih. "Ute laper?" tanya Paman Aksa yang membuatku mengangguk. "Sekar, gimana? Pintu tol masih cukup jauh." "Saya udah nyiapin bekel di tas Ute, buat kamu juga ada kok, Mas. Kamu mau?" "Ute aja dulu, saya bisa nanti." "Ute mau makan sendiri apa ibu suapin?" tanya Ibu. "Makan sendiri!" jawabku semangat. Ibu mengeluarkan kotak bekalku yang bergambar beruang yang berisikan ayam goreng, nugget dan sosis. Setelah ibu membersihkan tanganku dengan tisu basah, aku mulai makan. "Ayah mau nggak Yah?" tanyaku pada Paman Aksa. Paman Aksa menggeleng. "Buat Ute sama Ibu dulu aja," jawabnya. "Ibu mau?" tanyaku. Ibu menggeleng. Akhirnya aku memilih untuk makan sendiri. Karena mobil yang terus bergoyang, rasanya aku sulit makan. "Bu, suapin Ute dong," pintaku ke Ibu. Ibu mengangguk dan mengambil alih kotak bekalku. Lalu Ibu mulai menyuapiku nasi dan sosis dengan sendok. Aku menggenggam ayam goreng untuk sesekali dimakan menjadi lauk peneman sosis atau nugget. "Kamu juga ikut makan Sekar, biar sekalian," ucap Paman Aksa. Ibu mengangguk dan makan sambil menyuapiku. Kami sudah selesai makan dan ibu sudah membersihkan tanganku dengan tisu. "Kamu nggak laper Mas?" tanya Ibu. "Saya masih nyetir, kalau kita sering berhenti bisa-bisa malam nyampenya. Kasihan Ute kalau terlalu lama di jalan," jawab Paman Aksa. "Kalau saya suapin?" tawar Ibu. Paman Aksa terdiam. Ibu sedikit menggeser tubuhku dan mengambil tas barbie milikku. Setelahnya Ibu memberikanku permen kapas yang sering dibelikan oleh Paman Aksa. "Ute makan ini dulu ya?" kata Ibu yang aku iyakan. Ibu lalu membuka kotak bekal lainnya yang lebih besar dan mulai menyuapi Paman Aksa yang masih menyetir dengan perlahan. "Ih, Ayah udah gede masih disuapin," ledekku yang membuat wajah Paman Aksa berubah menjadi merah. "Shh... nggak boleh gitu Sayang, kalau kita kelamaan berhenti kan semakin lama nyampenya," jelas Ibu. Aku mengangguk dan kembali melanjutkan makan permen kapas milikku. "Jadi kalau udah gede kayak Ayah juga boleh disuapin walaupun nggak sakit?"  Ibu pernah bilang padaku kalau sudah besar sebaiknya makan sendiri kecuali jika sedang sakit. Saat Ibu sakit kemarin Paman Aksa juga menyuapinya, tapi Paman Aksa saat ini sedang tidak sakit. "Tangan Ayah dua-duanya dipakai untuk nyetir, jadi Ayah nggak bisa makan, Sayang. Nanti kalau Ayah kelaperan gimana?" "Nanti perutnya bunyi, terus cacingnya protes," jawabku yang membuat Ibu tertawa. "Ute cacingan?" tanya Paman Aksa bingung. Aku mengangguk. "Om Randi bilang kalau laper harus langsung makan biar cacingnya nggak protes," jawabku. Paman Aksa tertawa, dan Ibu mengelus kepalaku dengan lembut. "Ute jangan jawab iya kalau ditanyain cacingan atau nggak ya," nasihat Ibu. "Emang kenapa, Bu?" tanyaku bingung. "Kayaknya Randi harus banyak nyaring ucapannya lagi kalau ngomong sama Ute," ujar Paman Aksa sambil menggeleng. *** Akhirnya kami sampai di rumah Paman Aksa saat malam tiba, Ibu menuntunku untuk masuk ke dalam bersama seorang tante, sedangkan Paman Aksa sedang mengambil tas kami di luar. "Halo Sayang, namanya siapa?" sapa Tante itu. "Ute, Tante," jawabku sambil mengucek mata karena baru saja bangun tidur. "Ute umurnya berapa Mbak?" tanya Tante itu. "Jalan delapan," jawab Ibu. "Anak saya umurnya lima tahun Mbak, perempuan juga, semoga mereka bisa cepat dekat ya," ucap Tante itu.  "Saya Sekar," ucap Ibu sambil mengulurkan tangannya. "Saya Ros, Mbak. Adik ipar Mas Aksa," jawab Tante itu. Tante itu membukakan pintu dan mepersilakan ibu untuk duduk. Ibu membuka jaketku dan merapikan rambutku yang berantakan. "Mbak mau teh atau apa?" tawar Tante "Air putih aja," jawab Ibu. Tante itu lalu datang dengan sebuah nampan yang berisi teko dan juga tiga gelas. "Perjalanannya jauh ya, Mbak, Ute anteng Mbak?" "Lumayan, sebelas jam lebih karena kami sering berhenti. Alhamdulillah Ute anteng," "Ayah sama Ibu kebetulan lagi pergi ke Kediri untuk ziarah, jadi nggak ada di rumah dan langsung nemuin Mbak, besok mereka pulang." "Ziarah ke mana Mbak?" tanya Ibu. "Ke makam Ibunya Mas Aksa," jawab Tante itu. Ibu terlihat bingung, kini Ibu membantuku untuk minum dari gelas yang sudah disediakan Tante Ros. "Ibu Mas Aksa udah nggak ada? Terus yang disebut Ibu?" tanya Ibu bingung. "Ibu itu Ibunya suami saya Mbak, Mas Aksa dan suami saya beda Ibu.” Ibu menganggukkan kepalanya dan membersihkan bibirku yang belepotan karena meminum air dengan tidak benar. "Ute, kok minumnya berantakan? baju kamu jadi basah, Sayang."  Suara Paman Aksa terdengar di belakang, sepertinya sedang bermain dengan anak lain karena aku mendengar suara tawa.  "Ros, makanannya udah siap?" Suara Paman Aksa terdengar. Tante Ros berdiri dari tempatnya. "Udah Mas, mau makan duluan?"  "Boleh, tadi kami makan siangnya lebih awal soalnya. Saya takut Ute dan Sekar sudah lapar." Tante Ros menuntunku dan mengajak Ibu untuk masuk ke dalam rumah. Paman Aksa terlihat sedang menggendong seorang anak kecil yang lebih muda dariku. "Ariska, itu kakak Ute. Ayo salaman, Sayang." Paman Aksa menjulurkan tangan adik itu yang langsung kusambut.  "Halo Ariska, aku Ute." "Makan yuk," ajak Paman Aksa. Aku mengangguk dan mulai menduduki kursi yang ada di sana. Ibu berada di sebelahku sementara Ariska kini dipangku oleh Tante Ros. Melihat Ariska yang dipangku oleh Tante Ros, aku juga ingin dipangku oleh Paman Aksa. "Yah, Ute mau dipangku," pintaku yang membuat Paman Aksa langsung meraih tubuhku dan mendudukanku di pangkuannya. "Ute, Ayahnya capek," tegur Ibu. "Biar Sekar, Ute nggak berat kok," timpal Paman Aksa. Paman Aksa kemudian menawariku beberapa lauk pauk yang kupilih dan makan sambil menyuapiku. Sementara Ibu terus memperhatikanku dan membantu Paman Aksa untuk meraih lauk pauk yang jauh dari jangkauannya. "Kamu nggak makan, Ros?" tanya Paman Aksa. Tante Ros hanya menyuapi Ariska tapi ia tidak makan. "Saya nunggu Mas Sean aja, dia bilang udah mau pulang." Paman Aksa mengangguk dan kembali menyuapiku. Ia lalu mengambilkan potongan daging kepada Ibu untuk di makan, karena Ibu hanya memakan telur dan juga sayur. "Mas, saya udah kenyang." "Dimakan Sekar, Masakan Ros enak kok," ucap Paman Aksa. Ibu mengulum senyum tidak enaknya dan kembali melanjutkan acara makannya.  Ibu sudah menyelesaikan makannya sementara Paman Aksa masih sibuk menyuapiku. "Ute, Ayah jadi lama makannya karena kamu, sini sama Ibu aja." Aku menggeleng dengan mulut penuh. Aku sudah sering disuapi oleh Ibu, tapi masih jarang disuapi oleh Ayah. "Ayah pulang!"  Suara yang terdengar dari pintu membuat Ariska melompat dari kursi dan berlari ke arah pintu sambil meneriakkan kata Ayah dengan cukup kencang. "Paman Aksa udah dateng? Terus sekarang lagi di mana?" tanya suara itu. “Lagi makan Yah,” Kegiatan Paman Aksa yang berhenti menyuapiku membuatku menoleh, dan Paman Aksa kini melihat ke arah Ibu yang terdiam dengan alis yang berkerut. “Ariska udah ketemu sama Tante dan Kakak yang datang sama Paman Aksa?” Wajah Ibu berubah menjadi merah dan air matanya menggenang. Tangannya terlihat mengepal dengan begitu erat, ibu terlihat marah. "Sekar?" ucap Paman Aksa. Ibu berdiri dan langsung menarikku dari pangkuan Paman Aksa dengan tiba-tiba. "Ute, Ayo kita pulang."  *** Aku tak pernah menyadari bahwa badai besar baru saja datang
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN