Terungkap

1850 Kata
Tubuhku terguncang saat Ibu buru-buru melangkah pergi. Saat sampai depan pintu aku melihat Ariska bersama seorang laki-laki yang sepertinya adalah Ayahnya. Ibu tidak berhenti sedikitpun sampai Paman Aksa menahan tangannya. "Kamu mau ke mana Sekar?" tanya Paman Aksa.  Ibu terdiam, tidak menoleh sedikitpun. "Ayah..." rengekku sambil menggapai tubuh Paman Aksa, Paman Aksa mencoba meraih tubuhku namun langsung Ibu tepis. Ibu membenarkan posisiku di gendongannya dan melangkah ke arah pintu. Tapi Paman Aksa lebih dulu menghalangi. "Kamu mau ke mana?" ulang Paman Aksa. "Saya mau pulang!" ucap Ibu dengan bergetar. Ibu menangis. "Bu..." panggilku. Ibu tidak menjawab, ia menggeser tubuh Paman Aksa dan keluar dari rumah. "Ayah! Ayah!" teriakku untuk memanggil Paman Aksa. Paman Aksa terdiam.  "Ibu, Ute mau Ayah! Ute mau Ayah!" teriakku sambil meronta di gendongan Ibu. Aku menangis. "Ayah... Ute mau Ayah," ucapku memohon. Paman Aksa lalu berlari dan menghampiri kami. Ia mencengkram bahu Ibu, hingga Ibu menoleh. Aku pun segera merentangkan tangan dan Pama Aksa meraihku. "Kita omongin baik-baik," ucap Paman Aksa. Ayah Ariska menghampiri kami, sementara Tante Ros dan Ariska melihat kami dari ambang pintu. "Mas?" tegur Ayah Ariska pada Paman Aksa. Ibu memalingkan wajahnya dan kembali menangis. "Sekar, kita harus bicara," bujuk Paman Aksa. "Kamu tau semuanya kan Mas?!" bentak Ibu. Aku menangis ketakutan di pelukan Paman Aksa. Ibu tidak pernah menggunakan nada setinggi ini selain saat aku meminta Ayah waktu TK dulu. Ayah Ariska mengulurkan tangannya untuk menggendongku, dan Paman Aksa memindahkan tubuhku kepadanya. "Jangan sentuh dia!" ucap Ibu tiba-tiba.  Paman Aksa menarikku kembali untuk tetap berada di gendongannya sementara Ayah Ariska terpaku di tempatnya. Ibu menangis semakin kencang. Tubuhnya merosot ke tanah hingga pakaiannya menjadi kotor. Ayah Ariska bergerak untuk membantu Ibu, tapi Ibu malah berteriak. "Pergi! Pergiii!" "Ibu... Ibu kenapa?" ucapku dengan tangis.  Paman Aksa menyerahkanku ke Ayah Ariska dan memeluk Ibu. Ia mengelus punggung dan mengusap air matanya. "Aku akan jawab apa pun pertanyaan kamu, apa pun. Tapi nggak di sini, Sekar."  "Sekar tolong, tolong pikirkan Ute juga..." Ayah Ariska menggendongku untuk masuk ke dalam rumah dan Tante Ros bertanya tentang Ibu. "Mbak Sekar kenapa Mas?" "Akan ada saatnya untuk kamu tau semuanya Ros, tapi nggak sekarang. Tolong bawa Ariska ke kamar, nanti aku akan nyusul." Aku masih terus menggumamkan kata Ibu sampai Ayah Ariska mengajakku untuk duduk di kursi dan memangkuku dengan posisi berhadapan dengannya. "Ute capek nggak?" tanyanya sambil membereskan rambutku dan mengelap airmata. "Ibu..." gumamku sambil terisak. Aku mengabaikan pertanyaannya. "Ibu akan baik-baik aja sama Ayah." Ayah Ariska memelukku, lalu mengelus punggungku pelan. Dia mengecup kepalaku berkali-kali sebelum mengakhirinya dengan sebuah kecupan di kening. "Maaf, Maaf untuk semuanya Ute..." ucap Ayah Ariska. Ia kemudian mengeluarkan sebungkus permen kapas kesukaanku dan memberikannya padaku. "Ute suka kan?" tanyanya yang membuatku mengangguk. "Ute inget sama Paman?" tanya Ayah Ariska yang membuatku bingung. Aku menggeleng sambil sesekali mengelap ingus yang keluar menggunakan baju.  Ayah Ariska mengambil tisu yang ada di meja dan membantuku untuk membuang ingus. Setelahnya ia merapikan semua rambutku hingga berkumpul menjadi satu dan bisa melihat wajahnya dengan lebih jelas. Aku mengingatnya, Paman dengan wangi manis ini... "Paman yang kasih Ute permen di Taman Safari?" tanyaku pelan. Ayah Ariska mengangguk dan memelukku, ia terlihat ingin menangis dan mengucapkan maaf berkali-kali. "Sean! Buka pintunya!" teriak Paman Aksa. Ayah Ariska buru-buru mendudukanku di kursi dan membuka pintu, aku melihat Ibu di gendongan Paman Aksa. "Sekar kenapa Mas?" tanya Ayah Ariska. "Dia syok dan pingsan. Tolong bilangin Ros untuk bantu ganti baju Sekar," ucap Paman Aksa. Ayah Ariska membuka pintu kamar dan Paman Aksa membawa Ibu masuk ke dalamnya. "Ibu!" panggilku sambil berlari ke kamar itu. Ayah Ariska menahanku dan kembali menggendongku. "Ros lagi nidurin Ariska, gimana Mas?" "Kamu nggak bisa gantiin Ros dulu?" "Ute gimana?" "Biarin Ute di sini," ucap Paman Aksa.  Ayah Ariska menurunkanku. Aku menghampiri Paman Aksa dan ia membantuku untuk naik ke atas kasur. Tidak lama setelahnya Tante Ros masuk. "Ros, tolong ganti baju Sekar, ya. Kalau boleh tolong lap sekalian," pinta Paman Aksa. Tante Ros lalu mengelap dan menggantikan baju Ibu, setelahnya Tante Ros membantuku untuk mandi dan memakai baju. Saat aku kembali ke kamar, Paman Aksa terlihat sudah mandi dan sedang menunggui Ibu di pinggir ranjang. "Ayah..." panggilku pelan. Paman Aksa merentangkan tangannya dan membantukku untuk naik kembali ke atas kasur. "Ibu kenapa?" tanyaku pelan. "Ibu sakit lagi ya, Yah?" ulangku. Paman Aksa hanya tersenyum kecil dan mengelus wajah Ibu yang masih tertidur.  "Ute sayang sama Ibu?" tanya Paman Aksa. "Sayang dong," jawabku yakin. "Sama Ayah sayang juga?" Aku menganggukkan kepala dengan mantap. Memiliki Ayah dan juga Ibu adalah keinginanku sejak lama. Paman Aksa memelukku dengan erat, kini ia menangis karena aku merasa air matanya mengenai tanganku.  "Ayah? Ayah nangis?" "Enggak Sayang, Ayah nggak nangis," jawab Paman Aksa pelan. "Ute mau tinggal sama Ayah nggak?" "Mau dong Yah, Ibu bilang akan ada saatnya untuk Ayah tinggal bareng Ute sama Ibu. Sebentar lagi kan Yah?"  Paman Aksa mengangguk dan mencium kepalaku dengan singkat. Aku memilih untuk tidur di samping Ibu dan memeluknya. "Ibu kapan bangun ya Yah? Biasanya Ibu suka meluk Ute kalau Ute ngetek sama Ibu," tanyaku bingung. Paman Aksa hanya tersenyum, ia mengelus kepalaku pelan. "Sekarang Ute bobok ya, Sayang?" titah Paman Aksa yang kujawab dengan anggukkan. Hari ini aku merasa begitu lelah, dan aku ingin tidur. *** Suara ribut membuatku terbangun, Ibu kini ada di sampingku sedang duduk sambil memeluk kakinya, sementara Paman Aksa ada di pintu kamar. Kondisi kamar cukup gelap, hanya ada cahaya dari jendela yang menampilkan bulan bulat. "Kenapa kamu nggak pernah bilang semuanya, Mas?" tanya Ibu sambil menangis. "Lalu saya harus menjelaskan apa? Adik saya adalah pelakunya karena dia mabuk setelah bertengkar sama saya?" Hening. Aku hanya bisa mendengar suara isakkan ibu yang pelan. "Saat itu saya kalap dan memberitahu semuanya ke Sean, bahwa Ibunya adalah seorang p*****r yang merebut kebahagiaan keluarga saya, dan kehadirannya yang tidak diharapkan membuat semuanya semakin rumit. Belasan tahun saya menyimpan itu, hingga malam itu kami saling berteriak dan bertengkar." "Saya nggak menyangka Sean sampai berbuat sekeji itu malam itu Sekar, rasa bersalah saya akan kamu nggak pernah hilang, sedikitpun, terlebih saya menemukan kamu dengan kondisi..." Paman Aksa mengusap wajahnya, tubuhnya merosot hingga berjongkok dan mengacak rambutnya dengan kasar. "Mungkin kamu nggak ingat, tapi saya lah yang mengantarkan kamu ke hotel setelah kejadian itu." Ibu menolehkan wajahnya ke arah Paman Aksa. Ibu terlihat ingin bicara namun kembali mengurungkannya. "Saat Sean nggak pulang malam itu, Ayah menyuruh saya untuk mencarinya. Saya meragu dan menunda perintah Ayah, karena saya merasa Sean bukanlah tanggung jawab saya." "Sangat sulit untuk berdamai dengan masa lalu bukan? Apalagi bisa masa lalu itu membuat kamu kehilangan orang yang paling berharga. Tapi malam itu, saya mencoba berdamai dengan masa lalu, setelah sekian lama memendam emosi tanpa melampiaskannya, saya mencari Sean..." "Saya menemukan mobil kami di sekitaran kampus, dan saat saya datang, semua sudah terlambat..." "Saya benar-benar menyesal Sekar, andai saja saya lebih cepat berdamai dengan masa lalu saya, mungkin semua itu bisa dicegah..." "Saya membawa kamu yang nggak sadarkan diri ke hotel dan mengantar Sean pulang, sambil terus berharap kalau kamu bisa menjalani hidup dengan normal setelahnya." "Hidup saya hancur setelah hari itu!" teriak Ibu. "Saya tau Sekar... saya tau..." "Sejak hari itu saya mulai mencari tau semua tentang kamu. Saya mengawasi kamu..." "Sampai saat kamu menghilang dari kostan dan nggak pernah muncul di kampus. Saya mencari tau alamat rumah kamu ke teman kamu. Saya ke Surabaya, saya melihat kamu yang hidup dengan tatapan kosong, saya juga melihat saat... saat kamu diusir oleh keluarga kamu." "Saya tau kamu mengandung Ute sejak saat itu, Sekar. Saya kembali ke Jogja untuk menyelesaikan studi dan sengaja mencari pekerjaan di sekitar rumah Bibi kamu, tempat kamu diasingkan." "Kalau saya tidak ada jadwal bekerja, saya akan mengikuti kamu untuk periksa kandungan dan saya membelikan s**u ibu hamil yang saya berikan ke kamu lewat bibi kamu. Saya bilang istri saya lagi hamil dan tidak suka dengan rasa susunya, syukurnya dengan alasan itu Bibi kamu percaya." "Saat bibi kamu meninggal dunia, saya tidak bisa melakukan apa pun selain membantu prosesi pemakamannya bersama tetangga kamu saat itu. Saya takut. Saya takut kamu akan menyerah dengan keadaan dan ikut pergi meninggalkan dunia ini juga... tapi untungnya kamu masih bisa berdiri tegak." "Saat bulan kelahiran Ute, saya tidur di pos ronda setiap malam hanya untuk memastikan bahwa kamu bisa menjangkau rumah sakit tepat waktu. Saat saya melihat kamu keluar tengah malam dengan tas yang cukup besar, saya segera mencari taksi hingga kamu bisa mendapatkan taksi tanpa harus berjalan jauh keluar komplek." "Waktu Ute lahir, saya tau kamu sempat meragu dan tidak menginginkannya. Berkali-kali kamu melewati panti asuhan dengan pandangan menerawang. Saat itu, tidak ada yang bisa saya lakukan selain berdoa agar kamu bisa bertahan." "Saat Ute kecil sakit, saat kamu menangis waktu Ute disuntik imunisasi di Posyandu, saat senyum kamu terkembang waktu melihat langkah pertamanya yang tertatih, saya ada, meski hanya sebagai penonton." Paman Aksa terlihat menangis. "Saya memang pengecut, saya terlalu takut menunjukkan diri di depan kamu dan mengakui bahwa kejadian malam itu akibat dari kesalahan saya juga." "Karena saya, hidup kamu dan Ute selalu dirundung penderitaan," ucap Paman Aksa lirih. "Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana orang-orang ngomongin kamu dengan prasangka negatif, bagaimana mereka mengatakan bahwa Ute adalah anak haram, bagaimana Ute dikucilkan..." "Dan butuh waktu delapan tahun untuk kamu muncul dengan sempurna di hadapanku, Mas? Berdiri sebagai seorang Layaksa Pratama? Bukan tetangga atau sekedar orang asing yang berniat menolong?!"  "Ya, kamu benar. Saya seorang pengecut yang membutuhkan waktu selama itu untuk berdiri di depan kamu sebagai diri saya. Semua karena Ute, Sekar, karena Ute... Dia terlihat begitu riang saat Randi mengizinkannya untuk memanggilnya dengan sebutan Ayah, saat itulah saya sadar bahwa Ute memang butuh sosok Ayahnya untuk ada di sampingnya. Bukan sosok di balik layar kehidupan seperti yang selama ini saya lakukan." "Ayah?" panggilku pelan. Ibu segera menghapus air matanya dan Ayah datang menghampiriku. "Iya Sayang? Kenapa?" tanya Paman Aksa. Aku tidak mengerti kenapa Ibu dan Paman Aksa menangis. Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Leherku terasa gatal dan aku butuh minum. "Ute haus," jawabku. "Iya Sayang, tunggu sebentar," jawab Paman Aksa. Paman Aksa keluar kamar dan kembali beberapa saat kemudian dengan segelas air di tangannya. Aku pun meminum air itu hingga habis setengahnya.  Ibu membenarkan selimut milikku dan memelukku sambil mengusap punggungku, cara yang ampuh untuk membuatku mengantuk. "Bu?" panggilku yang dijawab gumaman oleh Ibu. "Boleh Ayah tidur di sini? Ute mau bobok sama Ayah, kayak Ariska," pintaku ke Ibu. Saat selesai mandi, aku berganti baju di kamar Ariska. Melihat Ayah Ariska memeluknya dengan sayang saat Ariska tidur membuatku ingin merasakan hal yang sama. Ibu mengangguk pelan. Ia membawa tubuhku untuk lebih mendekat ke arahnya sehingga Paman Aksa bisa mengambil posisi di belakangku. Paman Aksa kemudian ikut tidur di sampingku. Mereka terdiam sementara tangannya bergerak untuk mengelus punggung dan rambutku.  "Ute mau tidur sama Ayah setiap hari," ucapku sambil berbalik badan dan memeluk Paman Aksa. Aku menguap dua kali dan mengeratkan pelukanku padanya. Aku ingin bermimpi indah. Tapi sepertinya mimpi indahku berakhir saat aku tidak menemukan Ibu di sampingku keesokan paginya. *** Hari membahagiakan, atau menyedihkan? aku tidak tahu. Pada kenyataannya, ternyata menjemput kebahagiaan tidaklah semudah itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN