Ibu, Pulanglah

656 Kata
Aku tidak menemukan ayah ataupun ibu di kamar, dan itu membuatku khawatir. "Bu?" panggilku. Tidak ada sahutan. "Ibu?" Masih tidak ada sahutan. Karena tidak ada jawaban aku memilih untuk berteriak. "Ibu!" Tante Ros dengan langkah tergopoh mendatangiku. Ia lalu menggendongku dan membawaku ke luar kamar. Wajahnya terlihat begitu gelisah. "Tante, Ibu mana?" Tante Ros tidak menjawab. Ia menggigit bibirnya dan berjalan ke arah kamar Ariska. Aku didudukkan di kasur, di samping Ariska yang masih tertidur. "Ute Sayang, tolong jagain Ariska ya, Tante mau bikin sarapan," ucap Tante Ros. Aku mengangguk dan melihat Ariska yang masih tertidur. Ibu bilang kalau aku harus jadi anak baik, jadi aku menuruti perkataan Tante Ros. Aku melihat ke sekitar dan menemukan beberapa boneka beruang milik Ariska. Ada juga boneka sapi dan dua barbie yang berada di atas lemari. Aku kembali melihat Ariska yang masih tertidur, di kakinya ada gelang yang sama dengan gelang yang ada di kakiku. Gelang pemberian dari Ibu. Aku menyentuhnya, dan huruf yang tergantung di sana juga adalah huruf 'S'. Ariska terbangun saat aku menyentuh gelang itu, ia menguap dan menggulingkan badannya. Ariska menoleh ke arahku sambil mengucek mata. Ia menatapku cukup lama. "Mama," ucap Ariska dengan malu-malu. "Mama di luar," jawabku. Ariska lalu bangun dan turun dari kasur. Aku mengikutinya dari belakang. Ia berjalan ke arah dapur, tempat Tante Ros sedang memasak. "Sayang, tunggu di depan sama Kakak Ute ya? Mama lagi masak," ujar Tante Ros menasihati. "Ariska ayo sama Kakak!" ajakku sambil menuntun Ariska untuk kembali ke depan. Ariska mengambil remote dan mulai menyalakan televisi. Saat televisi menyala, Ayah Ariska masuk ke dalam rumah. "Ayaaah!" panggil Ariska sambil berlari memeluk Ayahnya. Ayah Ariska menggendongnya dan menatapku. Ia menghampiriku dan memberikan permen kapas bergambar koala kesukaanku. Setelah mengucapkan terima kasih, aku bertanya, "Paman, Ibu mana?" Ayah Ariska mengusap kepalaku dan memelukku. Ia membawaku ke pangkuannya di samping Ariska hingga kami berhimpitan satu sama lain. "Gimana Mas? Mbak Sekar udah ketemu?" tanya Tante Ros dengan dua buah piring di tangannya. Sepertinya ia sudah selesai memasak. Ayah Ariska menggeleng. Aku merasa bingung dan melihat ke arahnya. "Ibu mana?" ulangku. Ayah Ariska menurunkan Ariska dari pangkuannya. "Ariska, ke Mama dulu ya?" titahnya. Ayah Ariska merapikan rambutku dan memelukku. Aku mendorongnya dan mengulang pertanyaanku. "Ibu mana?" Ayah Ariska tidak menjawab. "Ibu! Ayah!" teriakku dengan kencang. Aku menangis. Ibu tidak meninggalkanku bukan? Ibu bilang jika aku nakal Ibu akan meninggalkanku. Tapi aku tidak nakal. "Ibu... Ute mau Ibu... Ibu..." ucapku berulang kali. Ayah Ariska menggendongku dan membawaku keluar rumah. "Paman, bilang ke Ibu Ute nggak akan nakal lagi, Ute mau ketemu Ibu," pintaku memohon. Ayah Ariska malah menangis sekarang. "Paman, bilangin Ibu ya?" ulangku. Pintu pagar dibuka, dan Paman Aksa ada di sana. Aku segera melompat dari pangkuan Ayah Ariska dan menghampiri Paman Aksa. "Ayah, Ibu mana?"  Paman Aksa menggendongku dan membawaku masuk ke dalam rumah. "Ute mau Ibu Ayah..." ucapku berulangkali. Tapi Paman Aksa hanya diam. "Ros, Ute udah makan?" tanya Paman Aksa. "Belum Mas, Ute langsung nangis tadi," jawab Tante Ros. Paman Aksa beranjak menuju meja dan mengambil piring yang berisi dua buah sosis goreng dan telur dadar untukku. "Ute, makan dulu ya, Sayang," bujuk Paman Aksa. Aku menggeleng. "Ute mau Ibu, Ibu ke mana Yah?"  "Kita makan dulu ya?" ucap Paman Aksa sambil mendekatkan piring ke arahku. Aku mendorong piring itu menjauh hingga piring itu terjatuh ke lantai. Nasi, telur dan sosis berhamburan di lantai.  Aku menatap Paman Aksa dengan takut sambil terisak. Aku takut Paman Aksa marah karena perbuatanku. Paman Aksa membenarkan posisiku dalam gendongannya dan mengelus punggungku lembut. "Ros, tolong bikinin sarapan untuk Ute lagi ya?" pintanya. Aku dibawa oleh Paman Aksa ke dalam kamar, dan Paman Aksa mendudukkanku di kasur.  "Ute mau Ibu," pintaku sambil menangis. "Ibu nanti pulang, Ute tunggu sebentar ya?" ucap Paman Aksa menenangkan. "Ute nakal ya Yah makanya Ibu pergi?"  Paman Aksa menggeleng. "Ute anak baik, Ibu pasti pulang. Pasti..."    *** Nyatanya Paman Aksa berbohong, Ibu tidak pulang bahkan setelah seminggu berlalu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN