Kembalilah

2004 Kata
Aku masih terus menangis dengan plester penurun panas yang dipasangkan di dahi. Ibu benar-benar meninggalkanku dan tidak kembali. Aku menolak untuk makan dan meminum s**u, yang kulakukan hanya memanggil Ibu, berharap Ibu akan kembali secepatnya. "Kita harus gimana Mas? Kondisi Ute terus turun," ucap Ayah Ariska. Paman Aksa menggaruk rambutnya. Ia melihatku yang masih terus menangis dengan bingung. "Ute mau es krim?" tanya Paman Aksa. Aku menggeleng. "Mau permen kapas?" Aku menggeleng. "Mau chicken sama kentang goreng?" Aku memunggungi Paman Aksa dan Ayah Ariska, lalu memeluk guling. "Ute cuma mau Ibu..." ucapku pelan. Biasanya Ibu akan selalu memelukku seperti ini. Aku kangen Ibu. "Sean, kamu sudah jelaskan ke Ros?" "Belum Mas. Ros masih terus tanya penyebab Sekar pergi. Tapi saya belum bilang. Saya khawatir Ros akan pergi, sama seperti Sekar. Belum lagi reaksi Bapak Ibu kalau tau ini semua. Andai saja malam itu—" "Kamu bahkan nggak inget akan kejadian malam itu, saya juga salah di sini. Setelah tau Sekar hamil, saya nggak bilang ke kamu karena kemarahan Ayah akan kejadian malam itu. Saat saya pulang, pesta pernikahan kamu sudah disiapkan." "Saat itu saya juga terlalu marah sama Mas untuk sekedar peduli keberadaan Mas di mana." "Kalau saat itu saya bilang ke kamu, apa kamu akan meninggalkan Ros?" "Butuh waktu lama untuk saya bisa meyakinkan Ros agar bisa bersama saya. Mengingat hubungan kita dulu, yang ada saya akan menuduh Mas hanya ingin merusak kebahagiaan saya sebagai ajang balas dendam." "Dua wanita harus terluka karena kesalahan kita," "Bukannya Mas Aksa juga terluka karena kejadian ini?" "Maksud kamu?" "Berperan di balik layar nggak mudah Mas, lebih mudah menjadi orang yang memberi perhatian secara langsung. Mengetahui Mas bertahan sampai delapan tahun seperti ini untuk Sekar membuat saya berpikir, Mas cinta kan sama dia?" "Jangan ngawur kamu!" "Mas, apa Mas udah bilang ke Sekar kalau Mas melakukan ini bukan hanya sebatas pertanggungjawaban?" "...." "Jawab Mas!" "Belum... saya nggak menjelaskan apa pun tentang itu. Saya hanya menjelaskan kenyataan yang saya sembunyikan selama delapan tahun ini." "Saya nggak masalah kalau harus mengurus Ute karena dia darah daging saya Mas, saya hanya perlu waktu menjelaskan ke Ros akan semuanya. Tapi kalau melihat kondisi Lutte seperti ini, rasanya saya nggak tega juga. Saya belum minta maaf secara pribadi ke Sekar karena saya telah memperkosanya, itu juga yang membuat rasa bersalah saya semakin menjadi, Mas." Suara piring yang terjatuh membuatku menoleh, Paman Aksa dan Ayah Ariska segera berdiri dan membuka pintu kamar. Di depan pintu kamar ada Tante Ros yang sedang berdiri, sementara nasi dan sayuran bertebaran di kakinya. "Ros..." ucap Ayah Ariska sambil menghampiri Tante Ros.  "Apa maksud kamu?!" teriak Tante Ros yang membuat kepalaku sakit. Aku melepaskan guling hingga guling itu jatuh di lantai hingga mengenai kaki Paman Aksa. Paman Aksa yang melihat itu langsung menghampiriku. "Ute, kenapa Sayang?" "Sakit Yah... sakit..."  Paman Aksa langsung buru-buru menggendongku dan berlari keluar rumah. Ia bahkan menubruk Ayah Ariska dan Tante Ros yang masih sibuk berteriak satu sama lain. "Ibu... Ute mau Ibu..." *** Paman Aksa membawaku ke sebuah gedung yang bertuliskan klinik. Aku hanya menempelkan dahiku ke lehernya yang terasa lebih dingin hingga rasa sakit di kepalaku berkurang. "Mbak, anak saya sakit," ucap Paman Aksa. "Silahkan masuk Pak, kebetulan tidak ada antrian." Aku tidak melihat siapa yang Paman Aksa ajak bicara, aku hanya mengalungkan lenganku kuat-kuat di lehernya. Paman Aksa langsung masuk ke dalam ruangan dan menidurkanku di sebuah ranjang hitam yang terasa dingin. "Ayah..." panggilku lirih. Aku tidak ingin Paman Aksa pergi seperti Ibu. "Ayah di sini Sayang," ucap Paman Aksa. Tangannya menggenggam tanganku yang mencoba menggapainya. "Halo cantik, namanya siapa?" tanya seorang kakek yang memakai jas putih. "Dijawab Sayang," titah Paman Aksa di kupingku. "Ute," jawabku pelan. "Ute, dilihat perutnya dulu ya?" ucap kakek itu sambil membuka baju milikku. Ia lalu menaruh sebuah benda bulat dan dingin di perutku. Kakek itu juga memukul perutku dengan jarinya. Lalu ia menekan di beberapa bagian. "Sakit nggak?" tanyanya yang kujawab dengan anggukkan. "Dibuka mulutnya Sayang," titah kakek itu. "Demamnya sudah berapa lama Pak?" "Tiga hari, dok. Ute selalu menolak makan. Kalaupun makan, itu hanya sedikit. Berat badannya juga sepertinya turun. Lebih enteng dari yang terakhir saya ingat." "Kalau begitu akan saya kasih vitamin dan obat penurun panas. Anaknya udah bisa minum tablet belum Pak?" Paman Aksa terlihat bingung sekarang. Ia memandangku cukup lama. "Puyer saja, dok." Paman Aksa kemudian membereskan bajuku dan membantuku untuk duduk. "Loh Pak, kaki bapak terluka, nggak sekalian berobat?" tanya kakek itu. Aku melihat kaki Paman Aksa yang mengeluarkan darah. Bahkan di lantai banyak terdapat jejak darah. "Ah, boleh," jawab Paman Aksa. "Ayah terlalu khawatir ya sama Ute makanya sampai nggak terasa lukanya," ucap kakek itu sambil membuka lemari dan mengambil sebuah gulungan berwarna putih dan obat. Paman Aksa lalu duduk di sampingku dan darah menetes dari kakinya ke lantai. Aku meremas baju Paman Aksa yang membuatnya menoleh. "Ayah gapapa," ucapnya menenangkan. "Maaf ya dok, lantainya jadi kotor." "Nggak apa Mas, saya ngerti kalau anak sakit pasti khawatirnya bukan main," balas kakek itu dengan senyumannya. Kakek itu lalu berjongkok di depan Paman Aksa dan memeriksa kakinya. "Luka robeknya cukup dalam Mas," "Saya bahkan nggak sadar tadi dok, tapi memang perih." Dokter itu lalu membersihkan dan membalut kaki Paman Aksa. Aku yang takut hanya menyembunyikan wajah di badan Paman Aksa. Ia yang melihat itu langsung membawaku ke pangkuannya dan memelukku hingga aku tidak bisa melihat apa yang dilakukan kakek itu. "Ute abis ini makan ya biar nggak sakit lagi?" pinta Paman Aksa. "Kalau Ute sakit, Ayah juga ikut sakit." Aku mengangguk pelan, biasanya Ibu yang selalu mengeluarkan kalimat itu saat aku sakit. Aku memeluk Paman Aksa dan menyamankan diri karena mengantuk. Aku berharap Ibu akan ada saat aku membuka mata. *** Aku terbangun saat ponsel Paman Aksa berbunyi, aku menoleh ke sekitar, ternyata aku sudah berada di mobil. Aku juga tidak menemukan Ibu seperti harapanku sebelum tidur. Hal itu membuatku sedih. "Halo?" sapa Paman Aksa. "Aksa, saya Yoga."  Aku mendengar suara Paman Yoga dengan samar. Di mana Paman Yoga sekarang? Apa sedang berada di rumah Dirga?  "Ah, Yoga... Apa Sekar sama kamu sekarang?" "Saya mau nanya soal Ute, gimana Ute sekarang?" Paman Aksa terlihat menghela napas. "Ute sakit Yoga, dia rindu Ibunya. Sekar sekarang lagi sama kamu kan? Randi, Aul, Rasti, Winda, Yira, Zito, semua tidak ada yang mengetahui keberadaannya." "Ute sakit apa?" tanya Paman Yoga. "Tolong jawab pertanyaan saya!" "Ya, Sekar ada sama saya." "Apa Sekar sedang mendengarkan ini?" "..." "Jawab Yoga!" "Ya, dia mendengarnya Aksa." "Ibu?" panggilku pelan. Paman Aksa menoleh ke arahku, matanya terlihat memerah dan ingin menangis. "Itu Ibu kan Yah? Ute mau Ibu..." Paman Aksa mendekatkan ponselnya ke arahku. "Bu, Ute janji Ute nggak akan nakal lagi, Ute akan makan, minum obat, dan juga nurut sama Ibu. Jangan tinggalin Ute Bu... Ute mau Ibu pulang," pintaku sambil menangis. Dari ponsel itu terdengar suara Ibu yang sedang menangis. "Ibu, Ute nggak akan nakal lagi Bu. Ute janji!" Paman Aksa menggendong tubuhku. Ia mendekatkan ponsel ke telinganya. "Sekar, tolong kembali untuk Ute... Ia sangat merindukan kamu Sekar. Kalau kamu memang tidak mau bersama dengan saya, silakan, saya tidak akan memaksa kamu. Tapi tolong bawa Ute bersama kamu. Ute butuh Ibunya, Sekar..." Paman Aksa memutus panggilan itu dan menangis. Ia memelukku dan mencium kepalaku cukup lama. "Maafin Ayah, Sayang." Aku masih berada di pelukan Paman Aksa hingga perjalanan pulang. Saat sampai, aku melihat Ariska yang sedang menangis di depan pintu bersama dengan nenek. Paman Aksa menggendongku untuk keluar dari dalam mobil dengan kaki yang sedikit pincang. "Aksa..." ucap nenek pelan dengan tangisan, tapi Paman Aksa memilih untuk melewatinya begitu saja. Saat masuk ke dalam rumah, aku mendengar teriakan Tante Ros dan juga Ayah Ariska dari dalam kamarnya. Paman Aksa menutup telingaku dengan tangannya. "Ute jangan denger apa-apa ya?" pintanya yang kujawab dengan anggukkan. "Aksa!" tegur kakek saat kami baru saja ingin masuk ke dalam kamar. Paman Aksa menoleh, ia lalu menurunkanku dari gendongannya. "Ute masuk dulu, nanti Ayah nyusul," pintanya sambil mengelus rambutku. Aku masuk ke dalam kamar sambil menutup kedua kupingku dan berbaring di kasur. Suasana ribut semakin terdengar di luar, kini nenek berteriak cukup kencang. "Mas! Jangan pukul Aksa!"  Pintu kamar terbuka hingga aku menoleh, nenek membiarkan Ariska masuk ke dalam kamar dengan tangisan, dan di luar aku melihat Paman Aksa dengan wajah yang berdarah. Pintu itu lalu ditutup kembali oleh nenek. Ariska menghampiriku, dan aku membantunya untuk naik ke atas kasur. "Kakak..." ucapnya pelan. Aku menghapus air mata yang ada di pipinya dan memberikan permen yang Ayah Ariska selalu berikan akhir-akhir ini dari atas lemari kecil di samping kasur. Dan aku menutup kedua telinganya dengan kedua tanganku. "Jangan denger apa-apa," ucapku mengulang perkataan Paman Aksa. *** Ariska tertidur sambil memegang tanganku, sebelum tidur ia memintaku untuk tidak pergi. Hal itu membuatku kembali mengingat ibu. Mungkin jika malam itu aku meminta Ibu jangan pergi, ibu masih ada di sini. Pintu kamar terbuka, dan aku melihat Paman Aksa masuk ke dalam kamar dengan wajah yang keunguan di bagian bibir dan pipi. "Ayah kenapa?" tanyaku pelan. "Ayah nggak apa-apa, makan dulu ya? Abis itu Ute minum obat," bujuk Paman Aksa. Aku mengangguk dan membiarkan Paman Aksa untuk duduk di sampingku. Tangannya kemudian mulai bergerak untuk menyuapiku bubur. "Dek Ariska nggak dibangunin Yah?" "Ariska nggak makan bubur, ini buat Ute yang lagi sakit." Aku mengangguk. Sesekali aku mendengar Paman Aksa meringis karena ujung bibirnya yang terluka. Aku mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi Paman Aksa yang keunguan. "Ayah sakit?" Paman Aksa menggeleng. Tetapi matanya berkaca. Aku memeluknya, karena ibu bilang kalau ia sakit, rasa sakitnya akan berkurang saat aku memeluknya. Paman Aksa balas memelukku, ia lalu mengusap kepalaku dengan lembut. "Jadi anak pintar ya Sayang, jadi kebanggaan semua orang." Aku mengangguk. Kalimat Paman Aksa sama seperti yang ibu ucapkan, aku jadi lebih merindukan ibu saat ini. "Ibu," ucapku pelan. "Kenapa Sayang?" tanya Paman Aksa. "Ute kangen Ibu," ungkapku jujur. Paman Aksa tersenyum dan kembali menyuapiku. "Ute jadi anak baik ya, kalau Ute jadi anak baik, Ibu pasti pulang." "Habis ini Ute minum obat terus bobok ya sama Ariska?" Aku mengangguk. Aku harus jadi anak baik supaya Ibu cepat pulang. Paman Aksa masih terus menyuapiku sampai suara teriakan Tante Ros kembali terdengar, kali ini terdengar lebih kencang dari sebelumnya. Aku juga mendengar Ayah Ariska berteriak. "Yah, udah ya?" pintaku yang dijawab anggukkan oleh Paman Aksa, aku menyembunyikan diri di pangkuannya karena takut dengan suara di luar. Pintu kamar tiba-tiba dibuka dengan kecang, Tante Ros masuk ke dalam kamar dengan sebuah tas besar. Wajahnya terlihat memerah dengan air mata yang mengalir. Ia menatapku dengan mata yang begitu besar, tidak seperti sebelumnya. Hal itu membuatku takut dan meremas kemeja Paman Aksa. Tante Ros menggendong Ariska yang sedang tertidur hingga ia terbangun. Ayah Ariska menyusul dan mencegah Tante Ros untuk menggendong Ariska. "Ros! Selesaikan semuanya baik-baik!" ucap Ayah Ariska. "Baik-baik kata kamu?! Berapa orang yang kamu dan kakak kamu sakiti karena kejadian ini!" teriak Tante Ros marah. Ariska mulai menangis. "Tau kenyataannya membuatku sakit Mas! Sakit! Dan kalian dengan mudahnya membawa perempuan itu ke lingkaran hidup kalian?! Mbak Sekar pasti jauh lebih sakit dari saya!" "Ros," tegur Paman Aksa yang membuat Tante Ros menoleh. "Kalian tega!" "Ros, tolong... Ariska takut," ucap Ayah Ariska, kali ini ia tidak berteriak. Tante Ros lalu beranjak pergi keluar kamar masih dengan Ariska di gendongannya tidak ketinggalan tas besar yang dibawanya tadi. Ayah Ariska ikut keluar dari dalam kamar, sementara aku belum mengendurkan remasan baju Paman Aksa. "Ute takut?" tanya Paman Aksa. "Takut, Yah. Ute takut..." "Nggak usah takut, kan ada Ayah. Sekarang minum obat dulu ya?" ucap Paman Aksa. Ia lalu memberikanku obat yang sangat pahit dan tidak enak. "Sekarang Ute bobok dulu ya? Ayah mau ketemu sama Tante Ros dulu." Aku enggan melepaskan Paman Aksa, saat Paman Aksa ada, aku merasa dilindungi. "Mau ya, Sayang?" ulang Paman Aksa. "Ute kan anak baik," Aku melepaskan remasanku pada bajunya dan beranjak ke arah kasur, aku mengambil guling dan memeluknya. Aku harus jadi anak baik agar ibu kembali. "Ayah keluar dulu," pamitnya.   *** Saat itu aku baru menyadari bahwa permasalahan orang dewasa sangatlah rumit, padahal yang kuinginkan hanyalah untuk memiliki Ayah.          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN