bc

LUKA PENGHIANTAN

book_age18+
12
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
family
HE
playboy
sweet
bxg
like
intro-logo
Uraian

Harry, memilih meninggalkan istrinya demi janda yang bekerja sebagai wanita malam. Setelah bertahun-tahun kenangan yang ia buat dengan Tita. Nyatanya, mampu ia hempaskan begitu saja.Bagaimana rasa sakitnya?Mungkin, memang benar. Kenangan tak pernah salah, karena yang berubah bukanlah kenangan.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Awal Kisah
Ingatan itu masih terpatri dengan jelas. Bahkan setiap detail kenangannya begitu membekas. Saat itu, tepatnya pada tahun dua ribu dua belas. Kami duduk di bangku kelas dua belas di salah satu sekolah menengah atas. *** Sebuah pesan masuk tanpa nama muncul di ponselku. Aku mengernyit kala nomor dari seseorang yang tak aku kenali tertulis di layar. [Kostim cewek dikumpulin ke aku.] Aku makin kebingungan saat membaca isi pesan tak bernama itu. Apa dia pikir, aku memiliki kelebihan yang bisa menebak pengirimnya. Dengan rasa penasaran aku mulai mengetik balasan. [Ini siapa?] Aku mengembalikan ponselku ke dalam saku. Saat Rika, teman sekelas memanggil. "Kamu dari mana aja sih, Ta?" Gadis manis dengan lesung pipi itu terlihat kesal. "Kenapa?" tanyaku cuek. "Pesenan aku mana, Tita?" Gadis itu tersenyum, seketika menampilkan lesung di pipinya. Seketika aku menepuk dahi. "Lupa," jawabku dengan senyum terpaksa. Ini gara-gara pesan asing yang masuk ke dalam ponselku tadi. "Mikir apa aja sih, kamu." "Nggak ada, mikir bentar lagi mau ujian." Aku terkekeh saat mendapati wajah Rika cemberut. "Yaudah sih, beli sendiri," usulku. Kami berjalan di lorong sekolah. *** Sepulang sekolah, aku jadi teringat pada pesan dari nomor asing tadi. Tanganku terulur mengambil ponsel yang kuletakan di atas meja belajar. Rupanya sudah ada pesan masuk. Aku mulai membuka kotak pesan. [Harry, kelas tiga IPS tiga.] Aku mengernyit karena tak mengenali nama itu di sekolah. [Kostim yang mana?] Aku mengetik balasan. [Kostim yang dibawa tim cewek.] Kali ini aku sedikit kebingungan. Pasalnya, kaos tim cewek memang diberikan untuk kenang-kenangan. Sesuai dengan kesepakatan bersama. [Loh, bukannya buat kenang-kenangan?] [Mau dilaundry. Ini yang nyuruh senior.] Aku sedikit heran. Masalahnya, sepenting apa? Sampai harus dilaundry. Sementara, kaosku sudah aku cuci tiga hari lalu. [Oke, besok kubawa.] Memilih untuk menghentikan percakapan pesan kami. Aku meletakkan ponselku kembali. Pagi ini, aku mengirim pesan pada salah satu teman sekolah menengah pertamaku yang bernama Lita. Dia juga berada di kelas tiga IPS tiga. Sebelumnya, aku sudah membungkus kaos timku di dalam plastik hitam, sebelum berangkat ke sekolah. Lita membalas pesanku tak lama setelah pesan terkirim. Berbekal pada arahan Lita, aku berjalan ke arah kelas tiga IPS tiga. Meja nomor tiga dari samping kiri dekat jendela. Aku mendapati seorang lelaki yang juga sedang memandangku. Sepertinya, ia yang mengirimi aku pesan kemarin. "Ini kaosku." Aku meletakkannya di atas meja. "Kalau udah, titipin Lita aja," ucapku. "Oke, makasih ya." Lelaki yang kuketahui bernama Harry itu tersenyum aneh. Enggan menanggapi, aku meninggalkan kelasnya tanpa suara. Sejak saat itu, aku dan Harry berteman. Teman yang kuanggap tanpa ada modus apapun. Meski Lita memperingatkan aku untuk berhati-hati. Namun, aku sama sekali tak berpikir hingga sejauh itu. Beberapa kali, Harry menceritakan hubungannya yang kandas dengan seorang gadis yang sebenarnya aku pun juga mengenalnya. Beberapa kali juga, aku menyuruhnya untuk kembali pada mantan kekasihnya. Namun, lelaki itu selalu mengelak. Dia juga sering menunggu di depan kelas seusai jam sekolah atau membawakan makanan ringan saat jam istirahat. Perhatian-perhatian kecil itu tanpa kusadari mulai menumbuhkan rasa yang lain. Aku mulai lupa pada rasa trauma. Ya, aku pernah diduakan oleh mantan kekasihku dua tahun lalu. *** Saat ini aku, Lita, Rendy dan Harry menuju ke rumah Lita. Mereka adalah teman sekelas. Sementara aku berbeda kelas dari mereka. Meski begitu, kami masih dalam satu jurusan. Aku memilih berada diboncengan Lita saat Harry menawarkan tumpangan. Selain masih kurang nyaman. Aku enggan berurusan dengan Dela, mantan Harry yang masih terobsesi dengan lelaki itu. Hingga kami berhenti di sebuah rumah bercat kuning gading. Aku turun terlebih dulu dari boncengan Lita lalu mengekori gadis itu. Tante Fani menyambut. Wanita yang dipanggil ibu oleh Lita itu seolah sudah mengetahui kedatangan kami. Terlihat empat cangkir minuman sudah tersaji di sana. Sebelum mulai belajar bersama, kami berbincang santai. Ya, sebentar lagi anak kelas tiga akan melaksanakan ujian. Itu salah satu alasan kami berkumpul di rumah Lita. Sesekali, Harry memperhatikanku. Sedikit salah tingkah aku membetulkan jilbab yang sebenarnya masih terlihat rapi. Hingga pukul empat sore, aku memutuskan untuk pulang dengan diantar oleh Lita. "Gimana hubungan kalian?" Lita menatapku dari pantulan sepionnya. Kami sudah berada di jalan raya menuju rumahku. Sementara Harry dan temannya sudah berbelok berlainan arah dengan kami. "Nggak ada." Aku menjawab dengan datar, karena memang kami tak memiliki hubungan apa-apa. "Tapi, kamu tertarik?" Lita menatapku dengan wajah aneh. "Emang kenapa tanya kayak gitu?" "Nggak apa-apa." Lita terdiam setelah mengatakannya. Hingga motor milik sahabatku ini, berhenti di depan rumahku. Rumah bercat putih, dengan beberapa tanaman hias di teras. Gadis itu tetap diam, seolah aku sudah berkata sesuatu yang salah. "Makasih ya," ucapku pada Lita sebelum gadis itu pergi. Baru saja langkah kakiku mendekati pintu. Ponselku bergetar. Aku merogoh benda itu dari saku seragam. [Mau nggak. Jadi, pacarku?] Sebuah pesan dari Harry terpampang jelas. Aku sedikit tak enak hati. Mengingat mantan pacar Harry adalah orang yang juga aku kenali. Tentunya, akan menimbulkan kesalah pahaman meski mereka sudah putus setahun lebih. [Jawabannya setelah lulus aja.] Aku memilih untuk mengulur waktu. Malas jika, harus berurusan dengan Dela, mantan Harry. Bukan apa-apa, meski gadis itu sudah memiliki kekasih baru. Dia masih terus berusaha mendapatkan perhatian Harry. Hari yang kami tunggu mulai berlalu, tak terasa tepat pada hari ke empat setelah ujian diadakan. Ponselku bergetar, satu pesan masuk dari Harry terpampang di sana. "Hari ini ujian selesai. Aku tunggu di depan kelasku." Memang, kelas kami bersisian bahkan ada pintu masuk yang menghubungkan kelas kami. Aku yang masih belum siap untuk menjawab, membuat kesibukan untuk mengulur waktu. Entah ke kantin atau ke perpustakaan sekolah. Hingga waktu menunjuk angka tiga sore. Lelaki tinggi dengan kulit bersih itu masih di sana, berdiri di depan kelas bersama dua orang temannya. Aku melangkah perlahan. Sedikit gugup, ketika harus berhadapan dengannya yang meminta kejelasan hubungan. Hingga tanpa sadar langkahku mulai dekat. Netra kami mulai bertemu. Tanpa basa-basi, lelaki itu mulai berkata. "Aku punya dua pilihan. Kalau kamu terima aku, ambil boneka sama bunga ini." Harry mengangkat tangan kanan. Di sana, ia membawa setangkai bunga mawar dengan boneka kecil berbentuk panda. "Kalau kamu menolak, ambil kaos tim ini." Ya, kaos itu adalah kaos milikku yang dia minta dengan alasan, akan dilaundry. "Aku pilih coklat sama bunganya. Makasih ya." Aku tersenyum. Dengan tergesa berbalik untuk pergi, hingga langkahku tiba-tiba tertahan. Harry menahan pergelangan tangan. "Kenapa?" Aku memandangnya dengan gugup. Dua orang temannya melihat kami. Aku semakin tak enak hati. "Aku anterin," tawarnya. "Nganternya pas wasana warsa aja," elakku. Aku masih membatasi hubungan kami. Anggap saja sekedar kepastian jika, aku juga memiliki rasa yang sama.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
45.6K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
9.4K
bc

Menikah, Karena Tak Sengaja Hamil

read
1.3K
bc

Pawang Cinta CEO Playboy

read
3.1K
bc

Mantan Sugar Baby

read
8.7K
bc

The CEO's Little Wife

read
685.6K
bc

Pak Bos Duda Jadi Jodohku

read
34.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook