Bab 2. Kelulusan

1063 Kata
Setelah acara pengumuman kelulusan. Sekolahku mengadakan acara promnite. Malam perpisahan yang menurutku, tidak begitu penting untuk kuikuti. Hubunganku dan Harry berjalan seperti air mengalir. Setengah hatiku, masih kusimpan untuk mencintai diriku sendiri. Hingga malam itu. Ponsel yang biasanya senyap, sinarnya terus berkedip. Beberapa panggilan tak terjawab masuk. Hingga satu pesan dari sahabatku Lita, terpampang dilayar. [Ta, aku jemput. Ganti baju sekarang!] [Aku nggak ikutan] Namun, tak berselang lama setelah pesanku terkirim. Ayah mengetuk pintu kamar, memanggil untuk keluar. Aku beranjak membuka pintu. Seraut wajah gadis yang sedari tadi menghubungiku terpampang nyata. Baju tidur dengan motif bunga yang masih melekat di tubuhku, segera kuganti. Mendengar intruksi dari Lita dan izin yang sudah didapatkan dari Ayah. Membuat kami berboncengan keluar dari gang perumahan, suasananya serba dadakan. Aku seperti tokoh dalam film action dengan suasana menegangkan. Motor Lita tiba-tiba menepi, membuatku sedikit kebingungan. "Loh, kok berhenti di sini?" Aku yang masih kebingungan menatap sepion milik Lita. Gadis itu hanya tersenyum tipis. "Harry udah nungguin tuh. Tadi mau jemput kamu, tapi aku larang." Lita terkekeh tanpa dosa. "Dia bilang telponnya nggak kamu angkat." "Ish, ngapain sih?" Aku hanya bisa menggumam, dengan terpaksa turun dari boncengan. Lelaki dengan jaket hitam polos itu, menatapku dengan senyum tanpa dosa. Lantas mendekatkan motornya ke arahku setelah Lita bergegas meninggalkan kami. "Ngapain pake acara mau jemput segala sih. Aku kan udah bilang, nggak mau ikutan," sungutku kesal. "Aku mau manggung." Aku bisa mendengar helaan napasnya. "Kamu nggak mau lihat aku?" Aku terdiam, lantas naik ke atas boncengan. "Kamu ... manggung?" Ada sedikit rasa bersalah. "Iya. Lima belas menit lagi." Lelaki itu menarik tanganku agar berpegangan pada perutnya. "Pegangan." Setelah mengatakan kata itu, Harry melajukan motor dengan cepat. Tanpa sadar mataku terpejam, merasakan terpaan angin yang berhembus menembus kulit. Tanganku mengerat saat laju motor itu semakin cepat. Jantungku berdetak kuat, hingga motor yang kunaiki terhenti di halaman parkir sekolah. Demi apapun, kakiku masih bergetar saat turun dari boncengan Harry. "Kamu nggak apa-apa, kan?" Wajahnya menatapku dengan cemas. Aku menggeleng lantas melihat jam di pergelangan. "Cepet, lima menit lagi." Aku menyuruhnya untuk segera kebelakang panggung. Sudah pasti dia harus persiapan, kan? "Kursi nomor enam deretan kanan." Lelaki itu tersenyum tipis. "Tempat itu udah aku pesan buat kamu." Setelah mengatakan hal itu. Dia berlari, punggung lebarnya menjauh. Menyisakan aroma parfum yang kini mulai terbiasa di indra penciuman. Aku berjalan melewati lorong sekolah, memasuki aula yang saat ini memang sudah banyak terisi. Kursi-kursi berjajar hingga aku menemukan kursi yang dimaksud dengan Harry. Sebuah kertas terlipat dengan setangkai bunga mawar. Aku sedikit heran hingga suara Lita terdengar. "Itu dari Harry." Keningku mengerut. "Masak sih?" "Dibuka, Ta. Bukan dilihatin doang." "Terima kasih, Tita." Aku mengeja aksara yang ia tulis dengan tinta hitam. Pipiku mungkin sudah merona. Kertas putih itu aku simpan dalam saku jaket yang kukenakan. Hingga band yang salah satu anggotanya adalah Harry dipanggil ke panggung. Lelaki itu berdiri di sana, tersenyum ke arahku. Sementara aku? Aku hanya bisa berpura-pura tak melihat. "Lagu ini spesial untuk gadis yang duduk di kursi nomor enam." Lelaki itu lagi-lagi melirikku. Pipiku terasa panas, rasa malu itu seketika menyergap kala banyak sorot mata meneliti. Bisik-bisik tanya tentang gadis yang dimaksud Harry terdengar di telinga. Tenggorokanku tercekat, rasanya bernapaspun terasa sulit. Aku masih diselamatkan oleh penerangan lampu yang memang temaram. Hanya lampu-lampu hias kecil, tak mampu menyorot wajahku dengan sempurna. Suara petikan gitar itu mulai terdengar, diiringi lirik yang menyentuh hati. Tentang seorang lelaki yang memendam rasa. Setelah lagu itu hampir selesai dinyanyikan, aku berjalan mendekati teman-teman yang aku kenali. Aksara, salah satu teman lelaki yang memang dekat denganku itu melambaikan tangan. "Wah, gila si Harry ya, Ta! Dia berani banget ngomong kayak gitu di panggung. Kamu lihat cewek yang dimaksud nggak sih? Kamu tadi di depan, kan?" "Nggak tahu," jawabku singkat, meski jantungku sudah berdetak. "Dia udah turun panggung kan, ya?" Aksara melongokkan kepalanya ke depan. Seolah mencari sosok Harry di sana. Aku masih duduk terpaku, benar-bebar tak menyangka kalau Harry akan melakukan hal itu. Ponselku tiba-tiba bergetar, satu panggilan dari nomor Lita terpampang jelas. "Hallo, Lit?" "Kamu ke mana sih? Kenapa nggak anteng duduk di kursi?" "Sama temen-temen kelas. Ke sini aja, Lit." "Harry suruh ke sana?" Aku menelan ludahku sendiri. "Kok Harry, sih?" Sedikit kupelankan nada suaraku, agar Aksara tak mendengar obrolan kami. "Harry nunggu di kursi yang tadi. Dia takut kamu hilang, Tita." Lita mengucap dengan intonasi datarnya. Mungkin kesal karena aku tak mengikuti anjuran yang sudah diperintahkan. Duduk di kursi nomor enam. "Hilang ke mana sih, Lita?" Aku terkekeh. "Ya aku ke sana." "Aku balik ke depan ya, Aksa," pamitku setelah panggilan berakhir. "Oh, oke." Aksa menatapku. "Hati-hati," lanjutnya. "Aku ke depan ya, Rika." Aku menatap Rika yang duduk di belakang Aksara. "Oke." Rika tersenyum manis lantas melambaikan tangannya saat aku sudah berdiri. Harry sudah duduk manis di sebelah kursi yang aku tinggalkan tadi. Suara tanya terdengar kala aku duduk di sampingnya. "Kenapa pergi?" "Pengen gabung aja sama temen kelas." Aku tersenyum canggung. "Yang ngajak kamu kan aku. Jadi, aku yang tanggung jawab selama kamu di sini." Lelaki itu terdiam sejenak. "Gimana tadi?" lanjutnya. "Bagus kok." Aku tersenyum kaku. "Tapi, kenapa pake acara pesan-pesan segala sih." "Bukannya kamu seneng ya. Kalau digituin," jawabnya dengan kekehan kecil. "Mana ada." Aku mencebik. "Ya, maaf. Aku pikir cewek suka digituin." Kali ini suaranya terdengar tulus. "Oke. Nggak apa-apa." "Ini minum dulu." Harry mengulurkan botol mineral yang sudah terbuka segelnya padaku. "Makasih." "Mau makan apa? Aku ambilin." "Ah, nggak usah, udah makan," elakku. "Yang bener Ta? Tadi bilangnya, ada menu apa di promnite," celetuk Lita. Mataku melebar menatap Lita yang disambut tawa Harry. "Di makan." Harry mengulurkan semangkuk mie ayam kehadapanku. Dengan malu aku hanya bisa memakannya perlahan. Lita memang tak bisa diajak kerja sama. Kami melalui malam ini dengan bercerita, hingga tanpa terasa waktu menunjuk angka dua belas malam. "Pulang yuk," ajakku. Lita sudah pulang sedari tadi dengan saudara sepupunya. "Oke. Aku ambil motor dulu ya." "Aku tunggu di gerbang ya." "Oke." Aku berjalan melewati lorong sekolah, setelah berpisah dengan Harry yang hendak mengambil motor diparkiran. Sedikit canggung saat mendapati Dela, mantan Harry yang juga sedang berdiri di dekat pos satpam. "Ta!" "Hai." "Hebat ya, Harry seberani itu. Kalian udah jadian ya?" "Eh, i--ya," jawbaku tergagap. "Selamat ya, Ta." Dela menggengam tanganku lalu memeluk. "Makasih." Aku sedikit kaget dengan perlakuan tak terduga itu. "Ini kamu pulang dianterin Harry, ya?" "Nggak kok. Nungguin jemputan." Aku menggigit bibir kala menjawab dengan kebohongan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN