"Duluan ya, Ta." Dela tersenyum saat sorot lampu motor milik kekasihnya mendekat. Aku menghela napas lega. Untung saja, Harry tak datang terlebih dulu. Bisa ketahuan aku sedang berbohong.
Aku mengusap lenganku, menunggu dengan setia. Tak berselang lama, setelah Dela pergi. Motor Harry mendekat.
"Maaf, lama ya?" tanya lelaki itu tak enak hati. "Tadi, motorku ketutup motor lain. Lumayan banyak."
"Nggak apa-apa kok." Dalam hati, aku malah bersyukur. Berkat Harry yang datang sedikit lebih lama. Membuat kebohonganku pada Dela berjalan dengan baik.
Tanpa komando lagi, aku naik ke atas boncengan Harry. Kami terdiam dengan pemikiran masing-masing, hingga suara Harry terdengar memecah sunyi.
"Ta!"
"Ya?"
"Maaf, ya."
"Buat apa?"
"Aku udah maksa kamu dateng."
"Nggak apa-apa, kok." Aku menghela napas. "Em, maaf ya. Aku nggak pake dress atau berdandan kayak yang lain." Bukan apa-apa, hanya saja. Aku sama sekali tak mempersiapkan kedatanganku ke acara promnite.
Harry mengarahkan sepionnya ke wajahku.
"Kamu cantik."
Aku menunduk, sedikit canggung saat sekilas netra kami bertemu.
"Ta."
"Ya?"
"Kamu nggak pegangan?"
"Aku dibonceng Ayah, nggak pernah pegangan. Nggak jatuh kok," jawabku beralasan. Sejujurnya, aku masih canggung dengan kejadian malam ini.
"Sampe depan gapura, aja ya. Takut Ayah tahu," lanjutku.
"Iya, nggak apa-apa."
Aku melihat bunga di tanganku. Setangkai mawar yang sudah sedikit layu.
"Makasih bunganya. Nanti, aku satukan sama bunga yang kemarin."
"Kenapa dikumpulin?"
"Nggak apa-apa. Suatu saat aku kembalikan, kita nggak tahu kedepannya akan kayak apa." Aku masih menutup hatiku. Masih tak percaya dengan mulut lelaki. Penghianatan Arkan, mantan kekasihku dulu masih membekas.
Lelaki itu menarik tanganku ke depan. Membuatnya jadi, melingkari perut.
"Aku tahu, kamu masih trauma. Tapi, bukan berarti hubungan kita berakhir seperti kisahmu yang sudah-sudah, Ta."
Perasaanku sedikit menghangat mendengar penuturannya. Hingga motor Harry melewati gapura perumahan.
"Turun di sini aja," ucapku reflek. Akan tetapi, Harry seolah mengabaikanku. Hingga motornya berhenti di depan rumah.
Aku menggigit bibir saat Ayah sudah berdiri di depan pintu, menatap kami dengan mata menyelidik. Demi apa? Harry senekat itu.
"Pak, maaf saya yang antar. Soalnya, Lita nggak berani ngantar sampe sini."
"Ya." Suara Ayah terdengar kaku. Tanpa menunggu waktu. Aku berjalan tergesa masuk ke dalam kamar. Takut kalau malam ini aku kena omelan Ayah.
Benar-benar kejadian yang tak aku bayangkan. Tanganku menggenggam bunga pemberian Harry, lantas meletakkannya pada kotak yang berisi bunga serta boneka pemberiannya. Setelahnya tubuhku merebah, membayangkan kejadian tadi membuatku tersipu sendiri.
Keesokan harinya, ini adalah hari bebas di sekolah. Di mana, kami kelas tiga. Hanya tinggal menunggu wasana warsa.
Ayah sudah mengintrogasi, tentang siapa lelaki yang mengantarku semalam. Namun, aku selamat dengan alasan sudah lulus sekolah.
Saat ini, aku berjalan menuju gerbang sekolah saat seseorang menelpon.
"Halo, Ta." Suara lelaki yang semalam mengantarku pulang terdengar.
"Ya?"
"Kamu masuk sekolah, nggak?"
"Masuk kok, ini lagi di depan gerbang. Tapi, udah tutup. Aku jalan lewat samping mau ke kantin. Gimana?"
"Maaf ya, Ta. Kamu di marahin Ayah, ya?"
"Nggak, udah aku jelasin kita cuma temen deket."
"Oke. Aku tunggu di kantin, ya."
"Ya. Aku ke sana." Aku mematikan ponsel lalu melewati lapangan belakang sekolah.
Langkahku melewati beberapa pohon rindang menuju kantin. Aku akan merindukan suasana ini.
Tak berselang lama, aku sudah memasuki kantin sekolah. Meraih ponsel memanggil nomor Harry.
"Halo, kamu di mana?"
"Di pojok." Lelaki itu melambaikan tangan saat mataku mencari sosoknya.
"Ngapain di situ?" tanyaku masih dengan memegang ponsel di telinga.
"Biar nggak ada yang tahu." Aku terkekeh mendengar penjelasannya lantas mematikan ponsel.
"Udah pesen makan?" tanyaku yang mendapati mejanya masih kosong.
"Belum."
"Terus?"
"Nunggu kamu."
"Bu pesen soto satu. Tita nggak, soalnya baru puasa."
"Eh, nggak Bu. Aku pesen satu."
"Aksara suka sama kamu, ya?"
"Ha?" Aku merasa pendengaranku sedang bermasalah.
"Aksara suka sama kamu."
"Mana ada, nggak." Aku sedikit heran saat tiba-tiba Harry mengatakan hal itu.
"Tadi, dia ke kelas. Nanyain kamu sama Lita."
"Halah, paling mau gibah. Biasalah, itu."
Harry terdiam lalu menatapku dengan wajah aneh.
"Kamu cemburu?"
Harry tersenyum sinis lalu berucap. "Cemburu sama tikus, kayak Aksara."
Aku hanya mencebik sedikit heran dengan tingkah Harry pagi ini. Terlihat sedikit ketus.
"Nunggu Aksara ke sini baru balik kelas, ya."
Belum sempat aku bernapas lega, pernyataan Harry membuatku tak habis pikir.
"Ngapain Aksara ke sini?" Aku masih terbengong sendiri.
"Sialan! Telingaku denger." Tiba-tiba Aksara sudah menepuk pundak Harry lalu duduk di sebelahku.
"Ta, kamu kenapa nggak bilang kalau jadian sama kutu ini," tunjuknya ke arah Harry.
"Lah emang penting?" Dua mangkuk soto sudah tersaji di depanku dan Harry.
"Bu, pesen soto satu ya." Aksara memesan. "Kamu kok berangkat siang sih? Kenapa nggak angkat telpon. Tadi mau aku jemput," lanjutnya.
"Tumben amat pake acara jemput?"
"Kok kalian bisa jadian, sih? Ta, semalem kita ketemu kenapa nggak bilang?"
Aku hanya diam, menyimak obrolan Harry dan Aksara. Mereka terlihat akrab, karena memang satu ekskul di sekolah.
Saat ini, satu sekolah sudah tahu. Terutama anak kelas tiga. Kalau aku dan Harry telah resmi memiliki hubungan.
Hingga acara pelepasan kelas tiga, tahun ajaran dua ribu dua belas dimulai.
"Aku mau kuliah." Aku menatap lelaki yang beberapa hari ini menemaniku sebelum kelulusan.
"Aku nggak kuliah. Aku langsung kerja," jawabnya.
Aku mengangguk, mungkin memang sebaiknya begitu.
Kami akan dipisahkan dengan kesibukan masing-masing. Apalagi, aku sudah diterima di salah satu universitas ternama.
"Ta, kamu ke mana aja sih." Lita melihatku dan Harry bergantian.
"Ayok foto-foto." Lita menarikku.
Aku belum sempat berpamitan pada Harry. Hanya mata kami yang saling bertemu dari kejauhan.
"Ta, kamu serius sama Harry?"
"Emang kenapa?"
"Nggak apa-apa. Tapi, beneran kamu suka sama dia?"
"Kenapa sih, Lita?"
"Perasaanku nggak enak."
"Ah, perasaan kamu aja kali."
Aksara menatap kami dari jendela kelas. Ya, saat ini aku dan Lita berada di belakang sekolah yang posisinya berada di belakang kelas kami.
"Kalian foto-foto nggak ngajak aku?" Aksara memasang wajah lucu. Lelaki itu memang selera humornya terlalu tinggi.
"Kamu yang fotoin kita." Lita memerintah.
"Kamu fotoin aku sama Tita." Aksara sudah keluar dari kelas, melompat lewat jendela. Lelaki itu memang sedikit bandel.
"Heh, ntar pawangnya marah." Lita terkekeh. Meski tetap menuruti perkataan Aksara. Kami berpose dengan konyol.
"Ta."
"Hm?"
"Setelah ini, kita nggak bisa ketemu lagi ya?"
"Bisa dong. Kita masih bisa komunikasi lewat ponsel." Aku menepuk pundak Aksara pelan. Teman sekelasku ini memang sangat dekat denganku. Kami sering bercerita banyak hal. Mengenang tiga tahun perjuangan kami di kelas, rasa haru menelusup begitu saja.
"Heh, udah. Ntar kalian cinlok." Lita menarikku lalu meninggalkan Aksara yang masih berdiri di sana.
"Baik-baik, Sa!" teriakku dari kejauhan.