Bagai siang dan malam. Bagai cerah dan hujan. Begitupun hati dan emosi manusia. *** Sasi berkutat dengan gulana dan kesahnya sendiri, hingga tak menyadari jika lift sudah sampai di lantai satu. "Mari, Bu Sasi." Tristan menyadarkan Sasi dari lamunannya. "Oh...eh iya.... Makasih, Tristan." Sasi tersenyum dan melangkah mendahului Tristan keluar dari lift. Tristan mengikuti dibelakang Sasi. Baru beberapa langkah, Sasi berhenti dan memutar tubuh menghadap Tristan. "Oh iya Tristan, saya pulang sendiri saja, ya," ujar Sasi. "Lho, kenapa, Bu?" "Saya masih ada keperluan di luar." "Tapi, Bu...." Tristan tidak melanjutkan kata-katanya. Masih terlihat mendung di wajah Sasi. Tristan dilema. Satu sisi, Tristan ingin saja membiarkan Sasi menenangkan dirinya sendiri, entah ke mana dan entah bersa

