Kali ini mungkin aku akan kembali pada kisah-kisah mengenai Mbok Nati. Seperti yang kukatakan di awal, bahwa pola asuh Mbok Nati sangat berpengaruh dalam membentuk diriku yang sekarang. Mbok Nati mulai bekerja pada keluargaku ketika aku berusia 2 tahun dan saat itu Anne baru lahir. Bunda membutuhkan tenaga bantuan untuk mengurus kami, terlebih Anne. Hubunganku dengan Mbok Nati sebenarnya baik-baik saja, tetapi memang tidak bisa dikatakan berjalan mulus. Aku ingat ketika aku berusia 4 atau 5 tahun, aku sering dan suka menahan poop. Pada akhirnya aku jadi poop di celana dan itu mungkin membuat Mbok Nati kesal karena harus membantuku membersihkan kekacauan yang telah kubuat. Selain itu, sewaktu kecil aku dan Anne juga sering bertengkar. Kalau sudah bertengkar, aku dan Anne akan saling memaki dengan menjelekkan fisik masing-masing. Aku memang memiliki kulit yang lebih terang dibanding Anne, tetapi Anne pada saat itu bertubuh idea, tidak gendut seperti aku.
“Dasar lu item!” Teriakku yang kala itu baru berumur 7 tahun. Tanpa kusadari, sedari kecil aku sudah mengerti adanya stereotip bahwa berkulit gelap dianggap jelek.
“Daripada lu, gendut!” Anne balik meledekku.
Mbok Nati tentu saja membela Anne. Mbok Nati bilang sebagai kakak seharusnya aku bisa mengalah dan menjadi teladan bagi adiknya, bukannya ikut marah-marah dan saling memaki. Kalau diingat-ingat, memang nasihat Mbok Nati benar, tetapi kala itu aku tidak mau mengerti. Aku juga tak luput dari kejadian body shamming sewaktu kecil. Pelakunya bukan hanya Mbok Nati, tetapi juga bibiku yang tinggal di samping rumah. Siang itu kami sedang duduk-duduk bersama di depan pintu rumahku, ada aku, Anne, Mbok Nati dan Bibi Fatimah.
“Kok kalo diperhatiin kayaknya muka kamu tambah lebar ya, Re!” Tiba-tiba Bibi Fatimah nyeletuk ketika sedang memperhatikan wajahku yang memang memiliki bentuk kotak dan terkesan lebar.
Walaupun itu terjadi ketika aku masih kecil dan mungkin Bibi Fatimah juga sudah tidak ingat, tetapi hal tersebut terekam dengan sangat jelas di memoriku. Pada saat itu tidak ada pembelaan dari Mbok Nati, yang kuingat Mbok Nati hanya tertawa dan berbicara sesuatu yang intinya membenarkan apa yang dikatakan Bibi Fatimah bahwa wajahku lebar, sementara Anne tidak. Wajah lebar = tidak cantik. Semenjak kejadian itu, pemahamanku akan definisi cantik kembali bertambah. Saat itu aku berpikir bahwa sifat cantik memang tidak ada pada diriku. Aku tidak langsing, tidak memiliki rambut panjang, dan tidak memiliki wajah yang tirus, justru aku kebalikan dari itu semua. Dari kejadian tersebut, aku juga menjadi lebih concern terhadap bentuk wajahku. Ketika di rumah, sebisa mungkin aku menutupi bagian kiri dan kanan wajahku dengan rambut untuk memberikan kesan wajah yang lebih tirus. Aku juga menjadi bersyukur karena mengenakan kerudung di sekolah, karena kerudung dapat membantu menutupi fitur wajahku yang lebar.
Sikap Mbok Nati yang diskriminatif terhadap aku dan Anne sebenarnya bukanlah sesuatu yang “jahat” sampai menyebabkan luka fisik atau mental. Aku hanya mengatakan bahwa karena hal tersebut, aku bertubuh menjadi Rere yang sekarang. Aku tau perasaan suka dan tidak suka memang terkadang timbul begitu saja, mungkin itu juga yang dirasakan oleh Mbok Nati terhadapku. Entah kenapa semenjak aku sadar bahwa perasaan Mbok Nati terhadap aku dan Anne berbeda, aku lebih was-was padanya. Setiap pagi ketika Ayah dan Bunda berangkat kerja, terdapat waktu kosong sebelum Mbok Nati datang ke rumah. Aku merasa waktu tersebut sangat berharga karena aku bisa berkeliaran di rumah sesuka hatiku, tetapi ketika Mbok Nati sudah datang entah kenapa aku seperti main kucing-kucingan dengannya. Kami sama-sama canggung terhadap satu sama lain. Sebisa mungkin aku tidak berada di ruangan yang sama dengan Mbok Nati. Contohnya aku menahan minum ketika Mbok Nati lagi masak di dapur, aku nggak ke ruang TV kalau Mbok Nati lagi nyapu. Bahkan kalau kami nggak sengaja papasan di rumah, tegur sapa kami terasa kaku.
Sementara hubungan Anne dan Mbok Nati lain lagi. Mereka berdua seperti anak dan ibu. Anne bisa bercanda ria dengan Mbok Nati, meledeknya, menjahilinya, bahkan membentak Mbok Nati kalau keinginan Anne tidak terpenuhi. Tapi apakah Mbok Nati marah pada Anne? Tentu saja tidak. Mbok Nati dengan segala cara akan mengakomodir keinginan Anne dan tidak pernah kulihat raut wajah kesal pada wajah Mbok Nati. Mbok Nati menyayangi Anne layaknya seorang ibu menyayangi anaknya, sementara aku hanya dianggap sebagai anak majikan yang harus diurus kebutuhan makan dan minumnya saja. Intinya Mbok Nati tidak jahat, ia hanya diskriminatif saja terhadapku. Karena perasaan “tidak disayangi” yang kurasakan sejak kecil dan mengetahui bahwa Anne mendapatkan “kasih sayang” dari Mbok Nati, membuatku menarik kesimpulan bahwa Anne lebih unggul dibandingkan aku. Aku menyimpulkan bahwa Anne cantik dan layak disayangi, sementara aku tidak.
Aku ingat pernah memelihara kelinci yang begitu kusayangi, namanya Willy dan Peter. Saat itu entah kenapa aku begitu sedih sampai menangis, sepertinya hal itu karena Mbok Nati. Untungnya Mbok Nati sudah pulang, dan aku tinggal sendiri di rumah. Aku hanya bisa mengeluh pada kedua kelinciku saat itu.
“Willy, Peter, kenapa ya aku dilahirkan seperti ini? Salah aku apa?” Tanyaku pada kedua kelinciku yang mengerti juga tidak apa yang aku bicarakan.
Bagaimanapun, itulah gambaran besar kisah mengenai Mbok Nati. Di luar itu, Mbok Nati adalah seseorang yang jujur dan setia terhadap majikan. Mbok Nati sangat loyal terhadap Bunda yang memang memiliki sifat blak-blakan tetapi sopan. Bunda nggak suka basa-basi seperti ibu-ibu lain, mungkin karena Bunda bekerja pada “orang” sehingga Bunda bisa mengerti perasaan Mbok Nati sebagai “karyawannya”. Sekarang Mbok Nati sudah tidak lagi bekerja untuk keluarga kami. Mbok Nati terpaksa berhenti karena pandemi yang terjadi pada tahun 2020 yang membuat Ayah dan Bunda harus berhenti bekerja dan memulai usaha di rumah, sehingga kehadiran Mbok Nati sudah tidak dibutuhkan lagi.
Mbok Nati, terima kasih telah mengurus aku dan Anne selama lebih dari 15 tahun. Aku sadar bahwa apa yang kuceritakan pada kisah ini hanya berasal dari sudut pandangku, aku sama sekali tidak tau persis apa yang Mbok Nati rasakan selama kita bersama. Aku memaafkan Mbok Nati atas tindakan Mbok yang membuatku merasa ‘tidak berarti’ pada masa itu. Namun sekarang aku mengerti bahwa kejadian itu harus terjadi, karena ejadian-kejadian itu membentukku menjadi Rere yang sekarang. Rere yang cantik, pintar, layak disayangi, dan berarti.