Lima

1027 Kata
Pada saat hari pengumuman nilai UTN, 10 nilai tertinggi ditempel di kaca-kaca ruang ujian. Aku sama sekali tidak berekspektasi melihat namaku di kertas tersebut, hanya penasaran siapakah yang mendapat nilai tertinggi? Apakah Jani? Aira? Dimas? atau teman-temanku yang lainnya? Tapi ternyata nilai tertinggi diperoleh oleh salah seorang temanku yang bernama Fadhil yang terkenal sama bodohnya dengan aku, Vanka, dan anak-anak lain yang tidak termasuk ke dalam kategori “anak-anak pintar”. Aku lupa berapa persisnya nilai UTN Fadhil, tetapi kekagetan itu bertambah ketika melihat namaku berada persis di bawah nama Fadhil. Nama: Renjana Senja Kala, Nilai: 28,15. Aku begitu kaget ketika melihat nama dan nilai UTN-ku berada di peringkat 2. Nilai sempurna UTN adalah 30,00 dan aku hanya terpaut 1,75 angka dari nilai sempurna. Padahal selama 4 kali mengikuti ujian try out, prediksi nilai UTN-ku hanya berkisar di angka 23 – 26. Nama Aira dan Jani berada diurutan ke-4 dan ke-5 dengan nilai kurang lebih 27,sekian (kurasa), sementara nama Vanka tidak ada diurutan top ten tersebut. Aku sempat bertatapan dengan Aira dan Jani, terlihat dari wajah mereka bahwa mereka sama sekali tidak menyangka akan melihat namaku di daftar tersebut. Momen itu benar-benar mengubahku menjadi seseorang yang berbeda. Rere bukan lagi anak yang “biasa-biasa aja” atau “bodoh”, Rere adalah anak yang pintar. Begitulah pikiran orang-orang yang melihatku semenjak mengetahui nilai UTN-ku. Betapa besar kekuatan sebuah angka dalam menentukan nilai diri. Cerita masa-masa SD-ku tidak berakhir disini, kurasa masih banyak hal-hal yang harus diceritakan karena hal-hal tersebut berperan dalam membentuk diriku yang sekarang. Mari kita mundur ke beberapa tahun kebelakang sebelum aku mengetahui nilai UTN-ku. Kala itu aku kelas 3 SD, Rere yang bertubuh gempal dengan pipi chubby dan rambut model Dora. Seperti yang kalian ketahui, manusia membutuhkan kelompok untuk bisa eksis dan survive, termasuk aku. Pada saat itu sedang waktu istirahat, aku dan beberapa orang temanku (yang aku lupa siapa saja itu), ingin bergabung bermain perosotan dengan “geng anak-anak cantik, gaul, tajir, fanatik dengan girlband korea, dan jago nari”, singkatnya mereka dijuluki “geng cantik”. “Aku boleh ikut main perosotan disini ngga?” Aku bertanya kepada mereka yang sedang asyik bercanda sambil menonton sesuatu di HP Nokia QWERTY warna pink yang saat itu sangat trendy. Mereka diam sejenak, mungkin heran atau bisa juga kaget dengan kedatanganku dan teman-temanku yang dimata mereka mungkin sama dekilnya. “Ih… nggak boleh, kita nggak mau main sama kalian. Rambut kalian pendek, rambut kita panjang, kita nggak mau main sama anak perempuan yang rambutnya pendek” Jawab salah satu pentolan geng, namanya Putri. Semenjak kejadian penolakan tersebut, aku semakin mengerti akan beberapa hal mendasar. Yang pertama adalah aku tidak cantik, yang kedua adalah jika aku ingin menjadi cantik maka aku harus memanjangkan rambut. Terima kasih pengalaman pahit, di umurku yang ke-23 ini rambutku panjang dan wajahku cantik (menurut banyak orang dan menurut diriku sendiri). Kejadian lain di SD yang tak luput membentuk diriku adalah momen ketika pertama kali aku menonton adegan p***o. Iya, lagi-lagi kalian nggak salah baca kok, Rere umur 11 tahun sudah pernah menonton adegan p***o. Kejadiannya bermula ketika aku dan Vanka sedang asyik mengobrol mengenai suatu sinetron di salah satu stasiun TV. “Re, kamu tau kan sinetron yang tayang di stasiun TV 5?” Vanka bertanya kepadaku dengan antusias. “Yang mana, Van?” Aku masih belum engeh dengan sinetron yang dimaksud Vanka. “Itu loh sinetron yang menceritakan cewe SMA kerudungan mutusin untuk lepas kerudung dan gunting rok panjangnya jadi rok pendek!” Jawab Vanka antusias. “Oh ya? Memang ada ya Van?” Aku menjadi penasaran. “Ada, coba deh kamu tonton, kayaknya tayang setiap hari di stasiun TV 5” Vanka memberikan rekomendasi yang ternyata sangat buruk bagi anak SD umur 11 tahun. Sejauh yang bisa kuingat adalah memang sinetron tersebut ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta. Aku juga ingat pernah menontonnya, tentu saja karena rekomendasi dari Vanka. Sinetron itu mengisahkan mengenai seorang remaja perempuan alim yang pada saat itu berada di bangku SMA. Sebut saja namanya Aisyah, Aisyah ini adalah anak yang alim, baik, dan penurut pada orangtuanya. Ia berasal dari keluarga sederhana dan tidak pernah bertingkah macam-macam. Suatu hari beberapa remaja perempuan “gaul” dengan seragam mininya: baju super ketat dan rok pendek di atas dengkul memberitau Aisyah kalau sebenarnya ada salah satu teman laki-laki mereka yang suka sama Aisyah, mereka juga bilang ke Aisyah kalau ia akan jauh terlihat lebih cantik kalau melepas kerudung. Awalnya tokoh Aisyah ini tidak terpengaruh dengan bujuk rayu dari anak-anak gaul tersebut, tapi ketika ia melihat Roby, tokoh laki-laki yang suka dengan Aisyah, ia merasakan getaran cinta. Pada akhirnya Aisyah memutuskan untuk melepas kerudungnya dan menggunting rok SMA-nya yang panjang sampai di atas lutut. Ia bahkan menato pahanya ketika resmi berpacaran dengan Roby. Aisyah juga menjadi anak yang durhaka dengan berbohong dan membentak kedua orangtuanya. Aku tidak ingat akhir dari sinetron itu. Ketika dipikir-pikir, kok bisa ya ada sinetron yang menayangkan alur cerita seperti itu? Apa kira-kira manfaatnya bagi penonton? “Gimana, kamu udah nonton belum sinetron yang aku kasih tau kemarin?” Keesokan harinya Vanka kembali membahas sinetron tersebut. “Udah, wah parah banget ya si Aisyah!” Jawabku. “Kita coba yuk pake rok pendek?” Vanka setengah berbisik ketika mengatakan hal tersebut. “Hah? Kamu mau gunting rok kamu, Van?” Tanyaku keheranan. “Ya enggak lah! Kita naikin aja rok kita sampe di atas lutut. Mumpung kita lagi duduk di pojok belakang nih...” Vanka menjelaskan idenya yang aneh itu. “Terus lubang meja ini gimana?” Tanyaku yang masih kebingungan dengan niat vanka itu. “Kita tumpuk tas-tas kita di lubang itu, jadi nggak ada yang ngeliat” Vanka menyerahkan tasnya dan membantuku menumpuknya dengan tasku sedemikian rupa agar lubang di kaki meja tertutup. Pada akhirnya aku dan Vanka benar-benar melakukan hal tersebut. Kami menaikan rok panjang kami sampai ke atas lutut, pada saat itu entah kenapa kami berdua sama-sama tidak mengenakan celana legging. Kami saling menetap paha mulus satu sama lain. Aku ingat Vanka sempat memegang, mengelus, dan mencubit pahaku dengan tangannya. “Montok banget paha kamu, Re” Dia terkekeh sembari meremas pahaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN