Aku berbohong kepada Jani, Aira, dan Vanka bahwa aku tinggal di komplek, aku punya mobil, dan kebohongan-kebohongan lain untuk menunjukkan kepada mereka bahwa aku “sama” dengan mereka. Aku tidak tau apakah mereka waktu itu marah padaku karena kebohonganku atau karena ternyata aku berasal dari keluarga sederhana. Tetapi kebohongan itu benar-benar membentuk diriku menjadi seseorang yang malu terhadap jati diri dan keluarganya. Sampai sekarang. Ketika aku dijauhi oleh geng-ku di kelas 5 SD, aku ingat bahwa aku sempat membawa buku yang sangat berat ke sekolah. Buku itu kubawa untuk k****a sebagai penyemangat, pengalih dari rasa sedih dan juga untuk menyibukanku ketika aku tidak bisa berbicara dengan yang lainnya. Buku itu berjudul La Tahzan, sebuah buku fenomenal yang sarat makna. Sepertinya tak lama kemudian aku kembali berteman dengan mereka, entah apa yang membuat hubungan kita membaik.
Mungkin sekarang aku akan menceritakan kenangan yang terekam jelas dengan ketiga sahabatku ini, satu-persatu. Mereka layak diceritakan karena mereka adalah teman-teman dekat pertamaku. Yang pertama adalah Jani. Kami adalah chairmate, di kelas 5 SD aku dan Jani duduk di belakang Aqshal dan Nazief, sepasang sahabat yang bagaikan kunci dan gembok. Aqshal dan Nazief sama sama memiliki sifat periang, jahil, dan seru untuk diajak bercanda. Seringkali kami berdua diusili mereka, tetapi kami tidak menyerah dan balik menyerang. Aku dan Jani sering melemparkan sesuatu, entah itu irisan penghapus atau kertas yang diremas-remas ke arah mereka. Nantinya Aqshal dan Nazief akan menoleh, merengek, dan menganggu kami berdua. Tetapi itu memang hal yang kami harapkan, yaitu membuat Aqshal dan Nazief berisik di tengah pelajaran kemudian mereka akan ditegur oleh guru yang sedang mengajar. Hal itu sering kali terjadi dan tak pernah gagal membuat aku dan Jani tertawa.
Kemudian Aira, seperti yang sudah kubilang sebelumnya bahwa Aira masuk ke dalam jajaran “cewek-cewek cantik” karena memiliki kulit putih, tubuh ideal, dan alis yang tebal. Aira pintar dalam Bahasa Inggris, tetapi ia juga menguasai banyak mata pelajaran. Aira terkenal dekat dengan banyak cowok karena kecantikan dan kepintarannya, tetapi ia tidak seriang dan sehumoris Jani atau Vanka. Aira memiliki pembawaan yang cuek bahkan cenderung kaku. Ia tidak mudah dekat dengan orang baru. Aku ingat sekali Aira pernah membantuku pada ulangan harian Bahasa Inggris yang kala itu sedang berlangsung, ketika itu kami berada di kelas 4. Aku duduk sebangku dengan Aira dan saat itu aku begitu kesulitan menjawab soal yang menanyakan “Apa bahasa Inggrisnya Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu?”. Aku lupa apakah Monday itu senin atau minggu? Aku tidak bisa menentukan. Yang kuingat adalah aku memilih Monday sebagai Minggu, sehingga Tuesday adalah Senin, begitu seterusnya dan bisa dipastikan aku akan mendapat nilai 0. Tetapi hal itu tidak terjadi karena Aira membantuku. Aira memberitahuku sebelum kami mengumpulkan jawaban bahwa jawabanku salah, seharusnya Monday itu Senin, bukan Minggu. Akhirnya aku memperbaiki jawabanku dan menyerahkannya kepada guru kami. Aku tidak jadi mendapat nilai 0, alih-alih aku malah mendapat nilai 100.
Tak hanya itu, Aira juga sempat menolongku ketika aku dibully oleh Aruna. Ingatanku samar akan hal ini, tapi aku ingat bahwa kala itu aku menangis karena sesuatu, kemudian Aira bertanya apakah aku dijaili oleh Aruna dan aku hanya bisa mengangguk sambil meneteskan air mata. Kemudian Aira bergegas ke luar kelas dan aku mendengar teriakannya yang memaki Aruna “Heh, abis ngapain Rere lo sampe dia nangis?! Dasar Aruna buluk! Awas lo ya!”, karena yang meneriakinya adalah “cewek cantik”, pada saat itu Aruna hanya bisa diam dan manyun. Tak lama Aira masuk kembali ke dalam kelas dan menenangkanku, dia bilang dia sudah memperingati Aruna dan aku tidak perlu bersedih lagi.
Terakhir Vanka. Sifat Vanka mirip dengan Jani, riang dan ekspresif. Bedanya adalah di tingkat kepintaran mereka, Jani dan Aira termasuk ke dalam jajaran “murid-murid pintar”, sementara aku dan Vanka dikategorikan sebagai murid yang “biasa-biasa aja” bahkan cenderung bodoh. Aku ingat sekali momen itu, momen ketika guru kelas 6 SD kami yang sangat cantik, baik, perhatian, dan penyabar yaitu Bu Nina, mengadakan sebuah tes matematika untuk menguji seberapa siap kami untuk mengikuti Ujian Tingkat Nasional (UTN), ujian yang kala itu sangat menentukan peluang kami untuk bisa masuk di SMP Favorit.
“Ayo anak-anak, kerjakan soal-soal berikut. Yang sudah selesai, boleh angkat tangan dan akan ibu periksa. Jika jawabannya benar, kalian boleh keluar kelas dan pulang lebih dulu” Bu Nina menjelaskan secara singkat sebelum menuliskan serangkaian soal Matematika yang pada saat itu terlihat begitu sulit bagiku.
Tak lama satu persatu teman-temanku mulai mengangkat tangan dan membiarkan hasil pekerjaannya diperiksa oleh Bu Nina. Ketika Bu Nina mengangguk, tersenyum, dan mengacungkan jempol, teman-temanku tersenyum girang dan langsung membereskan buku dan alat tulisnya. Mereka menyandang tas dan bergegas pulang. Begitu juga Aira dan Jani, mereka keluar kelas terlebih dulu dibanding aku dan Vanka. Tersisa beberapa anak yang masih sibuk berkutat dengan beberapa soal Matematika yang diberikan Bu Nina, termasuk aku dan Vanka.
To be honest, Kami berdua memiliki kebiasaan buruk ketika sedang panik. Kebiasaan buru Vanka adalah menggigit kuku jari-jari tangannya dan jika sudah mencapai k*****s dia akan menangis, sementara aku… entah sejak kapan aku punya kebiasaan ini, ketika aku tegang dan cemas entah kenapa aku malah “terangsang”. Iya, kalian nggak salah baca kok, Rere yang kala itu baru berusia 12 tahun sudah mulai bisa merasakan “rangsangan”. Tentu saja pada saat itu aku tak tau kalau aku sedang terangsang, hal itu kuketahui setelah aku belajar mengenai pubertas dan edukasi s**s di internet, film, dan sumber-sumber lain yang tidak datang dari sekolah atau orang tuaku. Pada saat itu, ketika aku terangsang karena panik dan cemas, kemaluan dan payudaraku menegang dan ada keinginan yang sangat besar untuk membenamkan tangan dan jari-jariku diantara kedua pahaku. Seingatku pada saat itu aku bisa menyelesaikan soal lebih dulu dibandingkan Vanka. Aku berhasil keluar kelas setelah mengerjakan soal, tentu saja pada saat mengerjakan soal aku menahan diri dari dorongan untuk menyentuh kemaluanku dengan jari-jariku.
Aku ingat Vanka menangis karena tak kunjung bisa mengerjakan soal-soal itu. Setelah kejadian itu, yang kuingat adalah Bu Nina mengadakan program persiapan UTN. Beliau memberikan kelas tambahan di luar jam sekolah secara gratis, khusus untuk persiapan UTN bagi anak-anak yang nilainya dibawah rata-rata dan siapapun yang berminat ikut kelas tersebut setelah pulang sekolah. Momen persiapan UTN itu menjadi momen pertama yang memberikanku perasaan bahwa aku sudah mulai beranjak “dewasa”, karena aku memilih untuk ikut kelas tambahan itu dan secara aktif belajar sungguh-sungguh untuk bisa mendapatkan nilai tinggi di UTN. Hasilnya? Aku adalah peraih nilai tertinggi kedua di sekolahku, mengalahkan Jani dan Aira.