Ketika SD aku tidak pernah masuk ke dalam kategori cewek-cewek cantik, apalagi jajaran anak-anak pintar/keren/pandai bergaul. Aku biasa-biasa saja, tidak menonjol, dan mungkin cenderung diabaikan. Aku tidak berbakat di bidang olahraga, musik, ataupun akademik. Tetapi sewaktu aku kelas 5 SD, aku dan beberapa orang temanku ikut kelas tambahan melukis setiap hari Jum’at bersama guru seni budaya kami yang aku lupa namanya. Guru kami seorang laki-laki paruh baya dengan postur tingg, berbadan kurus dan rambutnya sudah ubanan. Ketelatenan, kesabaran, dan kemurahan hatinya memberikan kelas tambahan secara cuma-cuma kepada kami benar benar membekas di ingatanku.
Setiap hari Jum’at sepulang sekolah, kami yang ikut kelas tambahan seni lukis akan melipir ke bagian belakang sekolah, tepatnya di belakang perpustakaan. Berbicara tentang perpustakaan, perpustakaan di sekolahku benar-benar tidak layak disebut “perpustakaan”, bahkan kalau disebut gudang buku pun tidak layak, karena jumlah bukunya yang sangat sedikit, kotor dan berantakan tak karuan. Mungkin pada saat itu kebiasaan membaca belum menjadi program pemerintah yang dipromosikan, tetapi setauku Indonesia memang memiliki tingkat baca yang rendah.
Karena kebiasaan ayah membelikan aku dan Anne majalah anak-anak ketika kami sudah mulai bisa membaca, sekarang aku tumbuh menjadi seseorang yang sangat senang membaca buku. Aku tumbuh bersama buku-buku yang k****a dari perpustakaan, mulai dari perpustakaan SMP, SMA, Kampus, perpustakaan kementerian yang letaknya dekat dengan kampusku dan tempatnya cozy untuk mengerjakan tugas dan menyendiri, dan tentu saja perpustakaan Kota. Aku adalah pengunjung tetap perpustakaan Kota. Aku melahap banyak novel dan buku pengembangan diri atau buku-buku tentang sains dan sejarah manusia. Aku tidak mau membatasi diriku pada 1 jenis buku.
Kembali ke kelas tambahan Seni Lukis, aku sangat menikmati momen-momen itu. Momen ketika kami belajar menggoreskan kuas yang telah ternodai oleh cat air ataupun minyak ke kanvas kami yang berwarna putih gading. Semilir angin yang meniupkan daun-daun pada pohon kelapa di depan ruangan kami melukis, keterasingan dari hiruk pikuk teriakan anak-anak SD, dan hasil lukisanku. Pernah suatu ketika di suatu pelajaran Seni Budaya kami harus mewarnai hasil karya yang telah kami buat, pada saat itu guru kami menerapkan sistem duduk secara acak & bergilir, artinya kami tidak dapat memilih teman sebangku tetapi ditentukan oleh guru. Tujuannya supaya kami lebih minim bercanda dan fokus belajar. Pada saat itu aku kedapatan duduk dengan salah satu murid terpintar di kelas, namanya Dimas. Dimas merupakan sosok cowok ganteng, putih, mancung, tinggi, berkacamata, dan pintar secara akademis. Dimas tidak menonjol di bidang olahraga, tetapi itu tidak mengurangi pesonanya sama sekali. Kekikukannya pada saat jam pelajaran olahraga seolah-olah berubah menjadi kegemasan bagi kami para cewek yang melihatnya. The power of good looking.
Pada saat itu kami sama-sama menggambar pada buku gambar dengan sebatang pensil 2B. Sebagai anak yang mengikuti kelas tambahan seni lukis, aku memang merasa gambarku jauh lebih rapih dan bagus dibanding gambar Dimas yang awut-awutan. Ketika tiba waktunya untuk kami mewarnai hasil karya kami, Dimas tiba-tiba menoleh ke arahku dan berkata,
“Warnain gambar gua dong. Gua nggak bisa...” Dimas setengah memohon sambil menatap lukisanku yang sudah separuh diwarnai dengan crayon.
Aku lupa pada saat itu apakah aku membantunya atau hanya mengabaikannya, yang kuingat adalah aku sempat menyukainya. Tapi Dimas bukanlah cowok pertama (di SD) yang kusukai, cowok pertama yang kusukai bernama Malik Raden Wijaya, atau Malik. Malik adalah cowok populer di SD Mawar 1, selain karena wajahnya yang ganteng, sifatnya yang humoris dan humble, ibunya juga merupakan sosialita di SD Mawar 1. Sebenarnya Malik memiliki kekurangan yang sangat mencolok, yaitu giginya yang tonggos. Tapi entah kenapa tetap saja banyak yang cewek yang suka sama dia, apalagi ketika Malik memutuskan untuk memasang behel pada kelas 4 SD. Kegantengannya naik 1000%.
Beberapa kali aku dan Malik sempat sekelas, tetapi kurasa dapat dihitung jari ketika aku bisa mengobrol dengannya. “Cewek-cewek cantik dan keren” dengan mudah bercanda ria dengan Malik yang nama pangilannya adalah tweety, karena memang mukanya yang imut dan menggemaskan. Pernah suatu waktu ketika aku sedang dimusuhi oleh gengku (nanti akan kuceritakan penyebabnya), aku hanya bisa berdiri di luar kelas, tidak berani masuk ke dalam. Aku berdiri sambil bersandar pada dinding dan menatap lapangan yang dipenuhi dengan anak-anak cowok yang bermain bola atau kejar-kejaran, tidak jauh dari tempatku berdiri ada tweety didekatku. Ia melakukan hal yang sama denganku, memandangi kerumunan bocah yang berisik. Namun tatapan malik tidak menyiratkan bahwa ia sedang bengong/menatap objek tertentu, tatapannya sedih.
Pada saat itu aku tidak ingin dibersamai, aku memilih masuk ke dalam kelas dan duduk di kursiku. Tak lama, Malik juga masuk dan duduk di kursinya. Entah kenapa pikiranku jahil dan ingin mencoba-coba teoriku: ‘apakah Malik mengikutiku?’ Tentu saja kalian boleh tertawa dan meremehkanku, karena aku pun sebegitu gelinya dengan perasaan yang aku miliki kala itu. Anehnya, ketika aku keluar kelas lagi dan kembali bengong menatap lapangan, Malik keluar dan melakukan hal yang sama. Aku lupa apakah aku memutuskan untuk masuk ke dalam kelas untuk yang kedua kalinya kemudian keluar untuk mengetes sekali lagi teoriku. Tetapi yang ingin kupercayai adalah pada saat itu Malik ingin menemaniku.
Kenapa aku dijauhi oleh gengku? Oh iya sebelumnya aku ingin memberitau kalian bahwa gengku punya nama, yaitu geng hijab. Julukan ini sebenernya bukan kami yang membuat, tetapi teman-teman sekelas. Hal ini karena ketika kelas 4 SD, Jani mengajakku untuk memakai kerudung. Aku tidak pernah terpikir untuk berhijab, apalagi bunda juga tidak berhijab. Tetapi entah kenapa aku mengiyakan pada saat itu dan Alhamdulillah sampai sekarang aku masih istiqomah mengenakan hijabku, walaupun belum secara sempurna. Setelah aku dan Jani memakai kerudung, Aira dan Vanka menyusul. Jadilah kami dijuluki geng hijab oleh teman-teman sekelas.
Kejadian ketika aku mulai dijauhi mungkin terjadi ketika aku kelas 5 dan 6 SD. Aku berbohong pada mereka. Berbohong mengenai kondisi keluargaku. Seperti yang sudah kukatakan di awal, SD Mawar 1 adalah sekolah elit. Sekolah dimana anak-anaknya rata-rata berasal dari keluarga berada atau kaya. Ibu mereka bisa asyik bercengkerama di taman atau mushola sekolah sembari bergosip dan belanja, sementara Bunda pergi kerja ke ibukota dari pagi sampai malam. Mereka diantar oleh ayah mereka dengan mobil, sementara aku diantar ayah menggunakan motor yang penuh dengan barang dagangan yang akan dijajakan ayah di kantornya. Sebenarnya pekerjaan ayah bukan pedagang, ia adalah post-man di suatu bank swasta, tugasnya adalah mengantar surat dan dokumen dari satu tempat ke tempat lain. Ayah bilang kalau hanya mengandalkan gaji saja tidak cukup untuk biaya hidup kami, jadi Ayah memutuskan untuk berdagang makanan dan minuman di kantornya.