Jingga berdiri termenung menatap tanaman bunga yang belum berbunga di depannya. Pikirannya masih tertuju pada pembicaraannya dengan Jane tadi siang. Setelah pertemuan itu Jingga memutuskan untuk pulang lebih awal. Dia tidak fokus dengan pekerjaannya. Benar-benar tidak menyangka dalang di balik semua kejadian yang menimpa adalah sahabatnya sendiri. Pelukan di pinggang membawanya kembali pada kesadaran. Bisa Jingga pastikan siapa pelakunya. Namun Jingga merasa ada yang aneh. Tidak biasanya Rey pulang di jam siang seperti ini. Menoleh perlahan mencari sosok yang sudah dia rindukan padahal baru beberapa jam mereka tidak bertemu. “Kamu?!” Jingga terkesiap dan seketika melepas paksa tangan kokoh yang memeluknya. “Aku kangen kamu, Ga.” Tatapan penuh kerinduan dapat Jingga tangkap dari sepasang

