Mentari pagi masih malu-malu menunjukkan senyumnya. Malah, sepertinya awan gelap sedang menyelimuti kota ini. Lea sudah terkesiap dari tidurnya. Pukul enam pagi. Lea langsung mandi air hangat setelah meminum air putih yang tersedia di meja belajar usangnya. Shower hangat itu mencuri waktu Lea selama empat puluh lima menit. Masker rambut dan lulur coklat semerbak di dalam kamar mandi. Ponselnya juga sudah memutar lagu dari dalam kamar. Ponsel Lea seakan memanggilnya dari nakas setelah ia keluar dari kamar mandi. Dilepaskannya charger yang menempel di telepon genggamnya. Saat Lea hampir menyalakan benda pipih itu, seketika ada bunyi bergema di telinganya. Rey: Kamu mau nikah, Dek? Cepet banget. Kayaknya baru kemarin aku kangen kamu. Tapi kamu juga udah mau nikah. Lea: Mas, aku terpaksa.

