“Hujan. Satu persen air, sembilan puluh sembilan persennya kenangan.” – Leandra Anggraini.
***
Mobil Lea berhenti di depan rumahnya. Dia belum mematikan mobil. Dia ingin memastikan bahwa mata sembabnya sudah hilang sebelum memasuki rumah. Rasanya tidak ingin keluarga mencemaskannya yang seperti ini.
Lea mengusap kasar pipinya itu. “Hahhh,” keluhnya lembut.
Lea keluar dari mobil memakai payung serta membawa barang-barangnya ke dalam rumah.
Leoni sedang duduk di depan TV saat Lea melewati ruang keluarga itu. Dia berkata, “kok lama, nduk? Kemana aja?”
“Tadi ... anter temen, Ma.”
Lea langsung menuju kamar dan menguncinya. Hatinya masih perlu ditata.
Drrrt
Ponsel Leoni bergetar.
Leoni menyapa, “Halo, Mbak? Wonten nopo njih?” (Ada apa ya?)
“Lea sudah sampai rumah belum, Mbak?” tanya Lies, membuat Leoni mengerutkan keningnya secara tak sadar.
“Udah ki, Mbak. Piye?” sahut Leoni
(... Gimana?)
“Oh ya uwes (ya sudah). Tadi Lea mengantar Andrew kerumah,” kata Lies.
Leoni spontan terperangah bahagia dan heran. “Lho? Kok bisa?”
“Iyo. Mau ki Andrew tak tinggal di hotel. Lha mosok Lea mau bengi dikon turu nang kamar mandi to, Mbak.”
(Tadi Andrew saya tinggal di hotel. Masa semalam Lea disuruh tidur di kamar mandi)
Leoni malah tertawa mengetahui berita itu. “Haha. Biarin aja, Mbak. Tapi malah untung kalau Lea jadi mengantar Andrew kan, Mbak? Lea tadi tak tanyai dari mana. Katane habis nganter temen, gitu. Oalah ... ternyata Andrew to.”
“Iyo, Mbak. Ya wes nek Lea dah sampai rumah. Sek (udah) ya , Mbak.”
“Yo, Mbak,” balas Leoni mengakhiri obrolan telepon itu.
Tut.
Setelah mendengar laporan dari mamanya Andrew, Leoni senyum-senyum sendiri.
“Pakai bohong sama mamanya segala. Bilangnya habis antar teman tapi ternyata antar Andrew,” tawa Leoni.
Leoni menaruh teleponnya di nakas sebelah sofa.
Hujan sudah mereda menjelang malam hari. Namun, aroma khas hujan masih meninggalkan jejaknya di kamar Lea. Dia menghirup aroma hujan yang selalu membawanya ke masa lalu. Aroma air dan tanah yang tercampur sangat mudah membawa seseorang berlabuh ke masa lalu.
Dok ... dok ....
“Lea, Mama masuk ya,” teriak Leoni setelah mengetuk pintu kamar Lea.
“Ya, Ma. Masuk aja.”
Leoni membuka pintu kamar Lea. Dia masuk ke kamar Lea tanpa menutup pintu itu lagi. Sekarang, dia berdiri di sebelah kasur Lea. Dirinya melihat Lea sedang goleran di kasur memejamkan mata.
“Kamu tadi kemana sih, Lea?” goda Leoni berusaha mengulik jawaban yang sebenarnya dari Lea. Meskipun sesungguhnya dia sudah tahu. Hanya untuk menggoda anak perempuannya itu.
“Makan sama temen, Maa,” jawab Lea cuek dan biasa saja. Masih memejamkan matanya.
“Temen kan punya nama. Kasih tau Mama, dong?” paksa mamanya Lea sambil mencondongkan wajahnya mendekati ranjang.
Lea menyibakkan kelopak matanya. Dia memandang langit-langit kamarnya itu. Ruangan kamar Lea hanya tersinari oleh lampu tumblr berwarna putih hangat. Rasanya sangat cocok selama dia menikmati rintik hujan tadi hingga mamanya datang mengganggu momen ketenangan Lea.
Lea menghela napasnya. “Sama ... Andrew, Ma.”
“Cieee. Kenapa gak bilang dari tadi?” goda mamanya lagi.
“Ya kenapa, Ma?! Kan emang temen to,” balasnya datar. Dia hanya menganggap Andrew sebagai teman saja. Lagipula, Lea sedang mencari-cari alasan agar tidak dijodohkan lagi.
“Kamu! Andrew itu bukan cuma temen, lho. Dia kan calonmu.”
Leoni melempar lembut guling yang ada di sebelah Lea. Melemparkannya ke kaki Lea.
Batin Lea berkata, “temen kayaknya juga bukan. Rentenir lebih cocok dia mah!”
“Ah, Mama! Cinta aja nggak, Ma,” sanggah Lea. “Mending jadi temen aja ya kan?”
“Ya nanti kan bakalan cin—“
Suara pintu terketuk memotong ucapan Leoni.
“Permisi?” sapa seseorang dari arah teras rumah di depan. Suara seorang perempuan.
Lea mendongakkan kepalanya ke arah mamanya. “Tuh, Ma. Ada tamu.”
“Siapa ya?” gumam Leoni sambil berjalan ke arah teras.
Leoni membukakan pintu rumah. “Lhooo, ada Nimas disini. Tante panggilin Lea dulu ya!”
Nimas tersenyum hangat. “Hehe. Iya, Tante.”
Leoni membuka jalannya mempersilahkan Nimas masuk ke dalam rumah. “Masuk dulu, masuk dulu.”
Nimas menunduk kecil dan menunggu Lea di ruang tamu.
“Leaaa, ini ada Nimas disini,” pekik Leoni memanggil Lea yang kamarnya tak jauh dari ruang tamu.
Wajah Lea langsung berubah bugar. Senyuman terlukis di wajah Lea. Dia langsung berlari menuju ruang tamu.
“Nimaaaas!!!” teriaknya sambil membuka lebar kedua tangan bersiap memeluk temannya itu. “Ahh, suwe banget ra ketemu ya ampun ....”
(Lama sekali tidak bertemu)
“Ho’o ya? Terakhir kali kapan, sih?”
Lea melepaskan pelukannya. “Mbuh. Lupa aku. Dua bulan lalu kayaknya. Gimana-gimana?”
Lea duduk di sofa. Mamanya juga ikut nimbrung.
“Ini, lho. Aku antar undangan—“ kata Nimas.
“Undangan apa?” potong Lea kaget mendengar kata undangan.
“Ini,” ucap Nimas sambil mengeluarkan sesuatu dari tas jinjingnya. “Undanganku sama Richard.”
“Hahhh?” Mata Lea membelalak.
“Wah Nimas udah mau nikah nih,” sela Leoni.
“Iya. Richard mempercepat pernikahan kami setelah tunangan beberapa bulan lalu itu, lho,” lanjut Nimas.
“Lha, kamu gak ada cerita apa-apa sama aku, Nim.”
“Biar pada kaget,” tawa Nimas sambil meletakkan undangan berwarna hijau muda persegi diatas meja ruang tamu.
Leoni mengambil undangan itu. Mengamatinya. “Nih, kamu mau dateng sama siapa, Lea?”
Lea tersenyum pahit. “Ehe, sendirian lah, Ma.”
“Eh Lea?” panggil Nimas.
“Apa?”
“Ada temenku nih yang jomblo. Mau aku kenalin nggak? Ganteng, lho.”
Lea langsung melirik mamanya.
Leoni langsung melotot seakan melarang anaknya berkenalan dengan lelaki baru.
Namun, Lea tidak menghiraukan tatapan mamanya yang penuh larangan itu. “Boleh boleh.”
Batin Lea berkata, “siapa tahu aku bisa menggagalkan rencana Mama yang mau menjodohkan aku dengan Andrew.”
Senyuman Lea penuh dengan akal bulus sekarang.
“Ya udah besok kapan gitu aku kenalin yah. Atau ... nanti waktu nikahanku. Aku ada pesta kedua kok. Ala-ala prom night gitu, deh. Jadi temen-temenku biar bisa pada bebas.”
“Ya. Mauuu,” jawab Lea semangat.
“Oh iya, aku lupa bawa kain khusus buat kamu. Kamu jadi bridesmaid-ku yaaa,” pinta Nimas. “Besok aku kirim pake paket aja, piye?”
(... gimana?)
“Yooo, manut.” (Yaaa, ngikut)
Leoni berkata, “Nimas, mau minum apa?”
“Air putih aja nggak papa, Tante.”
“Ah masa air putih. Tante ke dapur bentar, ya.”
Leoni melangkahkan kakinya menuju dapur. Dapur itu berada di paling belakang rumah. Outdoor kitchen.
Dia menggerutu, “Lea dijodohin maminya nggak mau. Giliran temannya yang mau ngenalin langsung mau.”
Kini, tangan Leoni mengaduk-aduk es sirup rasa jeruk. Tiga gelas dibuatnya.
Kemudian, mereka bertiga berbincang di ruang tamu. Leoni sudah mengenal Nimas sejak lama sebab Lea bersahabat dengan dia.
“Nim, bener ya besok kenalin ke temenmu?” kata Lea sambil menunjuk Nimas seakan memaksa.
“Iyooo,” balas Nimas setelah meneguk minumannya.
Salah satu cara pertama yang muncul di benak Lea agar mamanya tidak melanjutkan perjodohan ini. Sungguh dia tidak mau bila harus berdampingan dengan yang ia sebut rentenir tadi.