10 - Bukan Mertuaku

1180 Kata
“Senin lagi,” keluh Lea di pagi hari pukul 07.30. Hari Minggu kemarin sudah berlalu dengan cepat. Lea cepat-cepat keluar dari rumah menuju tokonya. Lea adalah pemilik sebuah kafe dan bakery kecil dengan meja makan imut yang tidak lebih dari enam buah. Kafenya tidak terlalu ramai namun pasti ada saja yang datang untuk take away beberapa rotinya. Dia juga memiliki online shop. Ting! Pintu kafe terbuka. “Hai guys! Semangat kerja hari ini!” teriak Lea, namun medesah setelahnya. Mengingat semakin hari dia semakin bertambah tua dan tidak ada pacar untuk dibawa ke pesta pernikahan Nimas. Di dalam kafe itu sudah ada dua pegawai Lea. Rini dan Maya. “Pagi, Mbaaaak,” sapa balik mereka berdua. Drrt. Ponsel di saku  Lea bergetar pendek. Dia segera merogoh ponsel itu. Ada pesan dari Nimas. Nimas: Le, kain yang kemarin udah aku kirim. Kamu tinggal kecilin aja. Sebenarnya itu udah jadi dress kok. Aku tau model kesukaanmu. Haha. Lea: Ok. Makasih. Muah. “Pantesan, kalau misal itu kain .... Lhah, aku bingung dong kalau harus jahitin kurang dari sebulan di mana!?” batin Lea. Dia tersenyum heran. Maya berjalan ke dapur belakang. Lea mengikutinya setelah menaruh tas-nya dibawah meja kasir. “Mbak, tepung protein tingginya cuma cukup buat dua hari ke depan lho ini,” kata Maya yang sedang membongkar-bongkar stok bahan kue di dapur belakang. “Oh, iya? Apa lagi yang mau habis?” “Mmm ...  oh ini!” cetus Maya sambil menunjukkan perisa red velvet untuk kue. “Aduh ... red velvet ya? Untuk hari ini cukup kan tapi? Soalnya kan banyak yang suka dessert box sama cupcake kita.” Lea berdecak. “Aku pesan pakai ojek aja kali ya,” lanjut Lea. “He’em Mbak, gitu aja biar gampang,” balas Maya. Dia sudah berdiri dan mulai menuangkan beberapa tepung untuk membuat kue. Lea kembali mengambil ponselnya lagi untuk memesan bahan-bahan yang sudah habis. “Rin, itu pouch nya udah aku bawakan. Sampai lupa mau bilang.” Kepala Lea bergerak menunjuk ke arah rak bawah kasir. “Oh, iya Mbak. Makasih.” Lea sibuk memencet layar ponselnya. Driver ojek-pun sudah berangkat untuk membeli pesanan Lea. Saat Lea akan menaruh ponselnya ke dalam tas, seketika tangannya bergetar. Andrew. Begitu tulisan di layar ponsel Lea. “Ngapain nih?!” gumamnya. Lea mengklik pesan w******p itu. Andrew: Ingat. Masih ada bemper mobil yang harus kamu tanggung. “Hih! Gila aja uang 300 juta aku bisa dapet cepet dari mana!? Lagian cuma bemper mobil doang harganya selangit,” gerutu Lea tanpa membalas pesan dari Andrew. Dia menyimpan ponselnya di tas. “Rin, nanti kalau drivernya dateng ini uangnya, ya.” Lea meninggalkan sejumlah uang di meja kasir untuk membayar delivery bahan kue. Kemudian Lea membantu Maya dalam membuat sejumlah kue. Mereka berjam-jam mengulik adonan. Yang paling banyak adalah membuat cupcake red velvet dan oreo. Kedua varian itu sangat laris. Untuk red velvet cake, Lea hanya membuat satu loyang dan mengirisnya menjadi beberapa slice. Di jam makan siang, Rini masuk ke dapur. Dia berkata, “Mbak Lea, itu ada ibu-ibu yang cari.” Lea kemudian mencuci tangannya. “Hah? Siapa?” Setelah mengelap tangan basahnya itu, Lea berjalan ke ruang etalase di depan dapur. Saat keluar, Lea melihat seorang perempuan yang dikenalnya. Lies. “Leaaa, wah kamu punya toko roti ya? Tante baru tau lho,” sapanya hangat. “Eh Tante, iya hehe,” sambut Lea, menyalami mamanya Andrew. Batin Lea menggerutu, “Aduh, kenapa Tante Lies jadi nemuin aku, sih?” “Ada apa, Tante?” tanya Lea. “Tante cuma mau tau kamu.  Bukankah nanti mertua dan menantu harus saling mengenal?” goda Lies. Lea mengangkat dagunya dan meringis. “Ahh ... mari-mari Tante silahkan duduk. Tante suka kue apa? Lea ambilkan.” Lea mengantar Lies untuk duduk di salah satu kursi di pojok ruangan. Beberapa meja sudah terisi oleh orang lain. Lies memposisikan dirinya senyaman untuk duduk. Dia menepuk pundak Lea. “Ah kamu, perhatian sekali.” “Tante, aku bukan perhatian. Bukankah ini dilakukan semua orang untuk menjaga kesopanan?” gerutu Lea dalam hati. Namun, dia mengucapkan kalimat, “Saya ambilkan teh dan kue dulu ya, Tante.” Lea berjalan ke etalase kue. Dia mengambil satu cupcake rasa vanilla. “Rin, tolong buatkan teh ya untuk tanteku disana,” pinta Lea pada Rini yang sedang menghitung uang di kasir. Lea bergumam, “kalau dengan seperti ini aku dibilang perhatian ... jadi aku harus bertindak sebaliknya.” Lea tersenyum licik. Dia mempunyai sesuatu rencana untuk membatalkan perjodohan ini. Musik berjudul I Like You So Much diputar oleh Rini di kafe ini. “Love you every minute every second ....” Rini bersenandung disamping Lea. “Diam kamu. Nggak usah nyanyi yang baper-baperan,” larang si wanita berumur 26 tahun ini pada pegawainya. Lea kembali pada Lies. Dia membawa cupcake vanilla dan teh hangat dengan nampan berwarna pink. Warna yang senada dengan tema kafe milik Lea, L.A. Coffee and Cakery. “Tante, ini kue dan tehnya diicip dulu,” tawar Lea sambil menyunggingkan senyuman pipih. Senyum yang sedikit terpaksa. Lea pun juga ikut duduk. Jemarinya memeluk cangkir berisi kopi vanilla yang ia buat sendiri. Karena ini sudah pukul dua belas dan dia seharusnya sudah istirahat, dia juga mengambil satu cupcake red velvet untuk mengganjal perutnya terlebih dahulu. Lea menekuk bibirnya setelah mengicip kopi itu. Dia berdeham kecil. “Ada apa, Tante? Kok repot-repot ke sini?” Wanita di depan Lea dengan perawakan cantik dan tak ada uban itu meletakkan cangkirnya di meja bundar kecil dengan satu tanaman di dalam botol berisi air. Tanaman botol itu berada di tengah meja sebagai hiasan. “Ah nggak, ini Papanya Andrew sudah yakin sama kamu. Katanya mau mengajakmu jalan-jalan ke mall. Hanya Tante dan Om saja dengan kamu,” ucap wanita yang berumur 54 tahun itu. Disaat yang bersamaan, Lea mengeluarkan sesedot kopi yang sudah hampir tertelan itu ke dalam cangkir lagi. “A-apa, Tante?” “Eh, Lea. Kamu menyemburkan kopi itu lagi ke dalam cangkir!?” “Yes! Pasti Tante Lies jadi jijik sama aku,” batinnya. “Maaf, Tante,” balas Lea sambil menunduk. “Wah, kamu tidak jaim ya orangnya. Padahal itu nanti kan kamu minum lagi,” sahut Lies sambil tergelak manis. Lea mulai panik dalam hatinya, “Aduh, gimana ini aku tidak mau jalan-jalan dengan mereka. Aku tidak mau memberi mereka harapan palsu.” Lies mencuil kue vanilla itu. Sedangkan Lea sedang membungkam mulutnya, memikirkan jawaban apa yang akan dilontarkannya. “Wah, enak ya. Kamu pintar masak ya Lea,” ungkap Lies saat mengunyah cupcake itu. “Jadi gimana? Lea bisa kapan? Kalau bisa Jumat malam ya. Tante sudah minta ijin sama mama kamu.” Lea tertawa paksa. “Ah gitu ya, Tante? Hehe. Lea usahakan ya Jumat malam.” Dia salah tingkah hingga tangannya bergetar saat meletakkan cangkirnya. Kemudian, dia menggigit cupcake berwarna merah dengan filling keju diatasnya. Saking gugupnya, ada beberapa cuilan yang jatuh ke pangkuannya. “Lea tidak perlu grogi ketemu Tante to ah, sebentar lagi kan Lea juga jadi menantu Tante,” imbuh Lies menggoda tangan Lea. Lea tambah tak karuan salah tingkahnya. “Bu-bukan begitu, Tante. Lea—“ “Dah, Tante kesini cuma mau bilang itu aja. Tante langsung pulang ya? Sudah ditunggu sopir di depan,” papar Lies, masih memegang punggung tangan kiri Lea diatas meja. Lea melirik ke arah luar jendela di sebelah kirinya. Ada mobil Fortuner merah tua di area parkir. “Oh, iya Tante,” ucapnya sambil berdiri setelah melirik ke luar. “Jumat ya, Sayang?” teriak Lies sembari menarik pintu kaca dengan lis yang dicat pink muda itu. “Jangan lupa.” Kemudian, Lies hengkang dari kafe milik Lea. Dia pergi dengan mobilnya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN