“Eventually, all this pain brings me to you.” – Leandra Anggraini.
***
Lea memanyunkan bibirnya. Kue itu masih digenggamnya di depan mulut. Dia menghela napas sedih.
“Aku bahkan tidak berkata ‘iya.’ Bagaimana ini!?”
“Kenapa e, Mbak?” celetuk Maya dibalik etalase. Dia sudah selesai dengan urusan dapur. Ditaruhnya beberapa cupcake hangat di dalam kaca etalase itu.
Etalase itu sekarang terlihat sangat cantik dengan tebaran beberapa warna cupcake. Mulai dari red velvet bertabur coklat putih, coklat dengan oreo, vanilla dengan whipped cream dll. Tidak hanya cupcake, ada bermacam potongan kue yang disajikan di dalam etalase itu.
Lea berdecak saat kembali berjalan ke balik etalase. “A-aku dijodohin,” lirihnya memelas.
Rini dan Maya menahan tawa. Mereka menutup mulut mereka dengan telapak tangan sambil melempar pandang satu sama lain.
“Dijodohin?!” sosor Maya kaget. Dia tidak bisa menahan cekikikannya lagi.
“Ih, Maya!” teriak Lea manja.
Rini menggoda, “Ya nggak apa-apa kan, Mbak. Daripada jomblo terus, lhoh. Katanya ... temen Mbak ada yang mau nikah?! Siapa tahu bisa ajak doi kan? Si calonmu ituuu.”
“Ups,” tutur Maya sambil menutup bibirnya.
“Oh, jadi kalian mendukung keluargaku? Ohhh,” ucap Lea sambil membuang bungkus kertas kuenya itu ke dalam kotak sampah dengan kesal.
“Yaaa,” ucap Rini sambil menyenggol lengan Maya, “kalau itu yang terbaik ya jelaslah kami dukung!”
Lea mendengus kesal pada mereka. Dia menyipitkan mata. “Dasar kalian. Baiklah kalau begitu! Akan aku buktikan kalau aku bisa menggagalkan rencana pernikahan settingan ini! Aku mau download aplikasi dating pokoknya.”
Maya mengangkat bahunya. “Well, kalau menurutmu Mbak bisa dapat jodoh dari aplikasi online itu ya silahkan. Tapi aku dengar-dengar banyak yang menipu, lhooo.”
Maya mengedip-ngedipkan mata pada Lea, menggodanya. Dia tahu bahwa aplikasi itu hanya akan bekerja tiga puluh persennya saja untuk mencari jodoh. Sisanya hanya laki-laki yang sudah memiliki pacar tetapi ingin mencari kesenangan lain.
“Huh!” ucap Lea kesal menanggapi rekan kerjanya itu.
Dalam benak Lea, dia akan tetap menginstal aplikasi online dating nanti malam setelah pulang dari toko. Selebihnya, dia memang tidak terlalu berharap mendapat jodoh dari situ.
“Kali-kali aja dapat jackpot,” batinnya.
“Pokoknya hati-hati aja Mbak kalau pakai aplikasi itu! Banyak scammer!” peringat Maya dengan santai tapi serius.
Ting!
Pintu kafe terbuka lagi pertanda ada pengunjung datang.
“Kerja kerja!” perintah Lea pada kedua pegawainya.
Lea masuk ke dapur untuk makan siang. Dia memakan nasi padang yang sudah dibelikan oleh Rini melalui delivery tadi. Dia mengambil sebungkus kertas coklat itu di dalam plastik putih. Lea bergumam, “Hmm. Sudah jomblo lama, mau dijodohin sama orang tua. Mending-mending kalau dijodohin tidak punya masalah sama orangnya. Aku?! Malah utang bemper mobil dengan harga fantastis itu! Gila emang ....”
Lea pun duduk di bangku dan mulai menyantap hidangannya.
***
Setelah bekerja seharian di kafenya sendiri, Lea merebahkan dirinya diatas kasur empuk miliknya. Lea sudah kembali ke rumah dan juga sudah bebersih diri. Dia menyalakan musik instrumen dari ponselnya. Musik instrumen yang biasa sering diputar di tempat spa ataupun salon.
Sudah hampir pukul tujuh malam.
“Lea! Ayo makan dulu. Sekalian Kak Lexy mau pamitan ini, lho!” teriak Leoni tepat di depan pintu kamar Lea.
Lea menghembuskan napas. Wajahnya mengernyit. “Ya, Maaa!”
Hendra, Leoni, dan Lexy sudah siap di meja makan. Ada Ellen—keponakan Lea—juga disana. Ellen ada di kursi makan bayi. Dia sedang disuapi bubur oleh Lexy.
Lea menarik kasar kursi makannya.
Leoni mengerutkan dahinya. “Kamu tuh kenapa sih, Lea?!”
“Nggak apa-apa, Ma. Tadi Tante Lies ke kafe,” papar Lea.
Lea menghela napas berkali-kali.
Hendra melirik Leoni. Tatapannya seakan tidak tau menau akan kedatangan Lies ke kafe milik anak perempuannya itu.
“Ohhh, iya tadi Mama juga sudah dikabarin kok,” sahut Leoni. Dia membalas lirikan Hendra.
Lalu, Hendra balik menatap piringnya lagi. Pikirnya kalau Leoni tahu, berarti aman.
Lea mengambil secentong nasi yang ada di tengah meja bundar itu. “Aku nggak mau, Ma.”
“Lea,” tegas Hendra memanggil anaknya. “Mereka itu keluarga baik-baik. Papa sudah setuju juga mau menjodohkan kamu dengan Andrew. Kapan Papa mau setuju dengan laki-laki pilihanmu? Tidak pernah kan!? Papa cuma nggak mau kamu nangis-nangis lagi karena cowok.”
Lea cemberut. Dia tidak berani menatap mata Hendra. “Ya emang sudah yakin kalau Andrew nggak bakal nyakitin Lea juga?!”
“Lea!” bentak Leoni sambil menghentakkan sendoknya di piring.
Lea sudah malas dengan pembicaraan ini. Dia mengambil lauk dan membawa piringnya ke dalam kamar. Dia bermaksud kabur dari pembicaraan perjodohan ini yang berkedok makan malam.
“Ingat, Sayang. Penilaian orang tua jarang sekali salah!” teriak Leoni kesal pada anaknya yang sedang membalikkan badan menuju kamarnya lagi.
Lea bergumam, “jarang salah bukan berarti selalu benar, kan!?”
Buk! Lea menutup pintu kamarnya dengan kasar.
Hendra menghela napas. Menahan amarahnya. “Lexy ... kenapa adikmu itu susah sekali ya?! Selalu saja ingin sesuai kemauannya sendiri.”
“Haduh, Pa. Lexy juga nggak tau. Mungkin karena Lea anak kedua dan terakhir,” jawab wanita berambut hitam dan mempunyai kulit kuning langsat itu.
“Sudah, Pa. Selesaikan makan saja dulu. Nanti Mama yang atur rencana ini,” sela Leoni.
Mereka semua menyelesaikan makan malamnya. Lea juga. Saking malasnya keluar, dia membiarkan piring dan gelas kosong di meja belajarnya di kamar.
DENG! Jarum jam bergerak sangat cepat. Jam di ruang keluarga berbunyi. Jarumnya menunjukkan pukul 10 malam.
Kamar Lea sudah redup dengan hiasan bintang-bintang di langitnya. Stiker bintang-bintang yang ia tempel sejak kuliah semester satu.
“Oh, iya! Aku mau download aplikasi itu. Biar secepatnya perjodohan ini gagal,” imbuhnya dalam benak. Hatinya masih berdebar mengingat perdebatan kecil di ruang makan tadi.
Dia meraih ponsel yang berada di rak sebelah ranjang. Dia memencet tombol bulat yang ada di bagian bawah layar. Lea memiringkan badannya ke kanan. Mata dan jempolnya mencari-cari aplikasi itu untuk diinstal.
“Nah,” gumamnya saat melihat aplikasi berwarna pink dengan gambar lidah api di tengahnya. Tak lama kemudian, aplikasi itu terinstal. Lea langsung mendaftar dan memasang dua foto terbaiknya.
Foto selfie saat dia mengunjungi Goa Pindul beberapa bulan lalu bersama teman-temannya. Foto yang satunya adalah foto dia berdiri di sebuah taman saat sore hari. Baginya, foto itu paling menarik karena adanya cahaya ilahi yang menyinari wajah dan badannya. Dia menggunakan jumpsuit tipis. Jumpsuit yang dibelinya di Bali tahun lalu.
Dia bergumam, “uh ... deskripsi?! Aku tidak terlalu pintar. Aku tulis saja ‘No Fun.”
Semuanya sudah siap. Lea langsung berselancar di aplikasi itu. Foto demi foto dia geser. Ke kanan dan ke kiri.
“Duh, belum ada yang menarik banget nih. Besok lagi aja ah! Ngantuk!”
Lea kemudian meletakkan ponselnya lagi di atas rak. Dia menarik selimut dan memejamkan mata. Setiap kali Lea memejamkan mata, dia merasakan lubang di rongga dadanya. Lagi dan lagi. Kerap kali dia berusaha menepis penderitaan yang masih dia simpan setelah pengkhianatan dari mantan kekasihnya itu.
Setiap hari, dia berharap cekungan yang dalam itu tertambal.