“Udah Jumat aja sekarang,” ucap Lea dengan mendesah kesal.
Hari berlalu dengan pesat. Semuanya terasa normal dan biasa saja kecuali chat dari Andrew setiap pagi yang mengingatkan tentang bemper mobil. Itu sangat mengusik Lea setiap kali akan berangkat kerja.
Drrrt
“Andrew lagi nih pasti! Dasar ya bikin orang nggak tenang bisanya,” gerutunya sambil memandangi ponsel kecil berlogo apel kroak itu.
Andrew: Semangat bekerja untuk menukar bemperku! *evil’s laugh emote
Lea membanting halus ponselnya di meja bundar kosong di kafe miliknya itu.
“Hisss! Sekarang kamu udah kayak alarm aja ya! Aih, hidupku tidak akan tenang kalau begini,” omelnya sambil mengacak-acak rambut coklat tuanya itu.
Kemudian dia menundukkan kepalanya di meja. Jidatnya menempel di meja itu.
“Aaa!” tangisnya yang menggerutu. Bukan tangis air mata.
Sekarang sudah hampir sore hari. Lea duduk lagi di meja bundar yang kosong. Paling dekat dengan meja kasir. Dia mendengus kesal seharian. Dia menopang jidatnya di kedua telapak tangan.
Lea menggerutu, “ah, minggu depan juga udah pernikahan Nimas! Aaa aku mau mengajak siapa?!”
Rini berkata, “kenapa to, Mbaaak? Kok grusa-grusu ae ket mau.”
(... Kok ribet aja dari tadi)
Lea mendongakkan kepalanya melihat Rini yang sudah berdiri di kasir. Dia menunjukkan muka memelasnya. “Minggu depan temanku nikah. Nggak ada yang tak ajak huaaa.”
“Yawlah, Mbaaak. Tak kiro ngopo,” sahut Rini cekikikan.
(... Ku pikir kenapa)
Lea meringis dan mengedip-ngedipkan matanya. “Koe gelem tak jak ora, Rin?!”
(Kamu mau aku ajak tidak, Rin?)
“Duh, Mbak. Minggu depan aku mau ke Klaten. Saudaraku ada yang datang.”
Lea langsung melirik kepada Maya yang sibuk menata kue di etalase.
“Kok aku?!” balas Maya melihat lirikan Lea yang menandakan dia akan mengajaknya pergi ke pernikahan Nimas.
“Ayolah, yayaya?” pinta Lea sambil mengatupkan kedua tangannya.
“Yowes .... Ayo,” sahut Maya mengiyakan ajakan bosnya itu.
Lea menjentikkan jarinya. “Nah, gitu dong! Ahh ... kalau begitu aku bisa sedikit tenang.”
Sepintas, benak Lea tenang hingga dia teringat bahwa hari Jumat dia memiliki janji dengan mamanya Andrew untuk jalan-jalan ke mall.
“Aduh!” pekik Lea, menepuk jidatnya yang datar.
“Kenapa lagi to, Mbaaak?!” tanya Maya yang membatin bosnya itu sedang dalam pikiran yang bercabang.
“Nggak, aku malas diajak jalan sama mamanya Andrew.”
Maya membenarkan rambutnya. Menyibakkannya di belakang kedua telinga. “Yang kamu mau dijodohin itu kah, Mbak?”
Lea mengangguk.
“Jam berapa? Jam lima katamu kemarin?! Ini udah jam setengah lima lebih, lho!?” ujar Maya.
“Makanya aku deg-degan! Ah, males bangeeet.”
Lea dengan berat hati mulai beranjak dari kursi itu menuju ke parkiran mobil. Dia hanya menundukkan kepala selama melangkah ke mobil.
Saat menarik pintu kafe, dia berpamitan. “Hff yaudah aku pulang duluan ya guys.”
Dia berpamitan pada Rini dan Maya. Mereka berdua juga akan segera digantikan oleh pegawai part time yang bekerja dari pukul lima hingga pukul sepuluh malam.
Sudah masuk di dalam mobil, Lea meletakkan tas jinjingnya di kursi samping kiri. Dia menyalakan mesin mobil lalu menuju ke mall sesuai janji yang dibuat dengan Lies dan William.
Sepanjang jalan dia hanya menggerutu kesal.
“Oh, iya! Aku kan belum membuka aplikasi pink itu lagi,” gumamnya.
Langit senja terlukis sangat cantik sore ini. Lea melihat jelas langit berwarna oranye, ungu, dan pink itu dari kaca jendela mobil. Sangat memukau. Orang-orang bilang itu adalah Candikala.
“Twilight,” gumam Lea saat melihat fenomena langit yang mengingatkannya akan film vampir kesukaannya itu.
Di parkiran mobil, Lea menggerutu sendiri. Dia melorotkan dirinya di kursi itu. Tangannya masih memegang setir. “Ah, bagaimana ini!? Malas! Malas! Malas! Nanti kalau Tante Lies jadi sangat berharap sama aku gimana coba?!”
Kakinya menjejak-jejak di dekat pedal mobil.
Akhirnya, dia mengembuskan napas lalu keluar dari mobilnya.
Lea mengecek ponselnya. Sedetik kemudian, ponsel itu bergetar.
“Halo?” ucap Lea menempelkan ponsel di telinganya.
“Lea, kamu tidak lupa kan?”
“Iya, Tante. Ini Lea sudah sampai kok. Tante dimana?”
“Di lantai atas sendiri ya. Di restoran Jepang.”
Seketika Lea sudah tahu restoran apa yang dikunjungi oleh Lies. “Oh, iya. Lea kesana ya, Tante.”
Langkah demi langkah, Lea akhirnya sampai ke restoran ramen ala Jepang itu. Saat dia mau memasuki restoran itu, langkahnya terhenti saat dia melihat rupa pria berumur hampir 32 tahun itu. Dia duduk di sebrang Lies.
Lea tersenyum pahit dan menunduk.
“Andrew disini, sial. Katanya cuma aku, Tante, dan Om saja!?” gumamnya kesal.
“Lea!? Sini sini,” sambut Lies yang melambaikan tangan pada Lea.
Lea pun duduk di sebelah Andrew. Dia hening. Rasanya canggung mengingat bila mereka sudah pernah melakukan hubungan terlarang itu. Meskipun mereka berdua sama sekali tidak mengingat detilnya.
Pun, mereka juga pernah makan berdua setelah dari hotel kala itu. Tetapi mereka tidak bersama orang tua mereka saat itu. Mereka berdua hanya canggung sebab harus menyembunyikan kejadian sebenarnya di depan Lies. Walaupun itu memang yang Lies rencanakan saat di hotel.
“Lea mau pesan apa?” tanya Lies sambil memandangi daftar menu restoran itu. Lies duduk di hadapan Lea. Dia menyodorkan menu itu pada Lea sekarang.
Lea memilih-milih menu yang ada disitu. Dia bingung harus memilih yang mana karena pilihan ramennya banyak sekali
“Gitu doang lama amat, sih?! Ditunggu Mamaku tu, lho!” bentak Andrew dengan muka cemberut.
“Nggak kok, Lea. Tante santai aja,” ucap Lies.
Akhirnya, Lea memilih makan malamnya.
William tampak tersenyum kecil melihat wajah Andrew dan Lea yang saling bertatapan kesal. Lea pun membuang muka. Dia memutar malas bola matanya dan mendengus.
“Sebenarnya kalian kenapa, sih? Kok kesal satu sama lain. Bukannya kemarin waktu mengantar pulang Andrew ... kalian baik-baik saja?” tanya Lies penasaran sebab melihat wajah sebal mereka berdua.
“Nggak apa-apa, Ma.”
Disaat bersamaan, Lea juga menjawab lembut. “Tidak apa-apa, Tante.”
“Eh?!” celetuk Lies karena kaget ketika mereka berdua menjawab pertanyaannya seiringan.
“Mereka cocok ya, Ma?” goda William sambil mencondongkan kepala ke dekat istrinya.
Mereka pun melahap ramen yang mereka pesan. William sudah menyelesaiakan hidangannya dan disusul dengan Lies.
“Andrew, Lea, nanti mama ajak ke department store di bawah ya,” ajak Lies setelah meminum habis jus jeruknya.
Lea hanya mengangguk sebab dia sedang berusaha menelan mie tebal ala jepang itu. Andrew hanya bergumam malas menjawab mamanya.
Tak lama kemudian, mereka sudah selesai dengan makan malam itu. Kemudian, mereka semua beranjak dari kursi. Lea berjalan di belakang William dan Lies. Andrew berjalan di belakang Lea. Dia menjaga jarak. Lea pun juga cuek saja bila Andrew menjaga jarak darinya. Memang itu yang diinginkan Lea juga.
Mereka berempat turun dari lantai paling atas ke lantai satu dengan menggunakan lift. Seketika, di dalam lift mulai sesak karena banyaknya penumpang. Andrew yang berdiri di belakang Lea terdesak maju karena ada beberapa orang yang tak sengaja mendorongnya. Mata Andrew berkedip-kedip karena si junior dibalik celana jins itu menempel di p****t milik Lea. Dia merasa canggung dan menahan agar juniornya tidak bangun karena tak sengaja tersentuh badan belakang milik Lea itu.
Badan Lea juga sudah terlalu mepet dengan pintu lift, jadi dia tidak bisa menghindar dari momen aneh ini. Dia merasakan gundukan di bagian belakang tubuhnya itu. Dia juga tahu kalau gundukan itu milik Andrew.