13 - Lea VS Andrew

1310 Kata
Wajah Lea memerah menahan perasaan risih itu. Namun, batinnya juga mengatakan hal yang tak lumrah ia pikirkan. “Kok besar juga ....” Ting! Pintu lift terbuka. Lea langsung melompat lega keluar dari lift itu. Mereka berdua tidak berani menatap saat ini. Andrew hanya kerap kali berdeham menutupi salah tingkahnya itu. Serta, dia mengatur desiran darahnya yang sedaritadi seolah memberi sinyal bahwa ia sempat tertarik oleh tubuh Lea. “Mungkin pikiranku memang tidak mengingat bagaimana kejadian di kamar hotel itu. Namun ... si kecil sepertinya masih sangat mengingat Lea,” batinnya berbisik. Sampailah mereka di depan department store. “Wah Pa, ternyata ada pameran wedding nih. Kesini yuk,” pinta Lies pada suaminya. Dia menunjuk ke aula tengah di seberang department store di mall ini. Kenyataannya, Lies memang sudah mengetahui jadwal pameran itu. Dia sengaja mengajak Lea dan Andrew ke mall hari Jumat ini. Pameran itu baru saja dibuka saat mereka sedang makan di lantai atas tadi. “Boleh, Ma. Ayo,” sahut William. Dia menyilangkan kedua tangannya rileks di depan d**a. “Andrew, ayo lihat-lihat!” ucap Lies sambil menarik lengan anaknya. “Ngapain, Maaa?!” “Ayo!” ucapnya lagi. Dia juga mengajak Lea. “Ayo Lea, jangan malu-malu.” Lea hanya meringis saat Lies menggandeng tangannya. Mereka beriringan memasuki pameran itu. Banyak gaun pernikahan dan tuksedo dipajang. Juga ada contoh dekorasi. Kebanyakan berwarna putih. Ada juga kebaya ala Jawa yang dipajang memenuhi beberapa outlet disitu. Mata Lea tertuju ke sebuah gaun yang dipadukan dengan kebaya. Dia mendekati gaun itu dan berdiri di depannya. Gaun itu berwarna putih dan emas sebagai bordirnya. Sangat elegan. Perpaduan antara kebaya dan gaun barat. “Bagus banget,” batin Lea. Andrew diam-diam berdiri di belakang Lea juga memerhatikan gaun itu. “Jelek,” ejeknya dengan jelas. Lea dengan segera menoleh ke belakang. Dia menurunkan sudut bibirnya mencibir Andrew. Lalu, dia hengkang dari situ. Lea menyusul Lies dan William di belakangnya. Andrew membuntutinya. Berhentilah mereka ke sebuah tempat dengan beberapa contoh suvenir. Lies dan William dengan senang hati menyentuh dan melihat-lihat. Tangan Andrew mengambil sebuah suvenir bunga kaktus plastik kecil. Dia memerhatikan pot itu dengan seksama. Lea ada di sebelahnya. Sekitar satu meter jarak mereka. “Bisa dibayangkan duri-duri ini menancap pada status pernikahan tanpa cinta. Siapa yang akan berdarah duluan? Si suami atau sang istri?” ucap Andrew dengan pahitnya. Dia bermaksud menakut-nakuti Lea agar kabur dari perjodohan ini. Namun, ucapan Andrew juga diselingi tawa. Andrew berpikiran akan menggagalkan perjodohan ini dengan membuat Lea otomatis pergi dari dia. “Kalau maksudmu kamu berpikir untuk menggagalkan rencana ini ... bukan kamu saja kok! Jadi tidak perlu khawatir,” balas Lea menyengir. Mereka berdua lama kelamaan berjalan beriringan tanpa sadar. Andrew berkata, “kalaupun aku akan menikah, aku pasti memilih wanita yang seksi bak super model. Kamu tidak tahu saja kan banyak wanita yang mengincarku?!” Andrew berhenti dan langsung menatap d**a Lea. Dia menyeringai lalu menepis tatapannya. Lalu, dia menggelengkan kepala dan berdecak. Lea langsung menutup dadanya dengan tangan. “Apaan kamu lihat-lihat?!” “Kalau aku menikah dengan kamu, bagaimana nasib ASI anakku nanti!?” canda Andrew. “M-maksudnya?!” ucap Lea terbata-bata. Dia langsung menilik dadanya sendiri. Andrew langsung berjalan ke department store yang hanya berjarak lima langkah dari situ. Dia menuju ke tempat pakaian dalam wanita. Lea mengikutinya karena Andrew masih belum memberikan penjelasan. “Try this,” pinta Andrew sambil memegang satu set pakaian dalam berenda warna merah dan hitam. “Apa-apaan?” “Kamu belum move on kan? Kalau mau buat mantanmu menyesal saat melihatmu, pakailah ini. Ini bisa membuat dadamu sedikit naik,” saran Andrew dengan suaranya yang memang datar. Lea menarik paksa hanger itu dan menggantungkannya lagi. Dia tidak mau mengambilnya. “Kau!” geram Lea. Dia mengepalkan tangannya ingin memukul Andrew. Tapi dia menahannya. “Apa hubungannya coba?!” lanjutnya dengan mata menyipit. Andrew hanya tertawa kecil. “Pah, Pah! Liat deh!” kata Lies sambil menepuk-nepuk pundak suaminya. “Kenapa, Ma?” William menoleh mengikuti arahan kepala Lies. Dilihatnya Andrew dan Lea sedang berada di pusat pakaian dalam wanita. “Mama pikir perjodohan ini nggak akan berhasil, Pa. Tapi lihat deh mereka aja udah milih-milih buat seserahan sendiri,” ucap Lies senang. Faktanya, aktivitas itu tidak seperti yang Lies pikirkan. Selalu saja Lea dan Andrew tidak akur. Andrew selalu saja mencibir Lea. Sebaliknya, Lea juga gampang sekali diejek. “Pa, kita percepat pernikahan mereka aja gimana?” William mendesah pelan, “Mom, please let them pick their own date, okay? Don’t rush.” (Ma, biarkan mereka memilih tanggalnya sendiri ok? Jangan tergesa-gesa) William berbicara dengan bahasa aslinya. Lies langsung merengut mendengar suaminya tidak sepemikiran dengan dia. Lea dan Andrew berjalan menuju ke pameran wedding lagi. Belum sempat memasuki event itu. Seketika ada seorang wanita datang memanggil nama Andrew. “Andrew!?” pekik wanita itu lalu berhenti di hadapan Andrew. “Kamu ngapain disini?” “Vera? Aku—“ “Siapa cewek ini?!” tutur Vera sambil tiba-tiba menyelipkan tangannya ke lengan kanan Andrew. Hal ini tanpa disadari membuat Lea geram walaupun dia juga bengong. Bola matanya semakin membulat melihat si cewek ini. Lea pun mendesis dan memutar malas bola matanya. Desiran darah Lea semakin deras melihat tangan itu semakin erat saja di lengan Andrew. Kesalnya, Andrew juga tidak melepas tangan itu. Dia hanya terlihat gagu dan meradang. Lea mengajak Vera berjabat tangan. Dia melempar senyum palsunya. “Aku istrinya Andrew.” Wajah Vera pun langsung memerah dan langsung melepas tangannya. Dia langsung menundukkan kepala pada Lea. “Ma-maaf, aku tidak tahu kalau Andrew sudah ....” “Menikah?“ potong Lea saat Vera berbicara. Andrew berkata, “aku tidak—“ “Oh nggak apa-apa. Suamiku memang seperti itu orangnya, tidak mau mengakui siapa wanitanya dan,” ucap Lea lalu dia memelas palsu, “dia tidak bisa memperlakukan wanita dengan baik. Dia selalu menjelekkan wanita padahal dirinya juga nggak ganteng-ganteng amat. Aku sudah cukup sabar ....” Vera mengernyit menatap Andrew. “Benarkah?! Aku tidak tahu kalau kau seperti itu.” Lea hanya mengangguk. “Kalau begitu, aku duluan ya. Maaf ya, Mbak ...,” ucap Vera sama sekali tidak ada penyesalan. Dia memang sudah terlihat ganjen diawal saat menggandeng tangan Andrew itu. “Lea,” sela Lea sekaligus memperkenalkan dirinya. Vera pun menunduk dan pergi. “Apa-apaan tadi? Aku sudah menikah!?” geram Andrew. Dia memelototi Lea. Lea menatap langit-langit tinggi di mall ini. “Terima kasih kembali.” Kemudian, Lea langsung menyusul Lies dan William. Andrew tetap mengikutinya di belakang dan mengomel. “Kalaupun aku sudah menikah, aku tidak mau kalau itu kamu ya. Masa istri sendiri menabrak mobil suaminya. No way!” sungut Andrew. “Kamu ... harusnya berterima kasih sama aku lah. Dia cewek ganjen yang suka godain kamu kan?” “B-bagaimana kamu tahu?” Lea berhenti melangkah. Dia menelengkan kepalanya sambil mengerutkan bibir. “Hmm, sudah terlihat gelagaknya kok!” “Tapi kamu benar, sih.” “Aku tahu,” sahut Lea seraya menaikkan bahunya. Lies dan William mendekati kedua pemuda itu. Musik di pameran ini sangat berisik hingga memekakkan telinga Lies. Dia tidak tahan dengan suara MC yang melengking dan super mengiklan itu. Serta, pameran ini bertambah sesak. “Andrew ... Mama kamu ingin menonton film. Kita ke atas ya?” ajak William. “Oke, Dad.” Keempat orang itu menaiki lift hingga ke lantai atas lagi. Bioskop berwarna merah ada di lantai atas dekat dengan foodcourt. Lies dan Lea sudah mendapatkan tiketnya setelah mengantre sepuluh menit. “Film apa, sih?” tanya Andrew sambil meninjau tiket yang sedang dibawa Lea. “Beauty and The Beast!?! Oh my ....” Film lawas yang diputar ulang di bioskop ini. Lea juga menghela napas. Dia tidak terlalu suka film tentang roman dan fairy tale. Menurutnya, itu terlalu sulit untuk dijadikan kenyataan dan referensi. “Ayo masuk. Sepuluh menit lagi filmnya dimulai,” pinta Lies. Di dalam bioskop, Lea duduk di sebelah kiri Andrew. Sedangkan Lies dan William berada di sebelah kiri Lea. Lea menoleh ke sebelah kirinya. “Tante? Tante kok berjiwa muda banget ya masih menonton film seperti ini?” “Iya dooong. Harus,” balasnya. Lalu, dia langsung menilik ke arah William. “Mama awet muda kan, Pa?” “Hmm,” sahut William mengiyakan dengan bergumam saja. “Eh!” pekik Lies kaget saat lampu bioskop mulai meredup. Mereka duduk di seat D. Bioskop ini hampir penuh. Bila telat sedikit saja, mereka tidak kebagian kursi. Seperti kebetulan bila mereka mendapatkan kursi empat berjajar. Film pun mulai diputar. Hanya cahaya dari layar lebar itu yang menyinari seluruh ruangan merah dan hitam ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN