Dok ... dok ... dok .... Diketuknya pintu itu lagi sebab Lea belum menjawab. “Nduk, ayo bangun wes meh jam setengah pitu, lho,” peringat sang bunda pada anak perempuannya agar tidak bangun terlalu siang. Lea mengerang manja. “Maaa.” “Biasanya juga Lea bangun jam tujuh,” batinnya menggerutu. Leoni sudah mendengar jawaban dari Lea. Maka dia pergi dari hadapan pintu kamar yang terkunci itu. Dengan berat hati dan sudah terlanjur terbangun, Lea menepi ke pinggir ranjang. Kepalanya masih terhuyung mengantuk. Dia merengek kenapa mamanya harus membangunkannya sepagi ini. Bagi Lea, ini masih pagi buta. Padahal, anak sekolah pun sudah ada yang tiba di sekolah dan bersih-bersih ruang kelas mereka. Memang Lea agak pemalas kalau masalah bangun pagi, tapi kalau sudah masalah kue ... dia jagonya. Ki

