“Bukan itu.” Saka meletakkan sendoknya. Diambilnya tangan Nara dan digenggam erat.”Daddy tidak mau anggap kamu sebagai anak lagi karena...sepertinya Daddy suka sama kamu.” Nara terdiam, bahkan ia terlihat susah payah menelan makanannya.”Maksudnya bagaimana, Dad?” Ia paham maksud Saka, ia tidak bodoh untuk menangkap sinyal-sinyal itu, hanya saja ia masih ragu, benarkah Saka menyukainya selayaknya lawan jenis. Bisa saja itu hanya perasaan Nara. “Apa kamu tidak merasa aneh, ketika kita berhubungan badan?”tanya Saka dengan wajah merah. Nara memalingkan wajahnya,”ah itu...bukankah awalnya suatu ketidak sengajaan?” Lalu tangannya turun meremas gaunnya sendiri. Kenapa Saka malah emmbahas masalah hubungan intim dim omen romantis seperti ini, Nara semakin gugup saja. “Iya, itu awalnya. Bagaiman

