“I...iya, Dad.” Nara mengangguk gugup, ini posisi yang membuatnya teringat pada hal lain. Saka mulai menurunkan badannya, lalu menaikkannya lagi. Ia melakukannya berkali-kali. d**a bidangnya menyentuh d**a Nara, miliknya juga menyentuh milik gadis itu. Nara membuang wajahnya, tidak bisa berlama-lama menatap Saka. “Daddy...” Nara memejamkan mata. “Kenapa?” “Su...sudah...” “Kenapa sudah?”tatap Saka. Satu tangannya bergerak ke belakang kepala Nara, melepaskan ikatan rambut gadis itu. “Ini...nggak nyaman, Dad...” Saka meraih dagu Nara, wajah mereka kini bertatapan. Saka kembali menurunkan tubuhnya, saat turun bibir mereka bertemu. Wajah Nara semakin merah, miliknya mulai berkedut karena sentuhan milik Saka yang ia rasakan semakin keras. Tangan Nara mengepal, menahan diri untuk tidak me

