Pagi itu tidak sibuk seperti biasanya, kendaraan tidak banyak berlalu lalang. Satu per satu dengan jeda waktu cukup lama. Tidak tahu apa yang terjadi dengan jalanan ini, seperti paham saja perasaan Bara yang sedang sepi. Pria itu menenggak sedikit s**u hangat sembari menoleh ke arah dinding sebelah kanan. Benar saja jalanan sangat sepi, hari ini tanggal merah. Baguslah pikir Bara, dia bisa tenang di dalam kafetaria ini. Sorot matanya kembali menelusuri jalan raya, kemudian fokus pada langit. Tampaknya matahari sudah tinggi di atas sana, tapi tunggu. Bara melihat arloji yang melilit pergelangan tangannya, pantas saja sudah cerah, hampir empat jam di dalam sini. Setelah menunaikan ibadah subuh, Bara merasa hampa di dalam kosan. Tidak tahu harus melakukan apa karena dia masih memiliki tig

