Kemarin malam Nana memutuskan untuk menginap di rumah tepi pantai. Seperti ada dorongan yang menginstruksikan hati dan pikiran Nana untuk kembali merasakan momen-momen bahagia yang tercipta di rumah ini. Tanpa kehadiran Bara di rumah itu membuat semuanya tampak jelas bahwa hidup yang Nana jalani kini kembali gelap, secercah warna yang pernah mengisi kekosongan kembali raup ditelan harapan yang pupus. Meski baru beberapa hari menjalani keseharian tanpa Bara, kehidupan yang Nana rasa bagai berbanding balik. Ada kehampaan yang tidak dapat dipungkiri, tertekan di dalam gelombang yang sedang bekerja, terombang-ambing tanpa tujuan. Kehidupan yang kacau. Nana berjalan keluar rumah sembari mendorong sepedanya, kemudian dia menutup pagar dan mulai menyusuri pantai dengan pikiran kosong. Tanpa s

