Bab 2

1399 Kata
"Diberitahukan kepada seluruh pegawai untuk segera berkumpul di aula sekarang juga," bunyi pengeras suara menggema seisi ruangan kantor. Bara bergegas mengemas pekerjaannya dan bersiap-siap menuju aula. Saat di depan pintu Divisi Penyuntingan, Bara bertemu rekan kerjanya, Jojo, pria itu menyapa Bara terlebih dahulu. "Tuh muka kenapa, coy? Tawuran lu?" Bara refleks menyentuh luka lebam di wajahnya. Sejak insiden acara reuni kemarin, ternyata Bara tidak hanya disodomi, namun juga korban kekerasan. Kejam sekali bukan? "Ah, bukan apa-apa." Jojo hanya mengedikkan bahu, kemudian mereka berjalan bersama. Merasa ada yang aneh dengan gerak langkah Bara semakin membuat pria itu curiga. "Sumpah, lu kenapa, coy?" Jojo memegang pundak Bara, lalu mengamati dari ujung kaki dan berhenti di wajah. "Muka lebam, jalan ngangkang nggak jelas kek orang habis lahiran, parah lu nggak cerita ke gua." Bara menggigit bibir bawahnya lalu tersenyum tipis. "Kemarin gua nabrak orang, terus digebukin." Atas ucapan yang sebenarnya adalah kebohongan, namun Jojo mempercayai itu. Tibalah mereka di aula, ruangan yang begitu luas namun terasa sesak akan kepadatan pegawai yang lain. Ricuh suara terdengar pecah, tidak jelas akibat antara individu yang satu dan lainnya saling berbicara. Sampai sebuah suara bariton tegas menghentikan kericuhan tersebut. "Hm ... baiklah semuanya, terima kasih sudah menyempatkan diri untuk hadir di apel mendadak pagi ini." Semua mata tertuju ke depan, memandang sang empunya suara seksi itu. Tidak lain adalah Praha Kaswareng, selaku pemilik perusahaan penerbitan yang telah menolong perekonomian Bara selama tiga tahun belakangan. "Saya ingin menyampaikan hal penting, dan ini terkait oleh perusahaan. Pagi ini, saya, Praha Kaswareng mengundurkan diri sebagai Presiden Direktur Kaswareng Publisher." Aula kembali ricuh kala kalimat itu terucap. Tidak bisa dipungkiri kalau Praha sangat dielu-elukan para pegawainya, selain memiliki sikap rendah hati, Praha dikenal sangat perhatian kepada setiap pegawainya. Bagi Praha, siapa pun yang bekerja di perusahaan ini, maka mereka adalah bagian dari keluarga dan harus diperlakukan selayaknya sebuah keluarga. "Sebentar, sebentar, saya belum selesai bicara." Praha memandang ke belakang, kemudian menarik lengan seorang pria untuk maju satu langkah dan berdiri di sampingnya. "Kaswareng Publisher saya alih kendalikan kepada putra saya, Ragil Atmaja Kaswareng, selaku Presiden Direktur yang baru." "WHAT? RAGIL?!" spontan Bara berteriak, tanpa disadari seluruh mata memandangnya, tak luput Praha dan Ragil yang sedang mencari keberadaan sumber suara. "Tolong, siapa pun yang berteriak tadi, segera maju menghadap saya." Mendadak langkah kaki Bara tidak kokoh, otot tubuhnya bergetar seperti sedang kedinginan. Pikiran buruk mengacau dirinya, jika hari ini dia harus dipecat, Bara siap lahir batin, siap menjadi pengangguran miskin. Kepala yang terus menunduk dapat menangkap ujung podium sehingga langkah kaki Bara terhenti. Ia tidak berani melihat wajah Praha. Ini kesalahan fatal. "Apa masalah kamu? Kenapa berteriak seperti itu?" Bara terdiam. Bibirnya tertutup rapat-rapat. "Halo, saya sedang berbicara, bisakah kamu menatap mata saya?" Atmosfer terasa senyap, kediaman para pegawai bak mencekam Bara. Berusaha sekeras mungkin untuk menyiapkan mental dan tenaga namun ketika kedua iris matanya menangkap sosok Praha, ada hal aneh yang dia rasakan, kagum tepatnya. Kala sorot mata berpindah ke seseorang yang berdiri di samping Praha, ia melihat Ragil tersenyum iblis kepadanya, alhasil Bara kembali menundukkan kepala. "Halo, kamu bisa bicara, bukan?" Bara memilin ujung kemejanya. "Ma-maaf, Pak. Saya tadi refleks." "Siapa nama kamu, dari divisi apa?" Kali ini tangan Bara berpindah mengusap hidungnya. "Na-nama saya, Bara dari divisi penyuntingan." "Nama lengkap." "Barastra Anan Sewakottama." Tanpa disadari oleh Bara, raut wajah Praha berubah drastis. Seperti ada kecemasan bercampur kebingungan, terlihat jelas dari mata Praha yang menatap kosong kepala Bara. Kali ini kerongkongan Praha yang tersekat atas perkataan Bara. "Sewakottama? Pak Nugraha?" gumam Praha pelan, bahkan nyaris tidak terdengar meskipun mikrofon berada tidak jauh dari bibirnya. Praha menyentuh pundak Bara hingga pria itu refleks mendongakkan kepala. "Nanti tolong ke ruangan saya." ~oOo~ "Gila, ya, kebetulan macam apa ini, si Bara ternyata pegawai gua," gumam Ragil sembari berjalan menuju wastafel. Namun langkah kakinya berhenti tepat di depan pintu dapur. Ada seorang wanita berbadan molek tengah membuat teh. Meskipun posisi Ragil sedang dibelakangi oleh wanita tersebut, namun aura yang terpancar berhasil memikat perhatian Ragil. Sebelumnya mereka bertemu di dalam lift, kala itu Ragil dan Praha sedang buru-buru menuju aula. Saat di dalam lift Ragil tersenyum hangat dan wanita itu seperti memberi sinyal positif. Ragil bergegas merapikan diri, mulai dari pakaian hingga membenarkan posisi rambutnya. Ia berjalan dengan percaya diri. Dari belakang Ragil melingkarkan lengan berototnya pada pinggul wanita itu. Dia sedikit terperanjat, lalu menghela napas lega saat tahu yang memeluknya adalah Ragil. "Nama kamu siapa?" "Jayanti." Ragil mengendus daun telinga Jayanti, kemudian mengecup sekilas. "Kamu mau jadi Asisten Pribadi saya? Digaji tiga kali lipat dari gaji kamu sebelumnya." Mendapat respon positif, Ragil semakin tidak dapat menahan diri kala Jayanti membalikkan badan sehingga mereka saling menatap. Jemari langsing Jayanti mengelus berewok Ragil dengan lembut. Pertahanan Ragil sepertinya nyaris runtuh, dia menahan diri dengan meletakkan tangannya pada pinggiran meja. Mengingat tubuh mereka yang kini sudah tidak memiliki jarak membuat Jayanti dapat merasakan ada sesuatu yang bergerak di bawah. Mengembang dan mengeras. "Lebih dari Asisten Pribadi juga boleh," goda Jayanti tidak kalah genit. "Tapi ada syaratnya, kamu harus temani saya nanti malam." Jayanti mengangguk. ~oOo~ TOK! TOK! "Masuk." Seorang wanita dengan balutan kemeja krem yang dipadukan dengan rok span masuk ke dalam. Ia tersenyum ramah. "Pak, ada yang ingin bertemu." "Suruh masuk saja," jawab Praha sembari membereskan dokumen. Wanita bernama Wini selaku Asisten Pribadi Praha keluar ruangan untuk menjemput Bara yang sudah menunggu dengan perasaan harap cemas. "Langsung masuk saja, Mas." Bara menarik napas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya secara perlahan. Ia mengepal tangan dengan mantap, berharap keberanian barangkali sedikit saja menyelimutinya. Bara mengetuk pintu pelan, ketukannya terdengar ragu. "Si-siang, Pak." Spontan Praha langsung menoleh, menyadari yang datang adalah Bara, ia segera menyimpan rapi dokumennya ke dalam laci meja, lalu tersenyum hangat membalas kehadiran Bara. Mampus gua, senyumannya ambigu. "Silakan duduk." Jemarinya menarik kursi sedikit ke belakang, kemudian ia menjatuhkan bokongnya di atas bantalan kursi. Ruangan Praha sangat dingin, seakan memberi dukungan penuh atas atmosfer kecanggungan ini. Tanpa disadari Praha, di bawah sana, kaki Bara bergetar hebat, jemarinya saling bertaut gugup. Sungguh, ini bahkan lebih menyeramkan dari penggambaran interogasi di kantor polisi pada film-film laga. "Ma-maaf, Pak. Jangan pecat saya, maaf," ujar Bara begitu saja. Seorang pria berperawakan makin tua makin tampan di hadapannya justru tertawa geli. Atmosfer yang sebelumnya canggung, kian berubah mencair. Kesan hangat yang diciptakan Praha setidaknya berhasil membuat Bara percaya kalau dia bakal aman. Praha berhenti tertawa, raut wajahnya kembali serius. "Itu kamu tahu, segera bereskan barang-barang kamu dan angkat kaki dari kantor ini." JLEB! Bara merasa tertampar atas pernyataan tersebut. "Hehehe ..., bercanda." Praha tersenyum menampilkan gigi. Sial, dipermainkan sama om-om. "Oke, kali ini serius." Praha sedikit melonggarkan dasinya. Tubuh sedikit condong ke depan, bola mata menatap Bara dengan serius. "Nama keluarga kamu memang Sewakottama?" "I-iya, Pak, kenapa?" "Ka-kamu anaknya, Pak Nugraha Adhi Sewakottama?" tanya Praha sembari menyodorkan sebuah foto lawas. Bara mengangguk pasti tanpa raut apa pun. Berbeda dengan Praha yang tiba-tiba saja meneteskan air mata. Ia berdiri dari kursinya, berjalan menghampiri Bara dan kemudian berlutut. "Terima kasih, terima kasih, terima kasih." Aksi berlutut dari Praha tampaknya sedikit berlebihan bagi Bara, dan tentu saja dia merasa tidak enak, mengingat Praha jauh lebih tua darinya. Bara menarik lengan Praha, membantu pria itu untuk segera berdiri. "Pak, aduh, maaf Pak." Bara menggigit bibir bawahnya. "Udah Pak, gak usah berlutut segala. Saya jadi merasa tidak enak." Setelah kakinya mampu menahan bobot tubuhnya, lalu tangan Praha mencengkeram pundak Bara. Masih dengan mimik sendu, ia tersenyum pedar. "Tolong, saya boleh minta tolong?" "Apa itu, Pak? Sebisa saya." "Saya harap kamu mau menerima tawaran saya untuk makan malam di rumah dan bawa keluarga kamu juga." Bara tersenyum kecil. "Ayah saya sudah meninggal dunia, Bunda sekarang pasien RSJ, saya sebatang kara sejak usia dua belas tahun." Praha terdiam. Mendengar cerita Bara membuat relung hati Praha merasa tersentuh. Ia langsung memeluk Bara, mengelus pundak pria itu sebagai upaya memberi sinyalir agar tetap tegar. "Saya akan datang seorang diri, lagi pula bapak dan ayah saya ada hubungan apa?" Praha melepas pelukannya. "Saat makan malam nanti akan saya ceritakan. Sekarang kamu kembali bekerja." Menyetujui ucapan yang dilontarkan Praha, selanjutnya Bara bangkit dari duduk dan permisi kepada Praha untuk meninggalkan ruangan. Namun saat membuka pintu dan hendak bergegas keluar tubuhnya bertubrukan dengan Nana. Wanita itu menolak tubuh Bara sembari memandangnya sengit, dan kemudian dia segera masuk. Saat ingin menutup pintu, tak sengaja Bara mendengar kalimat pertama yang diucapkan oleh Nana. "Uppah ...." "Dih, oppa, najis," celetuk Bara. "Pak Praha mah ajjushi bukan oppa."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN