Sebuah Honda Civic melaju hebat memutari lintasan basemen. Decitan roda terdengar nyaring kala mobil itu sampai di basemen. Wanita yang mengendarai mobil tersebut memelankan kecepatan mobilnya, menyusuri setiap sudut lahan parkir yang kosong.
Hanya ada satu lahan parkir kosong di ujung sana, dan tampaknya akan sulit bagi Nana memarkirkan mobil dengan benar.
Ini adalah hal yang paling dibencinya, memarkirkan mobil. Sungguh, dia merasa tidak yakin bisa menyelaraskan barisan mobilnya dengan mobil lain.
Setitik bulir keringat mulai mengalir pada pelipis, ini tidak kalah menegangkan dari ujian nasional. Nana mencoba berulang kali namun masih saja bumper mobilnya keluar dari jalur.
"Gini nih yang bikin males bawa mobil," gerutunya.
Nana menarik napas, mencoba menenangkan pikiran dan konsentrasi. Setelah merasa yakin pada dirinya, ia mencoba sekali lagi dan ya ... kali ini bumpernya selaras dengan jalur—setidaknya itu yang ia yakini saat melihat monitor GPS. Langsung saja Nana memundurkan mobilnya dengan penuh percaya diri.
BIP! BIP! BIP!
Kejutan! Bumper belakang mobil Nana berhasil menggores pintu sedan tua yang terparkir di sampingnya. Mobil itu terus mengeluarkan suara alarm yang membuat Nana semakin frustrasi. Ia keluar dari dalam mobil, mengecek seberapa parah kekacauan yang dia lakukan.
Oh, my ...
Nana baru saja menciptakan goresan sepanjang kurang lebih 75 sentimeter dan legok yang cukup dalam.
Suara alarm yang terus berdering membuatnya semakin ketakutan. Bola matanya menyusuri sekeliling basemen.
"Aduh, gimana dong? Besok-besok ogah naik mobil lagi, dah. Asli."
Nana terus berjalan mondar-mandir di depan sedan tua itu, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Bulir keringat semakin membasahi area dahi, dan suhu tubuhnya mendadak dingin.
"Ini gua tinggal begini aja, atau gimana?" ujar Nana sembari menatap sedan tua itu. "Malah ini mobil vintage lagi, pasti mahal dah buat benerinnya. Ah, bego sih, main mundur aja."
Tangan kiri ia tumpangkan di d**a dan tangan kanan ia lampiaskan untuk mengigit kuku jari sebagai pengalihan dari kecemasan.
"Ah, g****k dah."
Sebuah ide terlintas, Nana segera mengeluarkan sticky note dan kartu nama klinik dari dalam tas kemudian ia menuliskan sebuah pesan.
'Maaf, mobil lu lecet. Itu ada kartu nama gua, lu besok bisa datang ke klinik gua buat ambil biaya ganti rugi'.
~oOo~
Di dalam lift Nana mencoba sebisa mungkin mengelokkan diri sebelum ada orang lain yang masuk. Merapikan rambut yang berantakkan, dan sedikit touch up agar wajahnya kembali segar.
Lip matte maroon berhasil menyulap bibir Nana terlihat sepuluh kali lebih seksi. Ia mengecap kedua bibirnya agar lipmatte menempel dengan sempurna. Kala aktivitas berias di dalam lift sedang berlangsung, pintu lift terbuka di lantai empat membuat Nana bergeming dan sedikit salah tingkah, dia segera merapikan alat make up dan kembali menyimpannya di dalam tas.
Jayanti masuk ke dalam lift, dia menyapa Nana dengan ramah, "pagi." Selayaknya menghormati kehadiran Nana sebagai tamu.
Keduanya berdiri saling berdampingan sehingga pantulan tubuh mereka tercetak jelas pada pintu lift. Tidak dapat dipungkiri kalau Jayanti jauh lebih cantik, seksi, tinggi dan eksotis daripada Nana. Hal itu membuat Nana menggigit bibir bawahnya karena malu.
Bola mata Nana melirik ke samping, betapa terkejutnya dia akan fakta bahwasanya 'punya' Jayanti tiga kali lebih besar daripada punya Nana. Dengan begitu Nana membusungkan dadanya agar terlihat sedikit menonjol.
Suasana yang canggung memberi dorongan bagi Nana untuk mencuri pandang ke arah Jayanti. Kemudian penglihatannya tercekat saat melihat ada cairan putih kental menempel pada sudut bibir Jayanti.
"Maaf, ada sisa sup atau apa pun itu yang menempel di sudut bibir kamu," ujar Nana lembut.
Jayanti terperangah, ia meraba-raba sudut bibirnya namun tidak tepat sasaran. Gemas melihat itu, Nana berinisiatif membantu.
"Maaf, sini biar aku bantu."
Jari langsingnya mencolek cairan putih kental itu dari bibir Jayanti. Kemudian ia mencium aromanya. Seketika Nana mengerutkan dahi dan menjauhkan jarinya dari hidung.
"Kok bau amis, sih?"
Mampus, punya Ragil. Astaga, batin Jayanti bergejolak.
Pintu lift terbuka di lantai delapan, kemudian Jayanti mengucapkan terimakasih dan melenggang pergi ke arah yang berlawanan dengan Nana.
Sembari berjalan ia membersihkan cairan putih yang menjijikkan itu dari tangannya menggunakan tisu.
"Heran deh, cantik-cantik makanannya kok bau amis gini. Parah banget," dumel Nana.
Ketika dia hendak membuka kenop pintu, seseorang yang berada di dalam terlebih dahulu membuka. Otomatis tubuh mereka saling bertubrukan.
Keduanya saling menatap, pria yang tidak lain adalah Bara melihat Nana dengan heran, seperti ada pesan yang disampaikan oleh air mukanya, 'ada kepentingan apa dia di sini?'.
Berbeda dengan Nana yang menatapnya sengit, karena sudah menabrak tubuh mungilnya dengan cukup keras. Lengan Bara yang besar menabrak bagian d**a Nana sehingga hal itu membuat sang empunya mengerang.
Buset, udah kecil ditabrak. Sialan.
Kesal karena Bara tidak juga pergi dari hadapannya, Nana terpaksa mendorong tubuh Bara agar menyingkir dari pintu masuk.
"Uppah ...," rengek Nana dengan suara manja sembari menutup pintu.
~oOo~
Ada sebuah kafetaria yang menarik perhatian Bara dan juga beberapa pengunjung, kafetaria itu terletak tidak jauh dari Kaswareng Publisher. Di dalam kafetaria itu terdapat meja dan kursi yang bisa digunakan pembeli jika ingin menyantap makanan atau minuman mereka di tempat.
Bara memilih duduk di sebuah meja panjang dan tinggi—terlihat seperti meja bar—yang terletak persis menghadap jendela kaca. Hamparan jalanan menjadi pemandangan satu-satunya yang menarik bagi Bara.
Seteguk s**u hangat ia telan begitu khidmat. Kini sticky note dan kartu nama berada di genggamannya, Bara menilik setiap huruf yang tertera. Nasib sial, mobil antiknya harus dibawa ke salon mobil segera mungkin. Setitik goresan saja sudah melukai hati Bara, konon goresan sepanjang itu.
"Oh, Monica sayang, aku tau sakitnya jadi kamu. Maafkan aku," keluh Bara sembari menatap mobilnya yang terparkir di luar.
Ya, Monica, Ford Coupe Sedan 1948, bahkan usianya tiga tahun lebih muda dari kemerdekaan Indonesia. Bagaimana? Sudah terbayang betapa cintanya Bara dengan Monica—yang sudah bersama sejak sepuluh tahun belakangan.
Bara meletakkan kartu nama dan sticky note di atas meja. Ia menghela napas panjang. "Parah banget, bukan kartu namanya yang dikasih, malah kartu nama klinik psikolog. Gila, ya ... orang mah butuh duit bukan butuh ahli kejiwaan."
Selanjutnya Bara mengeluarkan laptop dan menyambungkan pada jaringan Wi-Fi. Dia mulai menjelajah blog pribadinya sebab sudah tiga hari ia tidak update.
Bagi Bara, tidak peduli sekalipun tidak ada yang membaca isi blognya karena dia memanfaatkan blog sebagai tempat di mana ia berkeluh kesah, sejenis diary versi digital.
Jakarta, 10 Desember 2017
Oh ... My Monica :"(
Hari tersial, ralat, hari terrrrrrrrr-mencekam. Ada beberapa hal yang bagi gua mencekam hari ini. Pertama, Ragil, a.k.a manusia jelmaan setan, yang sejak jaman SMU dulu gua selalu dibully, bukan secara verbal saja, namun juga sampai pada tahap fisik. Ya, gua yang dulu adalah remaja pengecut yang pikirannya hanya belajar dan terus belajar, bagaimana caranya dapat peringkat satu agar bisa sekolah gratis dan mendapat bantuan dari pemerintah, jadi jika satu masalah saja gua perbuat, semuanya bisa berimbas pada beasiswa gua.
Bukan, bukan itu masalahnya, itu hanya sekedar cerita masa lalu. Yang menjadi masalahnya Ragil adalah Presiden Direktur baru di perusahaan tempat gua kerja. Parahnya lagi, gua buat masalah di hari pertama Ragil menjabat sebagai Presiden Direktur.
Kedua, Monica, gadis antik gua harus merasakan sakit yang luar biasa pada bodi sampingnya. Garis panjang yang tercetak membuat gua turut merasakan sakit sebagai Monica.
Ya, meskipun pelaku yang melakukannya bertanggung jawab atas kerusakan pada Monica, tapi gua tetap gak tega.
#SaveMonica
Setelah Bara memublikasikan curahan hatinya, dia kembali menenggak s**u hingga tandas. Tidak lama berselang suara ponsel berdering, dia melihat nomor tanpa identitas meneleponnya.
"Halo? Dengan siapa?"
"Saya merindukan anusmu yang sempit, sampai bertemu di ranjang sayang."
TUT!
Kulit wajah Bara menegang, seolah tertarik ke belakang. Dia tidak percaya atas perkataan pria yang baru saja meneleponnya. Pikiran Bara kacau, melayang ke arah negatif. Ketakutan-ketakutan akan masa lalunya kembali menyerang.
Pelupuk mata terasa panas, ada genangan air yang tertahan di kelopak matanya. Bibir Bara bergetar, jari-jarinya mengetuk meja—menandakan kegugupan—hingga menimbulkan suara keributan. Satu per satu bulir keringat mulai menetes dan mengalir di setiap senti kulit wajah Bara.
Pandangannya lurus ke depan, menatap jalan raya dengan tatapan kosong. Menyedihkan sekali.
Sebuah tepukkan di bahunya menyadarkan Bara, mengalihkan pandangan Bara ke arah samping kanan. Dengan ragu ia tersenyum, mencoba menyapa pria itu, Robby.
Tanpa membalas senyum getir Bara, Robby membungkukkan badan, menyelaraskan posisi bibirnya tepat di samping telinga Bara, dia terdiam sejenak. Memberi sinyalir kekhawatiran berlebihan pada Bara.
"Gua, suka malam itu. Malam penuh gairah. Kapan kita akan mengulanginya Bara Anan Sewakottama?"
Dunia Bara runtuh seketika.