Bab 6

1305 Kata
Sudah pukul delapan malam namun tamu yang mereka tunggu tidak kunjung datang, tidak biasanya Praha mau menunggu seseorang selama ini. Jika bukan karena Praha mengatakan ada tamu penting malam ini, sudah sejak tadi Ragil pergi dengan Jayanti makan malam bersama dan berakhir melebur semesta di dalam dekapan hangat. Berkat buah tangan Mbok Lia, malam ini mereka akan menyantap menu makan spesial bersama tamu yang berhasil buat Praha tersenyum sepanjang tadi. Tentu saja ada hidangan kesukaan Praha, ayam gulai pedas. Ragil semakin gelisah karena hanya berdiam diri tidak melakukan apa pun di meja makan, hanya menyaksikan Praha yang tersenyum sejak tadi sembari melihat layar ponselnya, entah apa yang dilihat dia pun tidak tahu. Pikiran bermesraan bersama Jayanti semakin membuat Ragil kacau, jemarinya terkepal sempurna, kaki yang berada di bawah meja sejak tadi dia hentakan hingga menimbulkan suara berisik. "Uppah, sebenarnya siapa yang kita tunggu? Mengapa dia tidak datang, bahkan sudah telat satu jam," tanya Ragil dengan air muka kesal. Praha menengadah, melihat putra semata wayangnya sudah tidak nyaman dengan kondisi saat ini. Dia meletakkan ponselnya kemudian tersenyum hangat. "Tunggu saja, sebentar lagi juga sampai, beliau sudah dijemput Pak Karman." "Siapa sih dia sampai buat Uppah mau nunggu selama ini?" "Orang dari masa lalu." Mbok Lia keluar dari dapur dan hendak berjalan menuju kamar mandi namun berhasil ditangkap ekor mata Praha. "Mbok!" Yang dipanggil menghentikan langkahnya dan menghampiri sang majikan. "Ada apa, Pak?" "Tolong panggilkan putri kesayangan saya, suruh bersiap dan segera turun karena tamunya sudah mau sampai." ~oOo~ Lengkap dengan setelan baru, Bara turun dari dalam mobil. Ternyata kemeja yang diberikan supir Praha begitu pas dengan tubuh Bara. Begitu kakinya berpijak pada bumi, mata Bara terpikat pada kemegahan rumah yang dimiliki Praha. Setiap sudut rumah ia telusuri penuh hayat, seperti ada gejolak yang meledak di dalam diri. Rumah impian semua orang. Bentuk rumah yang besar dan megah namun memiliki unsur kebudayaan Indonesia, terlihat dari beberapa tembok yang dicat seperti batik, lalu ada pahatan kayu yang diukir sedemikian rupa. Jajaran wayang menjadi penghias tembok kanopi. Langkah kaki Bara berjalan memasuki ke dalam rumah, lagi-lagi bola matanya terpikat pada desain interior bernuansa budaya Chinese. Ketika melewati ruang tamu, terdapat koleksi buku-buku yang disusun rapi pada rak-rak setinggi satu meter, memberi kesan pujangga sastra. Di saat yang bersamaan, kehadiran Bara bersama Mbok Lia menuju ruang makan diikuti oleh Nana yang berjalan menuruni anak tangga. Di ujung meja makan, Praha melempar senyum bahagia. Berbeda dengan Ragil dan Nana yang tidak bisa berkata apa-apa. Mulut mereka terkatup dan pandangan mereka terkunci pada tubuh Bara yang dibalut kemeja hitam. Keanggunan Nana memakai gaun merah muda membuat Bara terpikat. Setiap lekuk tubuhnya terlihat sempurna, Bara menyukai itu. Rasa keterkejutan kalau ternyata Nana adalah anak kedua dari Praha menghilang, diganti oleh rasa kagum akan kecantikan. Cantik. Batin Bara berbicara. "Silakan duduk, Nak," ujar Praha ramah, ia mempersilakan Bara untuk duduk di sampingnya. Dua pasang mata menatap Bara bingung, Ragil dan Nana tidak pernah menyangka kalau tamu yang mereka tunggu sejak tadi adalah si pembawa sial. Ragil mengepal tangannya hingga urat-urat itu menonjol dengan gahar, sedangkan Nana memasang air muka tidak suka. "Uppah, jadi dia tamu makan malam kita? Manusia lemah ini? Astaga Uppah, Ragil menghabiskan waktu hanya untuk makan malam bersama dia? Yang benar aja," cetus Ragil tidak suka. Berharap Praha mengusir Bara dari rumah mereka. Perkataan Ragil membuat Bara tersadar kalau dirinya memang tidak pantas berada di antara kemegahan seperti ini. Ia menundukkan kepala, merasa malu atas tindakannya ini. Seharusnya gua tolak aja kemarin tawarannya. "Uppah benar-benar kejam. Nyuruh aku cepat-cepat pulang cuma demi pria psikopat ini?" pandangan mata Nana beralih kepada Praha. "Uppah tahu tidak? Seminggu ini dia udah ganggu Nana hanya untuk memperdebatkan masalah LGBT. Dia itu psikopat, Uppah." Oh, ternyata Uppah bukan Oppa. Batin Bara meralat ucapan sang empunya tempo hari tentang Nana adalah simpanan Praha. Mendengar ucapan kedua anaknya membuat Praha tertawa hingga membuat Bara mendongakkan kepala, melihat apa yang terjadi sehingga Praha bisa tertawa geli seperti itu. "Maafkan kedua anak saya," ujar Praha seraya menepuk pundak Bara. Bola mata Ragil melotot, bahkan nyaris keluar dari sarangnya. "Apa?! Uppah minta maaf? Oh my ...." Tubuh Ragil lemas, ia menyandarkan badannya pada punggung kursi. "Nak, pria yang kalian caci maki ini adalah anak dari Om Nugraha." Bagai tersengat listrik, perkataan Praha membangunkan gejolak di dalam tubuh Ragil dan Nana. Mereka melihat Praha tidak percaya, kemudian beralih pada Bara. Nugraha yang sudah menolong keluarga mereka dua puluh tahun yang lalu ternyata memiliki anak—yang selama ini Ragil perlakukan buruk dan atas sikap Nana yang begitu apatis terhadapnya beberapa hari ini. Seperti bumerang, perkataan yang Nana lontarkan kepada Bara berbalik arah dan menusuk kalbunya. 'Terkadang orang yang lu anggap bodoh itu adalah diri lu sendiri'. Mungkin ini yang dikatakan orang-orang tentang karma. "Uppah juga awalnya tidak menyangka kalau Bara adalah anak dari Om Nugraha. Doa Uppah selama ini akhirnya dikabulkan Tuhan, meskipun tidak akan pernah bisa bertemu dengan Om Nugraha—sebab beliau sudah meninggal dunia—tetapi Tuhan memberikan petunjuk dengan mengirimkan Bara untuk bertemu dengan Uppah." Tanpa disadari kelopak mata Ragil sudah dipenuhi air mata, sedangkan Nana sudah meneteskan air mata. Kabar buruk mengenai bahwa Nugraha telah meninggal dunia, membuat Ragil dan Nana merasa terpukul. Mereka belum sempat mengucapkan terimakasih dan tidak tahu harus bagaimana mengatakannya. Hanya Bara salah satu jalan untuk mengungkapkan rasa syukur atas kemurahan hati Nugraha. Ragil berdiri, kemudian diikuti oleh Nana dari belakang. Mereka menghampiri Bara, memandang pria itu dengan mata berbinar. Tidak dapat membendung rasa penyesalan yang memenuhi relung hati, akhirnya mereka berlutut pada Bara dengan suara tangisan pecah. "Maafin gua atas semua yang udah gua lakuin ke elu. Bahkan sejak sekolah dulu gua udah buat hari-hari lu jadi bencana besar, dan berlanjut di dunia pekerjaan, maafkan gua." Ragil memeluk kaki Bara. "Gua siap nerima apa pun hukumannya dari lu, gua siap." Nana menyejajarkan badannya dengan Ragil. Ia mendongak ke atas, lalu memeluk kaki Bara yang lain. "Maafkan gua juga, meskipun kita baru ketemu minggu ini, tapi perlakuan gua udah buruk ke lu. Maafkan atas segala perkataan gua yang udah nyakiti perasaan lu," ujar Nana tersedu-sedu. "Dari dalam lubuk hati ini, mohon maafkan kami atas segala perbuatan dosa yang sudah kami lakukan." Bara ikut meneteskan air mata, hatinya tersentuh mendengar permintaan maaf mereka, dia dapat merasakan penyesalan teramat dalam, terutama Ragil. Ia tidak menyangka titisan setan seperti Ragil bisa meminta maaf juga. Kejadian ini membuat Bara belajar sesuatu, bahwa sejahat apa pun seseorang pasti juga memiliki sisi kemanusiaan. "Udah berdiri dong," pinta Bara. Ia membantu Ragil dan Nana agar berdiri, tidak berlutut seperti ini. Bara merasa tidak enak kepada Praha atas tindakan ini. "Gua pernah bilang sama diri gua sendiri kalo sampai kapan pun perbuatan lu gak bakal gua maafkan." Tubuh Ragil melemas mendengar pernyataan Bara. "Maaf," gumam Ragil tersedu. "Tapi ... ketulusan lu bikin gua sadar. Toh, Tuhan saja Maha Pemaaf konon lagi gua yang diciptakan-Nya." Bara memeluk Ragil erat, mentransfer sedikit energinya. "Gua maafin lu berdua." Begitu kalimat tersebut terucap, tubuh Nana seperti terdorong untuk memeluk Bara. "Dan untuk Nana, maafkan gua juga atas segala tindakan bodoh yang udah gua lakukan sehingga lu merasa gak nyaman." "Lu mau permintaan apa? Setidaknya biarkan gua dan Nana sedikit berkorban buat lu atas kesalahan kami." Bara menilik pupil mata Ragil dan Nana secara bergantian, ada sebuah keyakinan besar kalau mereka tidak akan menyakiti dirinya lagi, mereka benar-benar tulus. Bara mengambil napas panjang dan kemudian menghembuskannya perlahan. "Gua ada traumatis soal kematian bokap gua yang dibunuh dan nyokap gua yang bahkan sampai sekarang masih dirawat sebagai pasien RSJ." Nana meraih tangan Bara dan menggenggamnya erat sembari tersenyum kecil. "Gua bisa bantu lu." "Tapi gua punya syarat lain, terapi di tempat yang jauh dari keramaian sekitar sebulan lebih dan kita tinggal berdua." "Tapi—" "Sudah, nanti lagi diskusi perihal itu, sekarang selesaikan makan malam ini dengan bahagia dan kemudian istirahat," interupsi Praha yang diakhiri dengan senyuman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN