Awalnya semua berjalan normal, tidur Bara nyenyak tanpa gangguan apalagi mengingat di mana ia tidur saat ini, di sebuah rumah megah milik kediam Praha yang tentu saja memiliki kasur empuk dan nyaman.
Sampai di mana Bara kehilangan napas, seperti ada sesuatu yang menutupi lubang pernapasannya. Perlahan ia membuka mata, objek pertama kali yang dilihatnya adalah wajah Ragil dalam jarak yang sangat dekat—mengingat kemarin malam Praha meminta Ragil untuk berbagi kasur dengan Bara karena kamar tamu belum dibersihkan Mbok Lia.
Bara sedikit tertegun, tidak ada satupun bekas jerawat bersemayam di kulit wajahnya. Pantas saja teman kantor pada tergila-gila pada Ragil. Ketampanan seorang pria keturunan Tiongkok namun berkulit eksotik
Hati Bara sedikit menghangat saat menyadari kini dia dan Ragil bisa sedekat ini, bahkan tanpa ia sadari sejak tadi lengan Ragil melingkari pinggangnya. Sulit untuk dibayangkan jika dulu mereka adalah musuh namun kini berstatus teman—bahkan Ragil mengakui dirinya sebagai saudara.
Buah dari keseriusan menatap wajah damai Ragil membuat Bara tidak sadar kalau kini dia tersenyum kecil dan bola mata Ragil sudah terbuka sejak tadi memperhatikan Bara yang melihatnya seperti anak kecil ingin meminta beli permen pada ibunya.
Telapak tangan Ragil melayang menampar pelan pipi Bara. "Sadar, woi!"
Sontak Bara salah tingkah dengan mencoba melepaskan diri dari pelukan Ragil dan bangkit dari kasur kemudian melakukan peregangan otot tubuh.
"Lu kenapa dah?"
Bara menggeleng. "Perenggangan otot sehabis bangun itu bagus untuk kesehatan."
Ragil tersenyum kecil. "Maksud gua lu kenapa senyam-senyum lihatin gua tidur?"
Kriet ...
"Ayo sarapan, Mbok Lia udah selesai masak," interupsi Nana.
Bara merasa terselamatkan, dia menghela napas lega. "Nah, bener tuh, ayo sarapan," timpalnya.
Ragil hanya tersenyum kecil sembari menggelengkan kepala.
~oOo~
Suara dentingan sendok pada piring mengiringi kecanggungan di antara Bara dan Nana, sejak tadi tidak ada pembicaraan, tidak seperti biasanya. Bara yang cerewet mendadak bungkam, seakan-akan peristiwa permohonan maaf kemarin membuat dia harus berhati-hati dalam berbicara.
Di meja makan hanya ada mereka berdua saja, Praha sudah pergi bekerja sedangkan Ragil sedang mandi.
Bara berdeham, ia meneguk air hingga tinggal setengah. "Kalau misalnya lu terapi gua, nasib klinik lu gimana?"
Mendengar suara Bara menandakan pria itu sedang mengajaknya berbicara sehingga Nana mendongak. "Ada teman gua yang bisa urus." Nana membalik sendok tanda sudah selesai menyantap sarapannya. "Harus banget terapinya kita tinggal berdua di tempat yang jauh dari keramaian?"
Bara mengangguk. "Gua susah fokus kalau jadwal terapinya tidak intens, takutnya nggak ada perubahan sama sekali."
"Tapi kan gua bisa atur jadwalnya seminggu enam kali kalo lu mau."
"Gua udah pernah coba terapi dengan datang ke klinik gitu bahkan jadwal bertemunya juga intens tapi gak ada perubahan sampai sekarang, emosi gua juga semakin sulit untuk dikontrol." Bara menghela napas. "Gua rasa itu adalah jalan yang tepat tinggal bersama dengan psikolog. Setidaknya lu bisa kontrol dan ingatkan gua jika ngelakukan hal yang salah."
Nana menggigit bibir bawahnya, ia menatap Bara memohon. "Tapi gua takut jika nanti ada hal buruk terjadi sama kita."
"Tenang, gua bukan pecandu seks. Lagian kalau dipikir jika kita tinggal bersama ada hubungan simbiosis mutualisme di dalamnya. Lu bisa sembuhin gua dari trauma, dan lu bisa lupa sama mantan pacar lu yang putus kemarin."
Kalimat Bara barusan membuat Nana tertegun, ia tidak memikirkan soal ini sebelumnya. Putus dari Raja adalah situasi yang sulit, bahkan selalu buat dia nangis di setiap malam sebelum tidur. Lima tahun bukan waktu yang sebentar, sudah terjadi banyak hal dalam hubungan mereka.
Nana masih belum terima dia diputuskan secara sepihak karena alasan yang cukup menyudutkan dirinya. Bukan dia tidak ingin menikah, tetapi perceraian orangtuanya masih cukup membekas.
"Jadi gimana?" tanya Bara yang berhasil menyadarkan Nana dari lamunan.
Wanita ini mengusap hidungnya. "Gimana, ya ...."
"Oke, gua ikut tinggal bareng kalian juga, lagian gua sebagai kakak perlu memastikan adik gua aman," interupsi Ragil yang sudah rapi.
"Tapi kan lu harus kerja, mana lagi jarak dari rumah pantai ke kantor itu jauh," sambung Nana.
"Kan gua bosnya, jadi kalau telat ke kantor juga gak masalah."
"Rumah pantai?" Bara bertanya dengan kerutan di dahi.
Ragil mengangguk. "Rumah pantai letaknya jauh dari keramaian dan untuk bisa sampai di pusat berbelanjaan lu harus lewati jalan sepanjang satu kilo meter. Itu rumah keluarga gua, tempat di mana dulu kami menghabiskan waktu musim panas."