Mereka berempat hanya menghela napas panjang mendengar ucapanku. Aku sengaja tidak berbagi informasi pada mereka. Bukan tanpa sebab, diri ini pernah kehilangan seorang sahabat, Rini. Sangat menyakitkan hati ini. Apa pun tentangku, gadis bermata belok itu tahu. Hanya karena salah paham, semua menjadi hancur. Sepertinya aku trauma jika terlalu dekat dengan seseorang. Ada hal yang mungkin harus disimpan rapat dalam hati. Orang lain tidak perlu tahu, biarlah hanya aku dan Tuhan yang tahu. Aku segera melahap mie ayam yanh ditraktir oleh Fajar. Sungguh ini kesempatan yang sangat langka. "Na, kalo mau tambah lagi," tawar Fajar padaku saat aku menyesap es jeruk nipis minuman favoritku. "Enggak, kayaknya kok kenyang banget, ya. Eh habis ini kelas kita pelajaran apa?" tanyaku pada Bimo yang as

