“Apa kamu juga pakai aplikasi itu, Vin?” tanya Deka.
“E-eh… anu—” Pertanyaan mendadak itu membuat Vinka tidak siap untuk menjawabnya. Dia harus menjawab seperti apa?? “Eh… Bang Deka… kenapa menanyakan itu?”
Deka, sekali lagi, membuat ekspresi serius seperti ada hal penting yang ingin dia sampaikan. Dan Vinka, sekali lagi termakan buaian dan dalam dadanya muncul detakan-detakan cepat yang menggelitik dan tidak perlu.
“Aku….” Vinka mendengarkan Deka cermat-cermat. “Apa kamu—” Detakan dalam dadanya semakin membuat wajah Vinka memerah, terlebih tatkala Deka mendekat dan berbisik dengan suara yang pelan dan menusuk lembut kalbunya.
“Apa kamu… pernah bermimpi jadi laki-laki dan… punya itu?”
Vinka, sekali lagi, sukses melongo geram. “…hah?”
Ah, Deka! Sia-sia saja! Deka dan Vinka saling beradu pandang, lagi. Wajah Deka tampak menantikan jawaban, berbinar-binar seolah menantikan sebuah jawaban. Beda halnya dengan Vinka, yang melongo dengan mulut yang sedikit terbuka, alias cengo.
“Punya… itu?” tanya Vinka. “Bermimpi jadi… laki-laki?”
Deka mengangguk cepat. “Iya! Kamu pernah gak, tidur dengan mimpi diri kamu, tubuh kamu, dan…da— maksudku penampilan kamu… berubah total jadi perem— laki-laki!” Deka mendadak geleng-geleng dengan wajah yang memerah saat mengoreksi kalimatnya. “Maksudku laki-laki! Ka-kamu pernah gak, Vinka?”
Tujuh detik Deka menanti jawaban, dan tujuh detik pula Vinka menampilkan wajah kambing congenya pada Deka. “Ha… haha.” Vinka tertawa canggung, alias tak tahu harus menjawab Deka dengan kalimat yang bagaimana. Dia juga menggaruk kepalanya, hilang akal pada Deka yang tiba-tiba saja menanyakan sesuatu yang tidak biasa.
“Maaf, ya, Bang Deka.” Vinka mengecek ponsel, lebih tepatnya pada jam di ponselnya. “Sekarang sudah waktunya sif kerjaku berakhir.”
“Eh, lho?! Vinka?!” Deka dikagetkan dengan Vinka yang berbalik menuju ruang belakang toko. “Mau ke mana?!”
“Pulang,” jawab Vinka enteng. Sekarang wajahnya sudah datar dan lebih normal dari beberapa waktu lalu. Ah, malah terlihat malas menanggapi Deka. Harapannya juga serasa sudah pupus karena Deka tidak peka. Huh!
“Pulang?! Bukan istirahat makan siang?!”
“Bukan, Bang Deka. Hari ini aku sudah izin sama Bu Nar untuk masuk sif pagi, karena kuliah siangku ada yang dimajukan jadi pagi hari. Makanya tadi aku datang pagi.”
“Eh, tunggu, dulu— Vinka!”
Namun, Vinka sudah masuk ke dalam ruang ganti dan menutup pintunya. Dan Deka tidak mungkin menerobos masuk hanya untuk meneruskan obrolan mereka, kan?
“Vi—” Bibir Deka kembali terkatup. Dia ingin memanggil Vinka, tapi ragu karena rasanya tak sopan memanggil seseorang yang sedang membuka baju di ruangan di depan matamu yang hanya dipisahkan sehelai pintu.
Deka kembali menggeleng, merontokkan bayangan -bayangan tak perlu tentang… yah, pokoknya tentang itu. Akan tetapi, godaan terlalu kuat mendatangi kepalanya. Deka pun adalah lelaki dewasa berumur delapan belas tahun yang sehat secara jasmani—meski entah batinnya sedang tak stabil saat ini.
Deka ini mungkin imajinasi liarnya terlalu kuat, entah pengaruh mimpi tadi malam atau memang otaknya saja yang bermasalah. Buktinya, Vinka yang sedang ganti baju di ruangan terpisah darinya, yang sebenarnya mungkin hanya mencopot topi khas baker serta celemeknya, Deka yang tidak benar-benar melihat figur Vinka yang mencopot seragamnya, sampai bisa “melihat” gerakan tangan-tangan Vinka saat melepas bajunya hingga hanya menyisakan dalaman saja.
“Aaaarrrrrghhh!!” Deka yang berwajah merah terang seperti plat kendaran pejabat itu, lantas berlari keluar dari toko roti meninggalkan teriakan untuk Vinka di ruang ganti, serta untuk Bu Nar dan teman-teman pegawai lainnya.
Dasar, sakit jiwa. Hanya membayangkan perempuan sedang berganti baju saja, wajahnya sudah terlihat kewalahan dan hampir meledak saking merahnya.
Ah, dari awal, mestinya Deka tidak boleh membayangkan hal itu, bukan?
Dasar, sakit jiwa!
***
Keluar dari toko roti dengan teriakan kencang dan wajah yang memerah, wanita yang masih berdiri di bawah terik matahari, di sebelah mobil hitam mahal yang terparkir, menoleh pada Deka dengan wajah terkejut yang masih tampak cantik.
Tiga langkah dari bingkai pintu toko, langkah Deka melambat hingga akhirnya berhenti, saat matanya bertabrakan dengan mata si wanita, yang dalam pandangannya, sedang memandang Deka dengan tatapan aneh.
Deka yang berteriak pun akhirnya bungkam, dia kembali berjalan cepat menghindar dari si wanita yang malah tersenyum canggung menyapa Deka. Apalagi, mungkin si wanita menganggap Deka itu orang aneh, karena berteriak sambil berlari, lalu pakai helm di kepalanya, lagi. Sudah seperti apaan tahu.
Deka berlari ke sepeda gunungnya yang tidak begitu jauh dari si wanita. Deka lantas menaiki sadel, menaikkan standar sepeda, serta sudah bersiap menancap pedal, karena merasakan mata wanita itu masih tertinggal pada punggungnya.
Akan tetapi, Deka malah membuat dirinya malu sendiri, mempermalukan dirinya sendiri karena hampir terjatuh begitu kaki kanannya mengayuh. Menoleh ke belakang, mata Deka bertemu lagi dengan mata si wanita yang tampak khawatir. Deka merasa sangat malu dan canggung.
Terlebih lagi, karena wanita itu terlihat ingin mengatakan sesuatu, seperti, “Apa kamu baik-baik saja?” walau untungnya tidak jadi, karena seorang lelaki mendadak muncul menghampiri si wanita.
Melihat mereka mengobrol, Deka merasa terselamatkan dan lega. Dia lalu mencoba mengayuh lagi, tapi tetap saja pedalnya terasa serat dan berat. Bukan masalah keseimbangan, pikir Deka.
Dia pun turun dari sadel, lalu menurunkan standar sepeda dan berjongkok memeriksa pedal, rantai, dan gir sepeda. Tidak ada keanehan— sampai kepalanya menoleh ke kanan, pada gulungan benang yang melilit gir belakang sepedanya dan tampak sangat kusut.
“Benang… layangan?” gumam Deka, menyentuh gumpalan benang berwarna merah yang terasa kasar. “Ini benang gelasan?” Deka mengembuskan napas. “Tadi, kan, jalannya lewat jalan raya, bukan kebun dan jalan pintas. Kenapa sepedanya bisa tersangkut benang layangan?”
(Benang gelasan adalah benang yang digunakan untuk adu layangan, yang benangnya terbuat dari benang biasa yang diberi lem dan gelas bubuk. Dalam adu layangan, benang gelasan ini dapat memotong benang lain.)
Berjongkok di depan sepedanya, Deka menggerutu sembari menarik benang layangan yang tahu-tahu menyangkut pada gerigi belakang sepeda, yang tak dia tahu di mana tepatnya sepeda gunungnya dapat tersangkut benang layangan.
Ketika sedang menarik dan mengurai gumpalan benang, Deka mendengar bunyi alarm kunci mobil dibuka. Menoleh ke depan, mata Deka langsung disambut oleh kedipan lampu di p****t dan mulut mobil yang seolah menggodanya.
Sepasang kekasih yang dibilang Vinka itu berbincang sebentar dengan masing-masing kaleng kopi instan di tangan. “Oh, jadi si pacar-pacar yang tadi Vinka sebut itu, si lelaki itu? Dilihat dari kaleng kopi, sepertinya habis mampir ke mini market di sebelah toko roti.”
Si lelaki, masih Deka pandangi sepasang kekasih itu dengan tangan yang sibuk menyentuh benang layangan, bersikap layaknya pria sejatu dengan membukakan pintu penumpang bagian depan untuk wanitanya. Namun tiba-tiba, terdengar bunyi nyaring dari saku celana bahannya.
Si lelaki mengambil ponsel yang berdering. Dia tampak membaca nama si penelepon, sebelum akhirnya pamit pada si wanita untuk mengangkat telepon sebentar— tentu setelah mempersilakan pintu mobil yang telah dia buka untuk wanitanya.
Sementara itu, si lelaki berjalan ke arahnya sambil menekan tombol hijau. Deka entah mengapa jadi salah tingkah. Mungkin karena seraya tangannya mengurusi gulungan benang yang menyangkut di gerigi sepeda, mata dan perhatiannya mencuri-curi kepada interaksi si lelaki dan si wanita, sampai takut tertangkap basah memperhatikan mereka berdua.
Deka semakin gugup karena tempat si lelaki bersetelan formal dan rapi itu menerima panggilan telepon, hanya beberapa langkah di sebelahnya. Namun, si lelaki terkesan tak terlalu mempedulikan kehadiran Deka yang sedang berjongkok di sebelah sepedanya, karena terlalu serius dengan panggilan telepon.
Deka pun akhirnya menyibukkan dirinya pada gulungan benang yang tidak kunjung lepas juga, sampai telinganya tak sengaja menangkap suara si lelaki.
“Aisu lagi?” ucap lelaki itu.
Deka mengernyit dalam, mencuri dengar perbincangan tersebut. Ai...su? Aisu?
“Mahasiswi satu itu kenapa bermasalah sekali? Merepotkan saja!” geram si lelaki, yang lantas mematikan telepon dan bergegas kembali ke mobil. Membuka pintu, masuk ke belakang kemudi, dan menancap gas menuju ke tempat yang Deka tak ketahui.
Setelah mobil yang membawa sepasang kekasih itu pergi dan hilang dari pandangannya, Deka menoleh pelan-pelan, masih was-was kalau p****t mobil belum berbelok di ujung jalan.
“Aisu?” ucap Deka. “Ai…su? Aisu?? Kok, namanya kayak gak asing?”