Setelah mobil yang membawa sepasang kekasih itu pergi dan hilang dari pandangannya, Deka menoleh pelan-pelan, masih was-was kalau p****t mobil belum berbelok di ujung jalan.
“Aisu?” ucap Deka. “Ai…su? Aisu?? Kok, namanya kayak gak asing?” Deka tanpa sadar sudah mengernyit dan memikirkan nama tersebut selama belasan detik. Dia baru tersadar ketika beberapa pejalan kaki melintasinya. Deka menyudahi usahanya mengingat-ingat nama yang menurutnya tak asing itu, yang seperti pernah dia dengar di suatu tempat tak beberapa lama lalu.
Melirik gir kecil sepeda belakangnya masih dihinggapi gumpalan benang layangan, Deka menggerakkan tangannya kembali bekerja. Dia mesti buru-buru pergi ke kafe Dinolatte. Deka menarik untaian demi untaian benang, tapi sayang mereka sudah saling melilit dan mengunci hingga sulit dilepas.
Yang ada malah jemari Deka memerah dan membekas garis-garis bekas benang. Yah, namanya juga benang gelasan. Tajam dan perih jika tersayat pada jemari. Deka tahu, karena waktu kecil dulu, dia pernah ikut main layangan dengan Diksi, walau selalu membuatnya menangis dan melarang Deka untuk ikut serta.
Deka memutuskan berdiri dan berjalan kembali ke toko roti. Pada Bu Nar yang sudah duduk di belakang kasir lagi, ketika ditanyai mengapa dirinya belum berangkat juga, Deka hanya tersenyum dan meminta korek gas. Bu Nar bertanya lagi kenapa Deka mencari korek gas. Deka hanya menjawab benang, yang malah membuat Bu Nar semakin penasaran, kemudian pergi ke belakang toko untuk meminjam korek pada Reyo yang perokok aktif.
Walau sempat diancam mengambek dan tidak mau berangkat kerja jika Deka tidak mengembalikan korek gasnya, Reyo tetap memberikan korek gas yang isinya sudah tinggal beberapa tetes saja, membuat Deka menghela napas dan menatap Reyo jengah. Deka lantas pergi saja, tidak menghiraukan rekan-rekannya yang bertanya kegunaan korek tersebut seperti Bu Nar barusan. Ah, tentu dengan rasa penasaran atas teriakan Deka beberapa waktu lalu yang kedengaran sampai ke dapur toko, yang kata mereka seperti teriakan perempuan.
Keluar dari toko roti, Deka segera menyalakan korek, memantiknya, dan membakar habis benang-benang merah yang sempat membuatnya hampir marah. Gumpalan benang tersebut kian terbakar dan meliuk kepanasan, bentuknya semakin habis dan menciut, sampai akhirnya sedikit lelehan plastiknya terjatuh ke trotoar.
Setelah salah satu sisi gumpalan dibakar, benang tersebut dapat dicopot dengan mudah. Deka segera membuang gumpalan benang yang ternyata tak seberapa banyaknya itu—tapi membuatnya kesulitan—untuk dibuang di tempat sampah umum terdekat.
Selepasnya, Deka tidak menuruti perkataan Reyo untuk mengembalikan korek gas yang isinya sudah sekarat itu. Deka tidak membuangnya juga. Dia mengantunginya di saku celana. Segeralah Deka menarik stang sepeda, berlari sedikit sambil menuntun stang, mengambil ancang-ancang dengan menoleh ke kanan dan ke kiri jalan raya dengan maksud melihat keramaian kendaraan, kemudian langsung melompat ke atas sadel dan mengayuh sepeda gunungnya cepat-cepat ke kafe Dinolatte.
Ada uang yang harus dia ambil. Dan mengingat uang tersebut, Deka juga teringat oleh Bunda, dan tentu saja dengan biaya rumah sakit yang mesti dilunaskan….
***
“Mati kamu, Val, di tanganku hari ini!”
“Wo-woi, Neng! Kalem, dong! Pan, bisa diomongin baek-baek! Neng Aisu!”
“Buat apa pakai mulut, kalau pakai tangan lebih manjur?!”
Swiiiiiing— bodi gitar sudah Aisu ayunkan, lalu—
Brakkk!
“Bujug busrak! Enyaaaaak!!”
Noval memeluk kepalanya. Dia berdiri meringkuk, menggunakan kedua tangan tebalnya untuk melindungi wajah, kepala, dan tubuh bulatnya dari ayunan gitar Aisu. Sebab Noval yakin, meski tubuhnya lebih banyak lemak yang mengakibatkan benda apa pun akan membal jika menghantam tubuhnya, tapi tubuhnya tetap akan merasa sakit jika menerima pukulan Aisu mentah-mentah.
Apalagi yang Aisu pegang itu gitar!
Noval berusaha melindungi seluruh tubuhnya sembari berdiri. Wajahnya bahkan sudah meringis guna menahan rasa sakit yang akan datang nanti. Tetapi, setelah berdetik-detik matanya melihat ayunan gitar Aisu, setelah belasan detik kemudian berlalu, anehnya tidak ada apa pun yang terjadi.
Noval tidak merasakan benda apa pun menghantam tubuhnya. Merasa aneh, Noval membuka mata dan menormalkan ekspresi wajahnya. Dia juga melepas kedua tangan dari kepala. Ketika pandangan kembali memasuki mata, Noval agak terperanjat melihat p****t gitar yang hanya berjarak dua senti dari wajahnya.
“U-uwaaaah!” Noval otomatis mundur dan menutupi kepalanya lagi. “Ngapain, sih, Neng?!” pekiknya panik.
Aisu yang tadi berencana memukul Noval dengan gitarnya, mendadak menghentikan ayunan pukulannya ketika tubuh gitar milik papanya hampir mencium kepala Noval. Sekarang, melihat Noval masih berwaspada sembari menjauh darinya, Aisu menurunkan gitar dan meletakkannya di atas meja lonjong ruang klub musik.
Dengan wajah songong dan merasa yakin dirinya sudah menang padahal belum terjadi apa pun, Aisu berbalik bertanya, “Kamu, tuh, yang ngapain di pojokan gitu?” Aisu menyeringai. “Takut banget, ya, gara-gara hampir aku pukul? Haha. Kamu ternyata cuma omong besar saja, Noval.”
“Hah, omong besar gimane, maksud elu?! Lu entu bukan hampir mukul gua, Neng! Tapi emang rencana elu, pan, yang mau mukul gua pake gitar rusak punye lu entu!!”
Noval merasa tidak terima karena Aisu memutarbalikkan fakta. Atau, hanya sekadar merasa tak ingin kalah dari wajah songong Aisu yang tampak merendahkannya, walau memang hanya bercanda. Atau… Noval sedang menyembuyikan rasa khawatir dan paniknya yang bercampur rasa lega karena Aisu tak benar-benar memukulnya barusan.
Aisu merapikan jaket kulit spesialnya, yang sungguh pilihan tepat baginya untuk memakainya hari ini. Aisu merasa sangat keren dan rasa percaya dirinya meningkat drastis. Dia mengambil gitar milik Papa setelah mencangklong ransel kulitnya.
Sebelum pergi dari ruang klub musik, Aisu tersenyum dengan maksud mengejek Noval. “Heh,” dengusnya.
“Kagak, lah! Udeh gile, lu, Neng?!”
Aisu berbalik pergi dengan senyuman percaya diri penuh, bahwa dirinya telah menang dari Noval dan teman-teman kurang ajarnya, walau bahkan Aisu belum mendaratkan pukulan serius pada Noval.
“Bilang saja kamu takut aku gebuk,” ucap Aisu, menoleh ke belakang pada Noval dari bingkai pintu.
“Eh, woi, Neng! Mau ke mane lu?! Neng Aisu!!”
Lantas Aisu pergi meninggalkan Noval dari ruang klub musik. Langkahnya begitu percaya diri, dan perasaannya terasa lebih baik dari beberapa waktu lalu. Melihat langit yang terang walau berawan pun, Aisu merasa, sepertinya hari ini akan menjadi hari yang baik.
“Ah, hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan.” Aisu berjingkrak-jingkrak seraya berjalan menenteng gitar rusak milik Papa yang akan dia bawa ke toko alat musik yang dikatakan Noval.
***
“Hihihihi.” Sebuah suara yang serak, dalam, kering, dan melengking yang tidak enak didengar itu tertawa. Tubuhnya melayang di atas langit seperti biasa. Sayap hitam bak sayap kelelawar namun lebih besar dan terdapat duri besar menyerupai tanduk kecil itu, membentang luas di langit.
Sosoknya menciptakan sebilah bayangan bergelombang yang tampak aneh dan menyeramkan di tanah, di atas kepala orang-orang, di atas kolam air taman kampus, serta di atas pepohonan rindang. Namun, tetap tidak ada sesiapa pun yang menyadari kehadirannya, bahkan merasa aneh pada bayangan yang tercipta di tanah.
Akarabahni, sosok hitam bersayap itu, sekali lagi tertawa dengan suara yang terdengar seperti tokoh jahat dalam sebuah cerita heroik.
“Menyenangkan?” katanya, dengan mata yang menatap tubuh Aisu yang berdiam di pinggir jalan menunggu angkutan umum lewat. “Menyenangkan? Hari yang menyenangkan, katamu? Hahahaha!”
Wajah hitam Akarabahni yang sedang tertawa, lantas berubah datar dalam sepersekian detik waktu. Tatapannya pun berubah sinis dan tampak sangat membenci sesuatu.
Dia menaikkan salah satu tangannya, “Baiklah, wahai Manusia Sombong. Kita lihat, sampai mana kau bisa mempertahankan rasa percaya dirimu itu,” lalu— ctik!
Akarabahni menjentikkan jemarinya. Sesuatu yang buruk lantas terjadi.