50. Aisu dan Sentimental Value

1268 Kata
Aisu berbalik pergi dengan senyuman percaya diri penuh, bahwa dirinya telah menang dari Noval dan teman-teman kurang ajarnya, walau bahkan Aisu belum mendaratkan pukulan serius pada Noval. “Bilang saja kamu takut aku gebuk,” ucap Aisu, menoleh ke belakang pada Noval dari bingkai pintu. “Eh, woi, Neng! Mau ke mane lu?! Neng Aisu!!” Lantas Aisu pergi meninggalkan Noval dari ruang klub musik. Langkahnya begitu percaya diri, dan perasaannya terasa lebih baik dari beberapa waktu lalu. Melihat langit yang terang walau berawan pun, Aisu merasa, sepertinya hari ini akan menjadi hari yang baik. “Ah, hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan.” Aisu berjingkrak-jingkrak seraya berjalan menenteng gitar rusak milik Papa yang akan dia bawa ke toko alat musik yang dikatakan Noval. Aisu memutuskan naik kendaraan umum, karena toko alat musik yang—dia todong informasinya dari—Noval, berjarak satu kilometer. Memang tak seberapa jauh, mungkin hanya lima sampai sepuluh menit jika berjalan kaki ke sana. Tetapi, Aisu dikalahkan oleh sengatan matahari yang terasa membakar seluruh tubuhnya. Maklum saja, dia memakai pakaian serba hitam yang menyerap panas matahari. Angkot menjadi pilihannya. Agak ramai, tapi yang penting tubuhnya terlindung dengan atap angkotm walau berdesakan juga. Perjalanan selesai lebih cepat, mungkin karena angkotnya penuh jadi tidak perlu mengetem lagi di setiap dua meter roda mobil bergulir. Setelah membayar sejumlah uang pas, Aisu turun. Sebuah toko bercat hitam mengilap yang terbuat dari kayu yang dipernis, menangkap perhatian Aisu. Aisu membaca papan nama toko yang ditempelkan sebuah gitar replika di sampingnya, tidak menyangka jika di dekat kampusnya terdapat toko alat musik. Padahal, sudah hampir dua tahun Aisu kuliah di sana, tapi kenapa dia baru pertama kali lihat dan tahu soal keberadaan toko alat musik itu, ya? “Wah, besar juga!” Aisu mengintip bagian dalam toko dari kaca-kaca depan yang transparan dan mempertontonkan barisan, jajaran, dan pajangan berbagai alat musik yang mengilat dan cantik dari luar toko, yang seolah akan menggoda setiap pejalan kaki yang lewat dan menyuruhnya untuk mampi, tak peduli kau akan membelinya atau tidak. Dengan sebuah gitar di tangan, Aisu tanpa sadar mengangguk, lau tersenyum, menyudahi rasa kagumnya dan langsung mendorong pintu toko. Wangi harum hutan yang bercampur bau khas barang-barang baru menyambutnya. Senyumnya semakin merekah. Wangi toko alat musik itu memanjakan hidung dan membuatnya merasa relaks. “Hari ini benar-benar akan menjadi hari yang menyenangkan!” pekiknya pelan dan girang untuk dirinya sendiri. Aisu memutar kepala, matanya berbinar melihat berbagai alat musik mulai dari kibor berbagai ukuran, gitar berbagai bentuk dan warna, gitar bersenar empat yang nantinya baru Aisu tahu kalau itu adalah bass, drum berbagai warna dan kualitas, serta berbagai perlengkapan musik lainnya. Lalu matanya bertemu dengan seorang pegawai yang tengah berjaga di sebelah kibor di pojok ruangan. Begitu dia melihat pintu toko terbuka dan Aisu masuk membawa sebuah gitar, senyum si pegawai mengembang, bercampur antara senang atau hanya sebatas senyum bisnis saja. Menghampiri Aisu yang juga melangkah mendekat padanya dengan malu-malu, lelaki itu menyapa dengan semangat, “Halo, Kak, selamat siang. Lagi cari apa? Bisa saya bantu?” “Ah… itu—” Aisu menunjukkan gitar di tangannya, menghadapkan sisi depan yang terdapat senar-senar yang saling putus dan meringkel pada si pegawai. “Di sini bisa memperbaiki gitar yang kayak gini?” tanya Aisu, khas sekali orang awam yang tak tahu menahu perihal musik, alat musik, pun sebuah gitar. Leher gitar itu dipegang si pegawai saat Aisu menunjukkan gitar papanya, lantas langsung berpindah tangan kepada si pegawai yang berwajah sok serius, seperti sedang menganalisis sebuah permasalahan yang sangat rumit. “Hmmm,” begitu suara dehaman sembari berpikir yang si pegawai keluarkan, sampai membuat Aisu mengeryit, harap-harap cemas pada nasib gitar milik Papa. “Gak bisa, Mas?” tanya Aisu. “Oh,” si pegawai mengangkat wajah, ekspresinya berubah lagi tampak seperti mencoba menjelaskan sesuatu sembari menutup-nutupinya, agar Aisu tak perlu khawatir. Yah, kira-kira semacam strategi supaya Aisu, si pelangggan, dapat percaya pada penjelasan si pegawai hingga akan membeli produk apa pun yang dia tawarkan nantinya. “Senarnya sudah cukup tua, Kak,” kata si pegawai. “Makanya sampai putus. Jarang dimainkan, ya, gitarnya?” tanyanya. “Eh…,” —Aisu mengingat-ingat ucapan Papa soal gitar tua itu yang Papa miliki sejak SMA— “mung..kin?” katanya tak yakin. “Belakangan cuma dipajang saja di ruang kerja, Mas.” “Oh, pantas saja.” Si pegawai memetik senar-senar yang masih bertahan di sana. “Mari, Kak, ke konter untuk lihat senar pengantinya.” Si pegawai berjalan lebih dulu sambil membawa gitar Papa, membuat Aisu mau tak mau mengekori di belakangnya, walau masih tak tahu juga harus bagaimana, karena saat ini adalah pengalaman pertama kalinya ke toko alat musik, Si pegawai dan Aisu saling berhadapan dan hanya dipisahkan oleh kotak etalase besar dan panjang, yang di dalamnya terpajang berabgai macam produk dalam dus kecil dengan varian merek, nama produk, warna dus, dan gambar yang tertera pada bungkusnya, yang semua itu tak Aisu tahu untuk apa gunanya. Aisu hanya bisa mencermati si pegawai yang menjelaskan setiap produk yang disodorkan ke hadapannya dengan wajah d***u dan hanya mengangguk-angguk saja. “Tapi, Kak,” si pegawai akhirnya mulai berpendapat setelah menjelaskan tentang senar yang Aisu butuhkan, “gitar ini saya lihat sudah cukup tua, ya? Keluaran belasan tahun lalu, bahkan hampir dua puluh tahun lebih.” “Iya, benar. Sudah bertahun-tahun lalu, tapi rajin dibersihkan dan dirawat, kok, Mas.” Aisu memegangi kotak dus senar yang tipis, gepeng, dan kecil di tangannya. Dan selama mereka berdua mengobrol alias berdebat, Aisu memfokuskan matanya pada bacaan-bacaan di belakang dus senar. Itu dilakukannya tanpa sadar, karena Aisu memang ingin tahu apa perbedaan senar-senar yang dibelinya, dan mengapa setiap senar memiliki ketebalan yang berbeda dalam satu gitar yang sama. Termasuk ingin tahu mengapa satu benang senar harganya begitu mahal, sedang Aisu membutuhkan empat senar dari dua senar yang tersisa di gitar papanya. Ah, bahkan tiap senar yang dia beli pun ada yang lebih mahal dari yang lain. Kata si pegawai, itu pengaruh dari ketipisan dan ketebalan senar. Aisu ingin tahu, apa yang membuat benang gitar itu bisa mahal, sekaligus kenapa tiap benang harganya berbeda-beda padahal masih satu merek yang sama?! “Oh, begitu, Kak? Tapi tetap saja, Kak. Sebaik apa pun cara penyimpanan gitar akustik, serajin dan sebersih apa pun pemeliharaan gitarnya, tetap saja usia kayu gitar tersebut dapat menua,” jelas si pegawai. “Nah, apa Kakak gak mau sekalian ganti frame gitar Kakak saja? Kebetulan bulan kemarin toko kami kedatangan banyak frame gitar terbaru dan bagus. Karena, kualitas kayu gitar itu bisa mempengaruhi bunyi yang gitar hasilkan, lho, Kak. Semakin kuat dan kokoh, semakin nyaring dan bagus juga rambatan suara yang digetarkan kayu bagian dalam gitarnya. Gimana, Kak?” Tuh, kan. Si pegawai akhirnya meluncurkan siasatnya, setelah berkali-kali membuat ekspresi aneh dan mencurigakan. Sekarang pun, si pegawai diam-diam tersenyum manis; antara percaya diri Aisu akan tergiur dan membeli, pun senyum bisnis. Aisu menoleh pada si pegawai, mengangkat wajahnya dari bacaan dus senar. “Hah? Kenapa harus beli?” katanya berbalik bertanya. “...eh?” Si pegawai tak menduga reaksi Aisu. “Ya? Bagaimana, Kak?” “Kenapa harus beli?” tanya Aisu lagi. Dia mendorong empat tumpuk dus senar yang akan dia beli. “Aku cuma butuh senar saja.” Aisu memegang gitar milik papanya. “Gitar ini gak perlu diganti. Frame atau apa pun namanya, kayunya atau apa pun, gitar ini gak perlu diganti— kecuali senarnya saja.” “...ya?” Melihat pellanggan di depannya bersikap tak biasa, yaitu mendadak diam dan tampak sendu, si pegawai jadi mati gaya. Apalagi ketika Aisu bertanya, “Apa kau tahu arti dari sentimental value?” “...eh?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN