Pada ruang lembab dengan lantai jerami itu, dia terduduk dengan tatapan menunduk. Memandangi kaki kotornya yang terikat dengan rantai besi dan terhubung dinding. Ingatannya terus mengulang kejadian yang dia alami beberapa saat sebelum penjaga menyeretnya ke penjara. Tatapan mata emas Zaviest begitu jelas, terluka dan hancur. Penyesalan yang dirasakan oleh Vizena menghantam hatinya hingga babak belur, rasa sakit akibat kehancuran yang merundung Zaviest pun turut dirasakan olehnya. Suara gembok dibuka tak mengusik lamunan Vizena, dia terpekur dan tak berkutik ketika seseorang masuk ke dalam penjaranya yang pengap dan bau itu. "Lepaskan rantainya!" katanya dengan suara tinggi. Penjaga terdiam, mereka hanya saling memandang satu dengan yang lainnya. Bergerak takut-takut, jika apa yang ak

