Tatapan nanar itu tak mampu menyembunyikan kegetiran dalam hati Zaviest. Sebutir air mata jatuh, membuat sebuah jalan untuk yang lainnya. Tangannya gemetar ketika terulur ke depan, menyentuh gaun berwarna biru tua dengan bordiran perak sepanjang kain panjangnya. Gemuruh di hatinya tak bisa teredam, berteriak kesakitan layaknya ribuan jarum kecil menusuk hatinya berkali-kali hingga tak lagi berbentuk. Obat apapun tak ada yang bisa menyembuhkan luka hatinya, atau pun wajahnya yang serasa dikoyak malu. Tangannya terkulai kembali ke sisi tubuhnya, mengepal membentuk sebuah tinju hingga ruas-ruasnya memutih dan urat nadinya menonjol. Dia berusaha untuk menahan segala gejolak emosi yang telah mendidih dan membuat otaknya serasa seperti direbus hingga matang. Zavies menarik nafasnya, berharap p

